aku kembali mengulang-ulang 'mantra' itu; Gak ada malam yang selamanya.
teruntuk kita yang masih terus berjuang dan memutuskan untuk ndak nyerah sama kehidupan hingga saat ini. Proud of us :)
No title available
Cosmic Funnies
official daine visual archive
noise dept.
Cosimo Galluzzi
Keni
đ©” avery cochrane đ©”
Interview Vampire Daily
Cookie Run:Kingdom Official!
ojovivo
PUT YOUR BEARD IN MY MOUTH
YOU ARE THE REASON
Fai_Ryy

bliss lane

Jar Jar Binks Fan Club
h
No title available
todays bird
NASA

No title available

seen from Brazil
seen from United States
seen from United States
seen from Italy
seen from United States

seen from Malaysia
seen from United States

seen from United States
seen from Russia

seen from Malaysia

seen from Malaysia

seen from Belarus
seen from United Kingdom
seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from Israel
seen from United States
seen from Ecuador
seen from United States
@devitw
aku kembali mengulang-ulang 'mantra' itu; Gak ada malam yang selamanya.
teruntuk kita yang masih terus berjuang dan memutuskan untuk ndak nyerah sama kehidupan hingga saat ini. Proud of us :)
Jangan Pernah Katakan âiniâ pas Dicurhati
Ada beberapa hal yang perlu kita hindari. Saat seseorang yang gak biasanya menceritakan kesulitan-kesulitannya, pada akhirnya mau berbagi bebannya pada kita.
Kabar baiknya, ia sedang mencoba percaya padamu :)
Jika tanggapan kita seperti beberapa hal yang akan kusebutkan dibawah ini, ada kemungkinan dia bakal ngeblack-list kita dari daftar orang-orang yang kedepannya bakal dia cuhatin
 Ada yang udah bisa nebak kira-kira apa saja? Lets cekidott! XD
1. Malah Curhat Balik; membandingkan ceritanya dengan ceritamu sendiri atau permasalahan dunia.Â
Aku pernah mengalaminya. Paling males sih kalo udah ketemu orang macam ini heuheu. Padahal kita kan cuma butuh didengar ya? Membagi keresahan kita.
Orang-orang tipe pertama ini biasanya sibuk membandingkan dan mengecilkan masalah oranglain. Rasanya seperti kesedihan oranglain tuh gak ada apa-apanya
 Padahal setiap orang berbeda. Apa yang bagi kita biasa saja, buat oranglain mungkin itu masalah yang berat.Â
Kita gak bisa begitu aja bilang âitu mah gak seberapa, coba bandingkan dengan masalah orang-orang diluarsana yang jauh lebih beratâ. Otomatis yang curhat bakal mikir  âR u kidding?! Ofc the worldâs problem is the biggest oneâ -_-Â
 Woah.. what a good shutt talker. Benar-benar pembunuh mood! Padahal boleh jadi bagi orang yang curhat itu, mencoba terbuka dan berbagi keresahannya aja udah berat bangetÂ
2. Mengatakan âsama ko, aku juga gituâ padahal jelas-jelas kamu gak ngalamin apa yang dia alamin dan gak ada di posisinya
Mungkin ini sekedar kata-kata untuk menunjukan bahwa kita bersimpati pada si pencerita. Tapi percayalah, bukan ini yang ingin ia dengar.
 Apalagi saat jelas-jelas kondisi kalian berbeda
 Menyama-nyamakan malah membuatnya merasa kamu sedang meremehkan masalah yang dia alami. Yang mungkin memang jauh lebih berat dari apa yang kamu bilang âsama ko aku jugaâ itu.Â
Pada dasarnya, orang-orang yang curhat kadang gak butuh pendapat kita. Terdengar menyebalkan memang â_â
Tapi kebanayakn gitu
Percaya deh
Kecuali dia sendiri yang bilang butuh pandangan kita
