hq boys being motivational!
â do not repost without permission!

Andulka

ellievsbear
sheepfilms
đ©” avery cochrane đ©”
â
untitled

⣠Chile in a Photography âŁ
taylor price
No title available

@theartofmadeline

izzy's playlists!
hello vonnie
todays bird

Product Placement
ojovivo

No title available

No title available

if i look back, i am lost
"I'm Dorothy Gale from Kansas"
The Stonewall Inn

seen from United States

seen from United States

seen from United States

seen from United Kingdom
seen from Italy

seen from Latvia
seen from United States
seen from United States
seen from Ecuador
seen from Poland
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from Malaysia
seen from United States
seen from United States
seen from Italy
seen from United States

seen from United Kingdom

seen from Vietnam
@sweetdream-nightmare08
hq boys being motivational!
â do not repost without permission!
Chibi pillar icons! ⥠Circle ver. under cut.
Keep reading
Pelita dan Gulita yang Bercerita
Sebagai manusia yang hidup dengan berbagai macam kesibukan, saya percaya siapa pun sejak dini telah bersahabat dengan beberapa buku. Saya sendiri sejak kecil, baik membaca maupun menulis, saya selalu mencintainya. Tak pernah saya merasa bosan di perpustakaan apa pun dan di mana pun, baik perpustakaan di sekolah, persewaan buku umum, perpustakaan daerah, maupun perpustakaan di universitas tempat saya menuntut ilmu. Sebagai penuntut ilmu dan pekerja, siapa pun tentu pernah membaca buku dan menulis dalam hidupnya. Kedua aktivitas itu berjalan beriringan bersama dan tak dapat terpisahkan, layaknya sepasang kaki yang melangkah. Bagi saya, membaca buku telah mengantarkan saya menjadi salah satu penulis yang berhasil menerbitkan beberapa karya, baik itu karya fiksi maupun non fiksi. Sebelum saya duduk di bangku SMP, membaca dan menulis saya lakukan dengan santai dan sama sekali tak terbayang bagi saya untuk mempelajarinya lebih serius lagi. Saya memang menyukai pelajaran bahasa selain sains dan seni, namun saya menikmatinya sebagai hiburan dan sebuah kebiasaan belaka.
Sejak saya menjadi siswi SMP, mendiang ayah saya menderita sakit stroke dan darah tinggi, hingga perlahan-lahan merenggut kekuatan dan kesehatan tubuhnya. Sejak itu ekonomi keluarga berubah makin sulit, hingga saya berpikir saya perlu melakukan sesuatu untuk membantu perekonomian keluarga. Karena saat itu saya masih sibuk dengan kegiatan sekolah, dan belum mendapat ijin keluarga untuk bekerja atau melakukan suatu bisnis yang bisa dilakukan pelajar, maka saya memikirkan suatu aktivitas yang tidak membutuhkan banyak uang namun dapat menghasilkan uang. Syarat berikutnya, aktivitas tersebut tidak boleh menyita waktu saya sebagai seorang pelajar. Setelah membaca banyak dari internet, saya pun memutuskan bahwa menulis adalah salah satu aktivitas yang sangat memenuhi kriteria-kriteria saya tersebut. Di rumah kami sudah ada laptop. Benda ini digunakan untuk mengerjakan tugas-tugas sekolah saya dan tugas perkuliahan kakak saya. Inilah satu-satunya alat yang saya perlukan untuk menjadi seorang penulis. Kemudian, saya membutuhkan materi untuk mendukung tulisan saya agar dapat menghasilkan uang. Maka saya memerlukan buku dan bacaan, baik fiksi dan non fiksi. Bacaan non fiksi menurut saya lebih mudah ditemui di internet karena bahkan berita telah menjadi salah satu bacaan non fiksi. Saat itu keluarga saya juga masih membeli koran bentuk cetak. Karena keuangan keluarga yang sulit, saya tidak dapat sembarangan meminta dibelikan buku fiksi sebagai materi pendukung saya dalam menulis, maka saya putuskan untuk membaca di toko buku. Saya mencari beberapa buku fiksi yang tidak bersegel sebagai materi tulisan saya. Salah satunya yang paling saya ingat dan paling saya suka hingga saya cari bukunya lagi, adalah kumpulan cerpen Tales From The Dark terbitan Gramedia Pustaka