Kontrol kedua
Ini kali kedua dede kontrol ke dokter anak. Awal kontrol , seminggu pasca lahir, dede dapat imunisasi Polio dan saat itu aman aja. Kali ini dede mau imunisasi BCG. Mamanya yang deg-degan, khawatir dede demam atau rewel pasca imunisasi. Tapi kekhawatiran mama ga terjadi. Diluar dugaan, dede pulas tidur seharian, terbangun karena pipis/pup dan ingin nenen. Kata neneknya, dede cuma nangis saat disuntik aja, setelah diberi susu dot dede langsung tenang.
Saat periksa, aku ga ikut menemani neneknya. Karena aku pun sedang kontrol di dokter kandungan untuk pasang KB spiral. Hanya dari cerita neneknya, dede ga rewel sama sekali meski saat diimunisasi itu kondisi dede terjaga. Kontrol bulan berikutnya jadwal dede imunisasi DPT, kali ini bisa menimbulkan demam. Tapi dokternya bilang ada imunisasi DPT yang ga menimbulkan demam hanya beda di harga saja. Bahkan dokter juga menyarankan dede agar diimunisasi anti diare sekalian.
Jadi tulisanku kali ini mau bercerita tentang pilihan dokter anak juga pertumbuhan dede selama kontrol ke dokter anak ini. Mulanya aku disarankan asisten dokter kandunganku untuk ke dokter ini saat lahiran nanti. Singkat cerita aku baru tahu kalau dokter anaknya ini adalah istri dari dokter kandunganku. Dan kebetulan dokter anaknya praktik di RS yang sama dengan dokter kandunganku juga.
Yang ku tahu dokter Heni ini praktiknya di RS Jasa Kartini Tasikmalaya dan Apotek Sentra Medika. Tapi setiap kali kontrol aku selalu bawa dede ke Apotek Sentra Medika karena disana ada ruang khusus menyusui dan bermain anak, jadi dede bisa ditidurkan selagi menunggu antrian periksa. Beliau begitu ramah juga sabar menghadapi anak balita bahkan bayi. Di awal pertemuan kontrol beliau mengajari stimulasi pijat bayi dan membuat dede merasa nyaman sampai tertidur. Selain itu beliau juga sangat detail mengenai pemberian imunisasi, dijelaskan juga mengenai harga dan tujuan imunisasinya. Beliau juga interaktif dalam memberikan informasi tentang kondisi anak pada orang tuanya. Bahkan beliau sangat memperhatikan pertumbuhan pasien anak yang datang kontrol.
Awal lahir, dede Kanaya lahir dengan berat pas-pasan dari batas berat normal bayi lahir. Jadi saat itu dr. Heni, Sp.A mengatakan kalau dede harus naik beratnya dalam sebulan itu 1kg, minimal 800gram. Beliau juga meresepkan vitamin untuk dede setiap kali kontrol.
Wah, PR banget nih buat mama. Gimana caranya bisa naikin berat dede dalam sebulan satu kilo.
Tentu bukan perkara mudah menaikkan timbangan anak sementara mamanya saja termasuk yang sulit menaikkan timbangannya sendiri. Hanya saat itu aku punya keyakinan, selama ASI dede tercukupi mustinya dede bisa mengejar target.
Jadi meski sempat terfikiran mengenai bisa atau tidak mengejar target, yang terpenting adalah dengan terus menyusui. Terlebih dede sejak awal lahir juga sudah diberi sufor, karena saat lahiran ASI masih belum keluar selama beberapa hari. Saat ini pemberian ASI nya lebih sering ketimbang sufor. Sehari sufor diberi saat malam hari saja bila dede masih belum juga tertidur setelah diberi ASI mamanya.
Alhamulillah, sebulan kemudian berat dede betulan naik. Bahkan sedikit melebihi target. Sempat pasrah karna fisik dede masih aja tampak mungil, hanya di bagian pipi sudah sedikit lebih chubby. Ku fikir, berat dede mungkin sampai 3 kg tapi ga sampai targetnya. Tapi ternyata dede naik 1,1 kg. Pertambahan panjang badannya 4 cm dan lingkar kepala pun bertambah 2 cm. Haru dan bahagia rasanya saat tahu pertumbuhan dede sesuai target. Rasanya kebiasaan begadang di malam hari untuk menyusui ada hasilnya.
Keberhasilan pertumbuhan bayi memang bisa tampak dari pertambahan berat badan, panjang badan dan lingkar kepalanya. Kuncinya adalah dengan terus konsisten memberi ASI. Pada praktiknya memang mengASIhi itu tidak selalu mudah seperti yang terlihat, ada banyak ‘drama’ yang menyertai; tapi selama kita yakin bahwa ASI adalah makanan utama dan terbaik untuk bayi, mengASIhi bisa dijalani dengan suka cita dan ikhlas.
Lagipula ibu mana sih yang ga ingin menyusui kalau bisa melihat betapa polos dan menggemaskannya bayi saat disusukan coba?
Tasikmalaya, 11 Maret 2022















