Fresh Graduate UI: Gaji Cuma 8 Juta?
Waktu SMA gue pemuja sekolah, yang sekolah tinggi-tinggilah yang bakal sukses lebih tinggi. Yang kuliahnya di jurusan mentereng semacam kedokteran yang paling sukses (gue taunya cuma keodokteran waktu itu. Wkwk) Maap ya, namanya juga orang kurang main, jadi belagu gitu
Setelah SMA, gue gap year dan belajar hal-hal yang ngga gue pelajari di sekolah. Misalnya, how to build personal branding, Internet Marketing, public speaking, etc. Mostly, yang gue pelajari lebih ke arah Internet Marketing (Tapi masih basic banget)
Nah, disana jadi ketemu tuh sama beberapa orang yang sukses di bisnisnya, tapi kebetulan banget gue ketemu sama orang-orng yang punya pemahaman bahwa
Padahal gue waktu itu mau masuk kuliah. Ya, akhirnya gue ter-brainstorming bahwa "IPK itu NGGA PENTING", apalagi tontonan gue di social media aliran para pengusaha yang mereka beranggapan bahwa sekolah tidak mendidik kamu menjadi seorang wirausaha yang sukses, tapi mendidik kamu jadi karyawan yang sukses. Istilah ini sama sekali ngga salah, memang sekolah di desain agar arahnya kesana (Bisa baca buki-bukunya Robert Kiyosaki).
Tapi yang salah adalah GUE. Gue nelen mentah-mentah semua statement itu, dan well gue jadi mahasiswa yang berorganisasi sambil kuliah. Mahasiswa yang dagang sambil kuliah. Itu karena gue nelen mentah-mentah bukunya Robert Kiyosaki yang judulnya, "Why A student work for C student and B student work for Goverment"
Motivasi gue bukan dapet nilai A, tapi dapet nilai C. Ini serius, coba tanya sama temen-temen kampus gue yang sering gue ajak diskusi pas semester 1. Kalau inget, gue ngrasa berdosa banget yaa Allah.
Sekali lagi, bukunya Robert Kiyosaki juga ngga salah. Cuma gue nelan mentah-mentah. Akhirnya gue baca ulang, dan gue paham inti buku itu apa. (Ngga akan gue bahas disini ya)
Singkat cerita masuk semester 2, kenal lebih dalem tuh sama ka Metta Mini. Anak Binus, yang lulus dengan IPK 4.0, tapi dia sukses jadi entrepreneur, aktif organisasi, open minded banget anaknya. Nah gue Auto kaget dong, "Ternyata orang kayak begini ada ya?" wah berarti emang main gue kurang jauh.
Entah kenapa di akhir semester 2, Allah mempertemukan gue sama orang-orang yang serupa dengan kak Metta Mini. Salah satu temen gue beda kampus, IPK juga cumload, anak organisasi sosial, dan punya bisnis yang sukses tapi dia masih bercita-cita jadi Karyawan yang sukses.Terus gue refleksi diri, sadar kalau selama ini jadi orang cepet banget menyimpulkan sesuatu. Dan ngebanggain hal yang gue yakini dan menjatuhkan pilihan orang lain. Yaa bolehlah dikata sombong. Coba deh perhatiin cerita dari gue SMA - semester 1. Mental gue mental anak sombong. (Astaghfirullah..)
Akhirnya, setelah semester 2. Jadilah gue anak yang cukup perhatian dengan mata kuliah, meskipun belum seperhatian yang lain. Gue lebih appreciate sama kuliah intinya. Pengaruhnya juga ke hal-hal lain yang ngga sejalan sama gue, gue juga jadi lebih appreciate.
Terus apa ma kaitannya sama topik yang lagi trending sekarang ini?
Jangan Sombong sama pilihan kamu, stay humble. Gue kenal banyak banget orang yang jadi orang besar, tapi mereka bukan anak kampus favorite, bahkan beberapa ada yang anak DO-an. Gue juga kenal anak dari kampus negeri yaa cukup favorite, IPK nya bagus, dia mau tuh kerja tanpa digaji, buat apa? Karena dia mau belajar. Ah! ngga usah jauh-jauh, Ahmad Dzaky, alumni ITB, anak beasiswa, awal karirnya juga ngga sekaya sekarang, bahkan bisnisnya baru berkembang secara siginifikan setelah 7 tahun.
Terus lagi, perusahaan-perusahaan besar di luar negeri sekelas Google, Alibaba, Facebook. Mereka ngga nerima kamu berdasarkan sekolah kamu, atau karena kamu sarjana. Di Alibaba ada tuh anak SMA (namanya Wu Lanqing) yang diterima kerja disana dengan gaji 240 juta/bulan. Mereka menerima kamu karena skill kamu bukan karena kamu sarjana atau karena IPK kamu. (Tapi terus yang lagi kuliah jangan juga ngga peduli sama IPK dong!)
Kesimpulannya, kalau ngga ngerti tentang pilihan orang lain, pemahaman orang lain. Just apreciate, ngga perlu nyinyirin. Karena pilihan kita, pemahaman kita juga bukan yang terbaik menurut orang lain. Intinya mah, keep open mind! Jangan nyombong mah intinya. Karena kita ngga pernah tau secara pasti masa depan dari semua pilihan kita.
Nah, pola pikir doi ini, sudah bisa ditebak, dibentuk oleh lingkungannya. Makanya, buat beberapa orang yang terlalu demen berkutik sama dunia di luar sekolah, coba deh sekali, dua kali luangin main, diskusi sama anak-anak sekolahan/kampus. Yang demennya cuma di kampus aja, coba deh sekali-kali keluar kampus, diskusi, sharing sama anak-anak di luar kampus, belajar hal-hal yang ngga dipelajari di kampus. Tapi, cari yang pemikirannya juga terbuka. Kalau sama-sama fanatik sama pilihannya, adanya malah debat, berantem dan jatohnya malah lebih fanatik, lebih sombong sama pilihannya.
Semua orang punya peluang sukses yang sama. Mau dia kuliah atau ngga kuliah. Mau kuliah di kampus negeri atau swasta, peluang suskesnya sama. Asal kita bisa buat peluang sukses itu kebuka buat kita. Yang di negeri jangan kelewat bangga karena kuliah di negeri dan yakin banget bis lebih sukses dari anak swasta, rezeki orang kedepan siapa yang tau? Yang di swasta juga jangan bersembunyi di balik kalimat "kita juga bisa lebih sukses dari anak negeri. Kuliah di negeri bukan jaminan sukses," meskipun semua kalimat itu nyata adanya, terus bukan berarti effortnya jadi biasa-biasa aja, terlalu santai dan terlalu mengandalkan kalimat-kalimat "kita juga bisa lebih sukses dari anak negeri. Kuliah di negeri bukan jaminan sukses." Ya mana bisa sukses kalau demennya males-malesan?
Ohiya, kalau mau nulis apa-apa di social media, ati-ati. Sekarang ngga sedikit HRD yang ngecek sosial media buat nentuin kamu lolos atau ngga di pekerjaan yang kamu lamar. Apalagi jejak digital ngga bisa dihilangkan.
Boleh banget dong kritik sarannya, biar kalau gue nulis lebih terkonsep. Feel free to share.