Di tampar-tampar kenyataan
Sampai sadar laranya tak akan pernah redam
Lebam-lebam sekujur raga
Tak berarti apa-apa dibanding sebaris luka tak kasat mata
Lalu aku mencoba menemui si penyembuh luka
Namun apa daya. Katanya tak pernah ada obat untuk si pecundang rasa
Lalu beralih merapalkan mantra guna-guna
Hasilnya tak jauh beda
Masih sakit tak kunjung reda
Lalu aku menyerah, pada pencipta duka tak ada habisnya
Kamu tau, aku menyerah pada siapa atau pada apa ?
Aku menyerah pada "KITA"