Utama yang ditulis oleh Christina Juzwar dan kawan-kawan. Sejak awal, cover buku ini telah menggoda saya dengan warna biru malamnya yang mendominasi. Kemudian, judulnya sendiri berputar-putar menggelitik di kepala saya. Saya pun tergoda untuk mengambil dan membacanya. Sejak kecil, saya memang sudah kecanduan cerita horor, dongeng, maupun fantasi. Bahkan menonton film pun saya lebih memilih salah satu dari ketiga genre tersebut. Saya membaca cerita pertama karangan Christina Juzwar dalam buku itu, dengan judul My Halloween Costume hingga selesai. Kemudian saya meletakkannya pada rak tempat buku itu dipajang. Sejak itu, kedua mata saya seolah terbuka lebar seperti habis disadarkan dari tidur panjang. Cerita pertama yang bahkan sudah menyuguhkan twist ending tersebut telah mengajarkan saya bagaimana cara menjadi penulis yang karyanya dapat dilirik oleh penerbit. Selain bersyukur dapat membuka mata lebar-lebar, dari buku tersebut saya juga menemukan nama-nama penulis luar biasa yang kemudian saya undang untuk berteman pada Facebook dan Twitter. Tidak cukup hanya dengan itu, saya mencoba berinteraksi dengan mereka secara nekat. Saya mengirimkan pesan pada mereka menanyakan tentang cara menulis serta meminta tips menulis untuk pemula. Dengan ramah dan sabar, mereka bersedia menjawab dan membagi beberapa ilmunya pada saya. Sejak itu, saya mulai menulis banyak cerita hingga saya tak dapat mengingat persisnya judul dan jumlah cerita yang sudah saya tulis. Saya mengikuti berbagai perlombaan dan event menulis siapa pun penyelenggaranya.
Kemudian saya membaca lebih banyak buku dan menemui banyak kisah luar biasa, baik dari penulis-penulis lokal maupun internasional. Semuanya sangat menarik. Masing-masing penulis menyajikan cerita dengan ciri khas masing-masing. Konflik yang mereka ciptakan pun sangat mengagumkan. Touché: Alchemist yang ditulis Windhy Puspitadewi dan buku pertamanya yang berjudul Touché juga membuat saya berdebar-debar, dengan kisah teenlit-nya yang dibumbui misteri dan berbagai ilmu pengetahuan yang halus. Frans dan Sang Balerina yang ditulis Kanti W. Janis juga telah membuat sentakan besar yang mewarnai bacaan saya dengan kisah seorang balerina yang diuji kesetiaannya, baik pada balet maupun pada orang yang dikasihinya. Buku ini juga menyuguhkan ending yang termasuk mengejutkan saya. Buku Catatan Josephine hasil karya Agatha Christie pun membuat saya tegang saat membacanya karena bau misteri yang sangat kuat, hingga membuat saya mencari informasi tentangnya dan menemukan fakta gelarnya sebagai Ratu Misteri. Kemudian saya sangat menikmati kisah-kisah Natal penuh kehangatan dari kumpulan cerita non fiksi Mamma Mia! Bouquet of Love. Buku ini berhasil saya menangkan dari giveaway yang diadakan penulisnya sendiri, Kezia Evi Wiadji. Lalu saya juga berhasil mendapatkan buku gratis The Silkworm, karya Robert Galbraith dari event Gramedia beberapa tahun silam saat peluncuran cetakan pertama buku tersebut. Saat itu saya sangat senang dapat memiliki cetakan original dari salah satu penulis internasional favorit saya, J.K Rowling. Terlebih buku ini ber-genre misteri, dan cara pelaku dalam mewujudkan tindakan kriminalnya sangat mencengangkan. Tidak lupa dengan buku Seperti Sungai Yang Mengalir karya Paulo Coelho, yang membuka lebar-lebar pandangan saya terkait kehidupan. Beberapa bacaan ini adalah buku Gramedia Pustaka Utama yang sangat berkontribusi membentuk saya menjadi diri saya yang sekarang, yang lalu, dan yang akan datang. Mereka meninggalkan kesan kuat dan mendalam yang telah mengubah pola pikir saya, dengan menjejalkan ilmu akademis maupun non akademis yang menarik. Namun tentu saja, buku yang memberi pengaruh paling besar dalam kemampuan saya berimajinasi adalah Harry Potter karya J.K Rowling, dan buku-buku lainnya yang berkaitan erat dengan dunia Harry Potter seperti The Tales of Beedle The Bard. Sejak itulah saya merasa dapat menemukan dunia lain dari sebuah buku. Saya pun tergerak untuk menciptakan dunia versi saya sendiri dengan menulis.
