Women in abayas and traditional straw hats – conical witches hats, known as madhalla. Photo by Eric Lafforgue Wadi Hadhramaut, Hadhramaut Governorate, Yemen
seen from United States

seen from Australia
seen from Netherlands

seen from Netherlands

seen from Australia
seen from United States

seen from Türkiye

seen from United Kingdom
seen from United States

seen from Malaysia
seen from United Kingdom
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from Italy
seen from Greece
seen from United States

seen from United States
Women in abayas and traditional straw hats – conical witches hats, known as madhalla. Photo by Eric Lafforgue Wadi Hadhramaut, Hadhramaut Governorate, Yemen
SEIYUN PALACE - The Clay Palace of Baqshan, YEMEN
The goat herding women of Hadhramaut, Yemen.
Jangan (Sampai) Akrab dengan Guru (?)
Akhirnya, aku membuat simpulan sendiri: kagumilah karya seseorang, bukan orangnya. Bila ingin menjadikan orang—dengan karya hebat—itu sebagai guru, tidak berarti harus belajar darinya langsung. Dari karya-karyanya saja sudahlah lebih dari cukup.
Aku pun mengingati diri untuk tidak lagi menjadi norak dengan mencari tahu apapun tentang guruku, apalagi berusaha kenalan dan akrab dengannya. Pengalaman mengajarkanku kalau tindakan itu tidak membuat kekagumanku dan ilmuku makin bertambah, tapi sebaliknya, kekagumanku runtuh-seruntuhnya sebab kepribadian guru-guruku itu tidak sehebat karangan mereka. Aku bahkan dengan ceroboh berani bilang: jangan percaya pada pengarang!
Untunglah sebaris kalimat pembuka di lembar pertama karangan-karanganmu di tas buluk itu menyelamatkanku. Di sana kau menulis:
Mengarang bukanlah tentang meraih kemasyhuran,
melainkan mengikat ilmu,
lalu menghapus namamu di bawah judulnya
sebelum menyilakannya dibaca.
_________
Saat saya berselancar di dunia maya, saya menemukan foto dari isi sebuah buku yang bertuliskan seperti di atas. Kalo ada yang tahu, atau yang pernah baca buku itu, tolong infokan ke saya apa judul buku itu, hehehe.
_________
Pesantren (yang saya maksud di sini adalah pesantren NU) tak pernah lepas dari pendidikan tentang khidmah. Bagi sebagian besar orang dengan background pesantren, khidmah adalah jalan hidup. Khidmah pun bermacam-macam caranya, salah satunya adalah yang dalam Bahasa Jawa disebut “khidmah ndalem” (mengabdi pada keluarga pengasuh pondok). Kalo para santri diberi kesempatan untuk mondok lagi, gak sedikit dari mereka yang ingin ngabdi ndalem, alias mengabdi pada Kiyai & Bu Nyai-nya (plus keluarganya).
“Melekatnya ilmu dapat diperoleh dengan cara mudzakaroh, dan barokahnya ilmu dapat diraih dengan cara berkhidmah, sedangkan manfaatnya ilmu dapat diperoleh dengan adanya restu dari sang guru.” — Abuya Sayyid Muhammad bin Alawi Al-Maliki
Tapi mengabdi adalah hal yang sangat sulit, sebab menjadikan murid akrab dengan guru, yang sewaktu-waktu bisa membuat si murid melihat sisi manusiawi atau kekurangan-kekurangan sang guru. Kalo sisi manusiawi sang guru terlihat, maka berpotensi mengurangi rasa kagum dan rasa hormat si murid kepada sang guru.
Jangankan mengabdi, mulazamah pun berpotensi demikian. Sepengetahuan saya, kelebihan bermulazamah adalah agar si murid bisa sekaligus melihat dan mencontoh adab dan akhlak para gurunya dalam kesehariannya. Ya sama seperti beberapa sahabat Rasulullah Saw. yang mengais ilmu dari beliau dengan cara bermulazamah, karena mereka tahu bahwa ilmu Rasulullah Saw. gak hanya terangkum dalam lisan beliau, tapi juga tercermin lewat perilaku dan perbuatan keseharian beliau.
Mungkin berbeda kalo mengabdi pada ahlul bait Rasulullah Saw. dan ulama-ulama di Hadhramaut. Sejauh yang saya perhatikan dari cerita-cerita mereka yang (pernah) mondok atau berkuliah di Hadhramaut, para Habaib di sana memang memiliki banyak keistimewaan dan keunggulan sebagai manusia, meskipun ada diantara mereka yang bukan wali. Adabnya, akhlaknya, ibadahnya, dan amal-amal mereka lainnya yang MasyaAllah—yang gak akan kita temukan di belahan bumi manapun kecuali di negeri sejuta wali itu.
“Abah Yai itu gak pernah mau nyupir mobil meskipun beliau bisa nyupir. Beliau pasti minta disupirin, soalnya khawatir di jalanan gak sengaja tiba-tiba lihat kemaksiatan atau hal yang haram. Beliau aja selalu nunduk kalo jalan dihadapan santri-santri putrinya atau kalo pas berpapasan sama santri-santri putri. Coba kamu perhatikan lagi, Rus, beliau merem (memejamkan mata) kalo pas sesi tanya jawab sama jama’ah perempuan di Majelis Dhuha. Beliau gak mau menatap jama’ah perempuan.”
Begitulah penuturan teman kuliah saya (yang juga sekaligus seorang santri) pada saya beberapa tahun lalu.
Jember, 4 Desember 2021
The madhalla is a traditional hat used in Yemen worn by Hadhramaut female herders and field workers. The hats have a wide circular brim and a peaked top to keep them cool. They have been noted to resemble witch hats.
Michel Tahar, A graveyard in Aynat, Hadhramaut region, Yemen
Steve McCurry, Wadi Hadhramaut, Yemen