Kabari, Jangan Lari#2
Ketika kita meminta waktu oranglain, secara nggak langsung kita membuat orang tersebut harus meluangkan waktunya saat ia punya kesempatan melakukan hal penting lainnya. Entah itu berkumpul dengan keluarga, menuntaskan amanah yang lagi dipegang, ngerjain tugas sekolah/kantor dll (Termasuk ketemu pembicara favorit#uhuk).
Lalu, dengan seenaknya kita malah ‘menggampangkan’ pengorbanannya
Ngaretlah, entah semenit dua menit atau bahkan berjam-jam?
Gak bisa hadir karena hal yang insidental mungkin bisa dimaklumi. Asal kita mengabari secepatnya. Bukan malah ngilang gak ada kabar sama sekali, lantas berdalih dengan berbagai alasan. Berharap orang tersebut tidak berprasangka macam-macam.
Emang sih kita diminta keep positif thinking ama saudara sendiri, terutama saya dan siapapun kalian sebagai muslim. Itu salah satu value utama kita. Senantiasa berprasangka baik, tanpa kehilangan daya kritis.
Tapi kita perlu belajar memosisikan diri sebagai orang yang bersedia meluangkan waktu tersebut. Jangan sampai tanpa sadar kita terbiasa ‘playing victim’. Selalu berlasan dan minta dimaklumi karena takut disalahkan (padahal emang salah) bisa bikin kita jadi seseorang bermental ‘korban’.
Karena saya seorang muslim, saya akan membahasnya dengan Islamic worldview kali ini. Sebagai muslim, kita diperintahkan untuk memudahkan urusan oranglain.
Rasulullah saw pernah nyampein:
“Permudahlah jangan dipersulit, bersikap lembutlah dan jangan bersikap kasar”
Beliau saw juga dengan gamblang mencontohkan kita untuk aktif ngasih penjelasan (bukan alasan) agar oranglain gak netting dan malah jadi kepikiran. Maka jangan pernah menggampangkan urusan ini: Always konfirmasi
Selepas episode ‘mengecewakan beberapa orang’ waktu masih PPL itu, aku merasa menjadi manusia paling buruk. Bertanya-tanya ‘kenapa gua gini-gini amat yak?’ Kenapa begitu pengecut?
Alhamdulillah, Allah masih sayang. Negur baik-baik sekaligus tegas mendidik.
Sebagai muslim, aku yang memegang teguh prinsip “pantang berputus asa dari pertolongan-Nya” berdo’a supaya dosen dan guru pamongku gak marah lagi dan masih mau ngasih kesempatan.
Tapi setelah kupikir-pikir ‘gak tau malu banget ya kalo minta kek gitu?’
Boleh sih, tapi jatohnya jadi gak belajar buat berani bertanggung jawab atas setiap pilihan yang kubuat sebelumnya gak sih? Lalu aku mengganti do’aku supaya Allah mau mengampuniku, meminta diaturkan yang terbaik, dan pasrah pada apapun yang akan terjadi sebagai konsekuensinya. Pasrah, gimana Allah aja, lalu berusaha menghubungi dosenku kembali.
Dan Allah membuktikan janji-Nya: Dosen dan guru pamongku masih mau nerima laporan yang telat abis itu dan gak marah lagi >.< Seketika aku pengen nangis, antara malu dan bersyukur. Bertekad untuk gak ngulangin kesalahan yang sama. Gak mau lagi bikin orang jadi ilfil. Lebih-lebih, bikin oranglain kehilangan kesempatan-kesampatan baik dalam hidupnya cuma karena aku PHP#beuh
Insight baru yang kudapat saat itu adalah ‘jangan sombong’. Ketika Allah memperlihatkan betapa lemahnya manusia saat Allah kuasakan atas dirinya rasa mager, pengennya rebahan aja, terjebak di zona nyaman, dan hal-hal semacem itu kala hati lagi lowbat dan berjarak pada-Nya.
Pantas ya ada do’a “Ya Allah.. janganlah kau serahkan aku pada diriku sendiri walau sekejap mata” yang sering dibaca Al Faruq, Umar ibn Khattab.
Sebab pada setiap langkah yang terayun untuk menuju kebaikan, untuk stay lebih lama didalamnya, itutuh bukan cuma by opsi yang kita bisa pilih dalam hidup. Pada apa-apa yang kita gak bisa milih dan diluar kendali diri, nikmat dan karunia-Nya lah yang membantu kita bertahan sampai akhir.
Itu ceritaku di 2018. Nginget2 episod lama yang memalukan kek gini ternyata lumayan efektif ya buat refleksi dan introspeksi diri? Manusiawi ko berbuat salah. Meski bikin kita ngerasa malu, atau bahkan merasa jadi orang terburuk sedunia saking besar dan bertumpuknya semua kesalahan itu, biar sudah. Terima semuanya sebagai bagian dari proses pembelajaran diri. Itu tandanya kita sedang mendewasa.