Kemudian saya mencoba mengirimkan salah satu cerpen karya saya kepada salah satu penerbit tanah air yang menerima karya fiksi dengan jumlah kata dan halaman yang lebih ringan dari penerbit pada umumnya. Saat itu saya menginjak kelas 1 SMA, dan penyakit mendiang ayah saya semakin parah. Namun yang tidak saya sayangkan, kabar bahwa karya saya tersebut lolos terbit baru sampai saat saya menghadapi kelulusan SMA, di mana mendiang ayah saya telah meninggal. Saya tentu sangat senang setelah sekian lama berlatih, saya berhasil menerbitkan sebuah karya berbentuk buku cetak untuk pertama kalinya. Saya memberi tahu ibu, kakak, dan teman-teman namun saya sangat menyayangkan saya tidak sempat memamerkan bukunya pada mendiang ayah saya. Bahkan saya tidak sempat membantu perekonomian keluarga dengan menghasilkan uang melalui menulis, karena tujuan spesifik saya menerbitkan karya adalah untuk membantu biaya berobat mendiang ayah saya saat sakit. Sejak itu saya mulai dapat mengumpulkan uang sendiri untuk membeli buku, baik dari toko buku maupun pameran atau bazaar buku. Memasuki status sebagai mahasiswa, saya makin menyukai menulis dan membaca. Karena kesibukan perkuliahan dengan deadline tugas dan menumpuknya jadwal ujian, menulis dan membaca buku fiksi menjadi terapi yang membuat waktu me time saya menjadi lebih berarti. Saya semakin rajin mengunjungi bazaar dan pameran buku, bahkan saya pernah mencoba membuka jasa titip dan berhasil mendapatkan orderan. Saya juga sudah cukup puas dengan menghabiskan waktu di perpustakaan daerah saat libur kenaikan semester.
Namun begitu lulus kuliah, terutama setelah keluar dari pekerjaan pertama saya, saya merasa membaca dan menulis karya fiksi menjadi sesuatu yang hambar dan membosankan. Hal itu semakin menjadi-jadi saat pandemi COVID melanda Indonesia. Saya merasa kehilangan diri saya sendiri. Berbagai inspirasi dan ide menulis yang sudah saya kumpulkan tak mampu saya wujudkan menjadi sebuah karya yang dapat diterbitkan, terbengkalai begitu saja dalam laptop. Saya sama sekali tak mampu mencecap rasa dari mereka. Buku-buku fiksi di rumah yang belum selesai saya lahap pun bertumpuk murung. Namun meski saya memaksakan membaca kembali ringkasan ide menulis dan buku-buku fiksi yang saya miliki, saya cepat lelah dan bosan lalu buru-buru meletakkan mereka seperti tidak tahan melihat tulisan-tulisan itu. Saya pun sadar, saya seperti itu karena saya kesepian dengan kondisi social distancing. Ketetapan pemerintah itu telah membatasi interaksi saya dengan teman-teman dan kenalan saya. Biasanya saya menceritakan beberapa buku dengan teman dekat saya, atau pengalaman suka maupun duka kepada mereka. Benar. Kehambaran itu terjadi karena saya tidak berinteraksi lagi dengan orang lain. Saya sudah lama tidak bercerita dan menerima cerita dari orang selain keluarga yang saya temui di rumah. Rupanya hal tersebut dapat memengaruhi kekayaan kata dan rasa dalam menerima dan memberi cerita. Imajinasi saya pun semakin tumpul karena dirundung frustasi dan tekanan akibat semua keterbatasan dari pandemi COVID. Menerima dan memberi cerita melalui pertemuan secara langsung dan melalui media sosial tentu menciptakan perbedaan rasa dari aktivitas tersebut, karenanya saya sempat menghindari menulis dan membaca karya fiksi.
