Jika rindu adalah makhluk, maka ia adalah makhluk yang selalu begitu kesepian. Butuh ditemani, butuh didatangi, butuh diisi. Bagai wadah kosong.Seperti itulah mungkin ia tercipta sebagai salah satu rasa dari seorang manusia seperti kita. Dibanding rasa pada makanan, ia jauh mungkin selalu lebih akrab bersama kita. Menemani pada tiap sapuan jarak, mendatangi saat momen kehilangan, dan bahkan mungkin lebih agresif menjerat ketika telah menjadi masa lalu.Rindu juga seperti mesin waktu, selalu membawa kita kemanapun bahkan terbawa mimpi atau membuat sampai berlinang rindu. Ajaib. Bagiku, aku mungkin tak akan selesai bercerita tentang rindu yang kupunya. Tentu saja menurut versiku. Ia selalu bisa membujukku untuk tak pernah selesai dengannya. Bahkan terkadang menjeratku hingga menjadi sesak yang bersarang dalam dada. Baik karena seseorang, sesuatu ataupun kenangan. Namun kita perlu mengaturnya agar berkawan sehat denganku, ya kan? Tidak menjadikannya terlalu berlebihan bahkan menjadi racun akal sehat. Kemudian menjadikan terlalu cinta akan kehidupan bahkan adorable akan makhluk dibanding dengan Allah. Iya benar, ia bisa saja menjelma sebagai musuh atas nama perasaan yang sewajarnya lalu menomorduakan Tuhan. Karena saat perasaan itu jadi plot kehidupan,kita akan hanya akan fokus akan dunia dan penilaian subjektivitas kita.Lalu lupa kemana arah akhir kehidupan ini, yang kita sebut "kampung sesungguhnya". Aku tidak melarang memiliki rindu. Sungguh tidak. Itu wajar. Bahkan aku bisa sebut tak berpèrasaan jika tak pernah merasakannya. Karena akupun punya. Bahkan sudah bilang bahwa aku tak pernah bisa selesai dengannya. Ia seperti ayunan. Naik dan turun melintasi kehidupanku seperti yang lainnya. Tidak pernah menghilang. Baiklah, kalau begitu silahkan mendewasakan diri dengannya dan jangan lupa berkawan sehat bersamanya. Nikmati saja. Asalkan kita mampu jadi "pawang"pada perasaan rindu itu sendiri. :) -SDH- #H17 #30dayswritingchallenge @xyouthgen https://www.instagram.com/p/CHNnJ4gBOMh/?igshid=b632nmd7nlc9