Dia juga tau kalau masalahnya jelas gak ada apa-apanya dibandingkan permasalahan dunia. Tapi saat sebuah masalah jadi ujian buat seseorang, maka masalah itu memang menjadi titik lemah baginya. Jelas bukan sesuatu yang patut diperbandingkan apalagi diremehkan right?
 Ia cuma perlu didengar tanpa banyak dikomentari macam-macam :D
 Ketika dia menceritakannya padamu, ia jelas percaya kau teman yang baik dan bagi sebagian orang membagi keresahan dengan menceritakan apa yang selama ini ia pendam sendiri bukanlah hal yang mudah.
.....
Semoga kita gak menjadi orang-orang yang salah langkah dan membuat mereka yang butuh bantuan merasa dipatahkan. Entah oleh pandangan-pandnagan sepihak kita atau tanggapan kita yang kurang tepat seperti yang kusebutkan diatas.
Cukup dengarkan baik-baik tanpa berusaha menyela
Tanggapi secukupnya
Kadang, ia cuma butuh didengarkan. Katakan saja:
 âKamu sudah berusaha sampai sejauh ini, gapapa kalau masih gagal. Jangan lupa kamu punya kami. Dan lebih dari itu, kita punya Allah :)â #keut
5 posts!
Memberi ijin
Kadang dalam hidup kita berada pada situasi & kondisi yang terasa memalukan
Terlalu tak pantas untuk diperlihatkan dan dibagikan pada oranglain
Tapi bukan karena hal2 yang literally memalukan
Hanya saja kita sedang tak ingin memperlihatkan sisi lemah kita,
ketidakberdayaan kita
Saat itu, mungkin kita sedang menghadapi situasi dan kondisi yang berada diluar kendali diri
Dan itu sangat wajar
Kita manusia
.
Jika itu sedang terjadi padamu, dan kamu tipe yang lebih suka atau sedang mencoba menyelesaikan semuanya sendiri tapi semua masalah itu tak kunjung usai, mungkin ini saatnya kamu mengijinkan dirimu menerima pertolongan
Ada orang-orang yang begitu mengkhawatirkan kamu yang seolah ditelan bumi
Kamu yang mendadak terasa begitu jauh
.
Memang sulit membuka diri saat segalanya terasa seperti terowongan gelap tak berujung
Kamu bertanya2 dimana batasnya? Berapa lama lagi aku bisa bertahan? Apa yang harus kulakukan?
Dan disaat itu, sulit berprasangka baik pada siapapun, kamu tetap yakin bahwa takan ada seorangpun yang mengerti walau kamu menceritakan semuanya
.
Tapi aku belajar, bahwa kita perlu mengijinkan orang2 yang mau peduli itu untuk masuk
Mungkin gak semua orang bisa relate dan ngasih jawaban yang kita inginkan
Tapi percayalah, akan ada orang2 yang berusaha memahami keadaanmu tanpa banyak bertanya
Tanpa menghakimi
Dan menemukan orang2 itu dalam hidupmu adalah sebuah keberuntungan besar
Keberuntungan yang hanya bisa kamu dapatkan dengan memberanikan diri untuk mengijinkan orang2 yg layak kamu percaya untuk memasuki pintu2mu yang selama ini tertutup rapat
Sebab mempercayai seseorang pasti butuh keberanian besar untuk sebagian orang
Adakah yang sama2 pernah punya trust issue?
Mari mulai dari awal :)
Kabari, Jangan Lari#2
Ketika kita meminta waktu oranglain, secara nggak langsung kita membuat orang tersebut harus meluangkan waktunya saat ia punya kesempatan melakukan hal penting lainnya. Entah itu berkumpul dengan keluarga, menuntaskan amanah yang lagi dipegang, ngerjain tugas sekolah/kantor dll (Termasuk ketemu pembicara favorit#uhuk).
Lalu, dengan seenaknya kita malah âmenggampangkanâ pengorbanannya
Ngaretlah, entah semenit dua menit atau bahkan berjam-jam?