Kemudian memasuki pertengahan tahun 2020, saya mulai mencoba meraih kembali buku-buku yang belum selesai saya jelajahi kisahnya. Saya mencoba membaca dua halaman, lalu jika bosan saya coba berpindah pada judul yang lain, dan jika saya lelah maka saya mengambil istirahat beberapa hari dari buku dan tulisan sesuai dengan kondisi saya. Saya kembali dapat menulis cerita dan menerbitkan sebuah karya bentuk kumpulan cerpen e-book yang ditulis bersama beberapa penulis lain. Kemudian saya juga mengikuti Gramedia Writing Project yang membantu saya berkomitmen menyelesaikan sebuah novel. Meskipun novel saya tidak terpilih untuk diterbitkan namun saya sama sekali tak menyesal mengikutinya. Saya justru bersyukur, karena event tersebut juga telah membantu saya kembali mencintai membaca dan menulis karya fiksi. Awal tahun 2021 saya kembali menemui kehambaran dalam menulis dan membaca karya fiksi, namun kemudian saya mencoba membaca buku-buku di rumah yang belum selesai saya jelajahi. Saya kembali membaca Touché: Rosetta bersama buku-buku lain, dan menemukan kembali keasyikan membaca serta keinginan untuk menulis. Benar, saat itu saya sempat tersesat. Namun saya telah berhasil menemukan jalan pulang menuju membaca dan menulis.
Oh iya. Saya lupa menyebutkan bahwa seri Goosebumps karya R.L. Stine yang sangat populer sebelum saya menjadi siswi SMA juga berkontribusi besar, tentunya dalam membangkitkan minat saya menjelajahi serta menciptakan dunia horor dan fantasi sebuah buku. Saya masih ingat karya itu sangat fenomenal sebelum saya mengenal Harry Potter. Saya sendiri selain tergila-gila dengan filmnya yang ditayangkan di salah satu saluran televisi swasta, saya juga sudah memburu buku-buku itu dengan meminjamnya dari perpustakaan sekolah saya. Banyak kisah dari Goosebumps yang menyajikan twist ending yang menakutkan, salah satunya yang paling saya ingat adalah Jauhi Ruang Bawah Tanah. Ending yang sangat mencengangkan dan menggantung dari cerita tersebut membuat saya ketakutan sendiri karena menyangkut misteri dari salah satu anggota keluarga tokoh utama yang belum terpecahkan. Kisah-kisah lain dari Goosebumps tentu tak kalah mengerikan dan mencengangkan dari judul yang saya sebutkan itu. Buku ini masih menjadi favorit saya sampai sekarang karena gaya bahasanya yang ringan dan mudah dimengerti, namun terkesan sopan dan tidak menggurui. Selain itu R.L Stine berhasil menyusun segala unsur cerita dengan komposisi yang baik dan pas untuk anak-anak dan remaja.
Perjalanan hidup setiap orang tentu tidak akan lepas dari buku dan karya yang dirangkai menggunakan kata-kata. Kata-kata itu membentuk tulisan utuh yang memainkan logika dan rasa pembacanya. Saya merasa sangat beruntung dapat mengenal banyak buku dan penulis yang luar biasa melalui Gramedia Pustaka Utama, dan saya percaya berikutnya saya akan menemukan lebih banyak buku dan penulis unggul dari penerbit ini. Dari buku, kita menabung banyak ilmu dan pengalaman berharga yang dapat dibagikan dengan orang-orang sekitar kita. Bersama buku kita menghadapi pahit dan manisnya kehidupan. Selamat mencari dunia dalam buku!
âAda kalanya saat kita tidak melakukan kegiatan apa-apa, kita melakukan satu hal yang amat penting bagi diri sendiri: mendengarkan apa yang kita dengar dari diri sendiri.â â Paulo Coelho, Seperti Sungai Yang Mengalir
February 2020 Illustrations ăœ(âą âż âą)ă
Sudah cukup. Aku lelah. Aku lelah dengan drama dari dia. Aku bahkan sudah nggak merasakan aku masih punya kehidupan. Aku kehilangan semuanya. Biarlah aku menyebrangi sungai itu.
I need!
Please!
This is ME turned 2 today!
â Get to know Naruseis  â
Favorite Male Character: Shounen (4/5) Ciel Phantomhive ( ă·ăšă«ă»ăăĄăłăă ăă€ăŽ )  â Kuroshitsuji
10 COLORFUL DAYS [hanae-ichihara]
Day 01: A Black Haired Character
âł Sebastian Michaelis {Kuroshitsuji}
Source: Black Butler Character: Grim Reapers Costume & Wig: http://goo.gl/ulG0JV
From the â90s on, now and forever more.
Ciel Phantomhive -Figure design- by Yana Toboso
*Transparent*
Who wouldâve thought what these characters are capable of?!
In that manor, through the halls of which a spectre called a serial murderer was prowling, he smiled the incredibly innocent smile of a child.Â
And one cannot exist without the other.
Vincent Phantomhive | Episode 8