Tentang rezeki.
Ini kejadiannya sudah cukup lama, tepatnya di bulan Oktober 2021 lalu. Saat itu suami belum dapat pekerjaan setelah resign dari perusahaan lama, jadi penghasilan keluarga hanya dariku seorang yang saat itu bekerja dalam keadaan hamil.
Hidup dengan gaji UMR di ibukota tidaklah mudah. Ada banyak pengeluaran yang harus dipangkas setiap bulannya. Bahkan jangankan untuk hedon, untuk biaya hidup sehari-hari tidak kekurangan pun sudah untung. Kebetulan saat itu aku masih punya tabungan jadi kekurangan dari uang bulanan ditomboknya dari tabungan. Fikirku, tak apalah. Toh dipakai untuk biaya hidup sehari-hari bukan untuk foya-foya. Jadi uang tabungan ini rekeningnya terpisah dari rekening biaya sehari-hari. Kebetulan bulan itu, saldo tabungan juga sudah makin menipis dan rasanya hanya cukup untuk nombok satu bulan lagi saja.
Terkadang uang bulanan itu tidak cukup sampai akhir bulan, atau bahkan sampai tanggal gajian pun tidak. Mengingat separuh gajiku habis untuk kostan. Jadi kita hidup dengan separuh lagi gaji, yang seringnya memang tidak cukup. Jadilah biasanya memasuki pertengahan bulan sedikit ketar-ketir apakah uang bulanan bisa sampai ke tanggal gajian atau tidak.
Singkat cerita, memasuki pertengahan bulan seperti biasa keuangan sudah mulai menipis. Selama suami menganggur, aku dan suami memakai kartu ATM - ku untuk kebutuhan sehari-hari. Saat itu suami tahu berapa sisa saldoku, lalu dia bilang, 'yank, kira-kira saldo di rekening cukup sampai akhir bulan ga ya'. Aku memahami kekuatirannya saat itu. Aku pun merasakan itu. Perasaan cemas dan takut setiap kali saldo rekening mulai menipis sementara hitungan hari dalam kalender masih banyak dan masih jauh dari akhir bulan. Namun entah dari mana datangnya, datang sebuah keyakinan dalam diri kalau uang yang ada di rekening bisa cukup sampai akhir bulan nanti.
Dengan mantap ku jawab, 'insha allah cukup yank, udah tenang aja'. Dan saat ku katakan itu aku memang merasa tenang. Entah dari mana datangnya ketenangan itu. Semula aku mengatakan itu supaya suami juga tidak khawatir berlebih. Sementara aku merasa tenang karena saat itu fikirku, Allah ga akan bikin kami kelaparan atau kekurangan apalagi sampai berhutang. Meski hidup kami pas-pasan saat itu, tapi pantang bagi kami untuk berhutang. Atau meminta belas kasihan dari orang tua.
Seperti biasa aku berangkat kerja. Aku sehari-hari bekerja di klinik akupuntur, mengasisteni dokter akupuntur. Hari itu ada satu pasien yang tiba-tiba memanggilku seselesainya tindakan akupuntur. Tindakan akupuntur ini berlangsung antara 15-30 menit tergantung kondisi pasien dan instruksi dokter. Saat itu, aku masih di bed lain saat pasien tadi memanggilku. Fikirku, pasien itu sudah selesai dicabut seluruh jarum akupunturnya, dan mestinya saat ini sedang mengenakan kembali pakaiannya atau merapikan jilbab. Tapi setelah aku selesai memasang elektroda di tiap jarum akupuntur pasien lain, setelah aku ijin ke dokter aku temui jugalah pasien yang tadi memanggil. Karena anggapanku, mungkin ibu itu butuh bantuan untuk melepas jarum yang masih tertinggal. Terkadang sudah teliti pun masih ada saja jarum yang tertinggal karena bersembunyi dibalik pakaian.
Ternyata ibu itu memanggil bukan karena jarum yang tertinggal tapi mau memberiku tip. Selintas aku sempat melihat uang yang dikeluarkan berwarna merah. Mungkin seratus ribu. Sebelum ibu itu berhasil menyelipkan uang tip ke tanganku, dengan halus ku tolak.
Aku katakan pada beliau saat itu, 'mohon maaf ibu saya tidak bisa terima tip dari ibu. Saya lebih senang bila ibu berkenan kembali lagi ke klinik untuk melakukan akupuntur.'
Aku menolak bukan berarti aku tidak butuh. Saat itu jelas aku butuh, fikirku saat itu lumayan kan untuk uang makan beberapa hari. Tapi aku mantap menolak karna memang aku tidak berhak menerima tip itu. Fikirku, insha allah kalaupun aku tolak rezeki dari pasien itu, nanti akan ada rezeki nya lagi untukku.
Benar saja.
Setelah ku tolak uang tip itu, aku dapat info dari HRD untuk mengumpulkan fc ktp dan fc BPJSTK, dan datang ke Bank Mandiri KC Teuku Cik Di Tiro. Aku pun menyiapkan yang diminta HRD, lalu aku diarahkan untuk ke Bank Mandiri. Katanya untuk pencairan BLT. Aku pun ceritakan ke suami saat itu dan suami juga ikut lega mendengar aku dapat BLT.
Keesokan harinya saat aku off aku pergi ke Bank yang dimaksud, untuk mencairkan BLT yang nominal BLT nya juga lumayan. Bisa untuk menyambung biaya hidup sampai akhir bulan. Pertolongan Allah memang dekat, apalagi bila kita berhusnudzan pada-Nya.
Tentang rezeki ini, aku jadi ingat sebuah ungkapan, 'Mungkin kamu tak tahu dimana rezekimu, tapi rezekimu tahu dimana dirimu.. Dari lautan, bumi dan gunung.. Allah memerintahkannya menujumu.. '
Dan itu benar terjadi. Apa yang ditetapkanNya untuk menjadi rezekimu tetap akan sampai padamu sekalipun kamu mungkin menolaknya.
Sejak itu aku selalu merasa tenang hanya dengan memikirkan bahwa Allah menjamin rezeki setiap hamba-Nya.
Tasikmalaya, 08 Maret 2022