Gak bisa hadir karena hal yang insidental mungkin bisa dimaklumi. Asal kita mengabari secepatnya. Bukan malah ngilang gak ada kabar sama sekali, lantas berdalih dengan berbagai alasan. Berharap orang tersebut tidak berprasangka macam-macam.
Emang sih kita diminta keep positif thinking ama saudara sendiri, terutama saya dan siapapun kalian sebagai muslim. Itu salah satu value utama kita. Senantiasa berprasangka baik, tanpa kehilangan daya kritis.
Tapi kita perlu belajar memosisikan diri sebagai orang yang bersedia meluangkan waktu tersebut. Jangan sampai tanpa sadar kita terbiasa âplaying victimâ. Selalu berlasan dan minta dimaklumi karena takut disalahkan (padahal emang salah) bisa bikin kita jadi seseorang bermental âkorbanâ.
Karena saya seorang muslim, saya akan membahasnya dengan Islamic worldview kali ini. Sebagai muslim, kita diperintahkan untuk memudahkan urusan oranglain.
 Rasulullah saw pernah nyampein:
âPermudahlah jangan dipersulit, bersikap lembutlah dan jangan bersikap kasarâ
Beliau saw juga dengan gamblang mencontohkan kita untuk aktif ngasih penjelasan (bukan alasan) agar oranglain gak netting dan malah jadi kepikiran. Maka jangan pernah menggampangkan urusan ini: Always konfirmasi
Selepas episode âmengecewakan beberapa orangâ waktu masih PPL itu, aku merasa menjadi manusia paling buruk. Bertanya-tanya âkenapa gua gini-gini amat yak?â Kenapa begitu pengecut?Â
Alhamdulillah, Allah masih sayang. Negur baik-baik sekaligus tegas mendidik.
Sebagai muslim, aku yang memegang teguh prinsip âpantang berputus asa dari pertolongan-Nyaâ berdoâa supaya dosen dan guru pamongku gak marah lagi dan masih mau ngasih kesempatan.
Tapi setelah kupikir-pikir âgak tau malu banget ya kalo minta kek gitu?â
Boleh sih, tapi jatohnya jadi gak belajar buat berani bertanggung jawab atas setiap pilihan yang kubuat sebelumnya gak sih? Lalu aku mengganti doâaku supaya Allah mau mengampuniku, meminta diaturkan yang terbaik, dan pasrah pada apapun yang akan terjadi sebagai konsekuensinya. Pasrah, gimana Allah aja, lalu berusaha menghubungi dosenku kembali.
Dan Allah membuktikan janji-Nya: Dosen dan guru pamongku masih mau nerima laporan yang telat abis itu dan gak marah lagi >.< Seketika aku pengen nangis, antara malu dan bersyukur. Bertekad untuk gak ngulangin kesalahan yang sama. Gak mau lagi  bikin orang jadi ilfil. Lebih-lebih, bikin oranglain kehilangan kesempatan-kesampatan baik dalam hidupnya cuma karena aku PHP#beuh
Insight baru yang kudapat saat itu adalah âjangan sombongâ. Ketika Allah memperlihatkan betapa lemahnya manusia saat Allah kuasakan atas dirinya rasa mager, pengennya rebahan aja, terjebak di zona nyaman, dan hal-hal semacem itu kala hati lagi lowbat dan berjarak pada-Nya.
Pantas ya ada doâa âYa Allah.. janganlah kau serahkan aku pada diriku sendiri walau sekejap mataâ yang sering dibaca Al Faruq, Umar ibn Khattab.
Sebab pada setiap langkah yang terayun untuk menuju kebaikan, untuk stay lebih lama didalamnya, itutuh bukan cuma by opsi yang kita bisa pilih dalam hidup. Pada apa-apa yang kita gak bisa milih dan diluar kendali diri, nikmat dan karunia-Nya lah yang membantu kita bertahan sampai akhir.Â
Itu ceritaku di 2018. Nginget2 episod lama yang memalukan kek gini ternyata lumayan efektif ya buat refleksi dan introspeksi diri? Manusiawi ko berbuat salah. Meski bikin kita ngerasa malu, atau bahkan merasa jadi orang terburuk sedunia saking besar dan bertumpuknya semua kesalahan itu, biar sudah. Terima semuanya sebagai bagian dari proses pembelajaran diri. Itu tandanya kita sedang mendewasa.
Kabari, Jangan Lari #1
Hidup bagaikan gema,
Atau seperti saat kau melempar bumerang
Apapun yang kau berikan didalamnya, kan kau dapati ia berbalik utuh padamu
 (Ep.2018)
Pernah merasa gak dihargai?
Ketika kita udah berusaha ngeluangin waktu, bahkan lebih dari seminggu sebelumnya tapi yang punya janji malah telat mengabari untuk membatalkan pertemuan. Atau bahkan gak ada kabar samsek pas hari H. Dan karena menunggunya, kamu harus melewatkan sebuah acara dimana pengisinya adalah orang yang ingin lihat dan temui secara langsung setelah sekian purnama. Pernah?Â
Aku mengalaminya hari itu. Rasanya? jangan ditanya dah, udah kek gado-gado: kesal, marah, bete, campur jadi satu huhu..
Sebenernya bukan soal harus nunggunya kan. Tapi soal waktu berharga dan kesempatan emas yang terlewatkan gegara urusan itu. Berasa pengen nangis sambil salto dah sumpe (tapi gak bisa karena malu lagi banyak orang dan aku gak bisa salto#ptak). Oke tapi serius rasanya nyesek abis -_-
Hingga akhirnya sekelabat memori tentang episode pahit beberapa minggu kebelakang menampar kesadaranku. Episode âkecewaâ hari ini seolah de javu.
Bak bumerang yang kulempar pada orang lain lalu akhirnya berbalik keras ke arahku. Seketika aku teringat episode âmengecewakan banyak pihakâ.Â
Hari itu aku membuat dosen pembimbing PPL menunggu seharian karena gak berani mengabari secara jujur bahwa laporanku belum selesai. Aku udah was-was karena waktunya bahkan melebihi deadline. Juga guru pamong yang pesannya sering telat kubalas dengan alasan baru ada kuota (padahal aku emang kebiasaan slowresp waktu itu). Dan jangan lupakan kawan-kawan sejurusan yang terhambat penyerahan laporannya karena harus dikumpul berkelompok.
Bak digodam oleh peristiwa pahit yang menimpaku ini, aku tersadar. Bahwa semua yang kulakukan kemarin-kemarin itu bukan perkara sepele dimana âaku salah, minta maaf, lalu selesaiâ. Aku malah menghindar dengan dalih dalam hati bahwa: ada-amanah-lain-yang-gak-kalah-penting,gapapalah-telat-dikit-toh-masih-ada-waktu. Ya, aku yang belum bisa menej waktu dengan baik kurang perhitungan waktu itu dengan ikut terlalu banyak kegiatan.
Jelas aku punya opsi untuk jujur pada dosenku, mengabari belum selesai, bilang belum bisa ngadep pagi itu. Lalu perkara balasan chat yang sering telat bahkan berhari-hari, bisa saja aku ikut chat ke temen buat ngabarin guru pamongku supaya gak bikin beliau netting dan bete. Saat itu aku lupa bahwa ada Sebaik-baik Pengatur: Allah, sehingga terlalu pengecut untuk menghadapi konsekuensi dari kelalaianku. Gak mikirin perasaan dan waktu oranglain yang terenggut sia-sia.Â
Dan, yeup, semuanya terbayar kontan! Ketika Allah hadirkan peristiwa PHP itu, baru aku paham kenapa perkara menjaga amanah dan menjadi seseorang yang kredibel itu teramat penting. Apalagi saat kita adalah seorang muslim. Malu oi sama kerudung#hiks
Tunduk tertindas atau bangkit melawan, karena diam adalah pengkhianatan
Ketua Jurusan entah tahun kapan, Osjur 2014
"Jika kamu masih merasa sulit menjadi diri sendiri, mungkin karena kamu belum siap dibenci dan berharap seluruh dunia menyukaimu"
Devi TW