Tarim Timberfine, once a maker of fine instruments, now an unwilling adventurer absolutely fed up with the damn worm in his head!
#phm#ryland grace#rocky the eridian#project hail mary spoilers




seen from United States

seen from Somalia

seen from Germany
seen from China
seen from United States

seen from United States

seen from Thailand

seen from United Kingdom
seen from Sweden

seen from United Kingdom
seen from Singapore

seen from Malaysia
seen from United States
seen from China
seen from Türkiye
seen from United States

seen from Spain
seen from South Africa
seen from United States
seen from Brazil
Tarim Timberfine, once a maker of fine instruments, now an unwilling adventurer absolutely fed up with the damn worm in his head!
The Tarim Mummies: A Caucasian Civilization in the Heart of Ancient China
inspired by that meme with the yellow river
they are so cute <3
INFO : To make a long story short, we got some important info: we have a real chance to save the series by targeting mainly Netflix and Hulu during and after season 3 so we'll have to keep making noise, tweeting, winning awards for the series etc. Eliot is confident, and we need to be too !
SIGN THE PETITION : http://bit.ly/35aC7RS
The One True Living Tarim (by John Buscema & Ernie Chua from Conan The Barbarian #26, 1973)
The way Abigail throws all her bodyweight into her hugs with Adil 😍 And how they hold each other tight for a second before letting go. So Cute!!
2x1
2x5
2x10
2x10
Sometimes, vengeance is necessary. #MotherlandFortSalem
Jangan (Sampai) Akrab dengan Guru (?)
Akhirnya, aku membuat simpulan sendiri: kagumilah karya seseorang, bukan orangnya. Bila ingin menjadikan orang—dengan karya hebat—itu sebagai guru, tidak berarti harus belajar darinya langsung. Dari karya-karyanya saja sudahlah lebih dari cukup.
Aku pun mengingati diri untuk tidak lagi menjadi norak dengan mencari tahu apapun tentang guruku, apalagi berusaha kenalan dan akrab dengannya. Pengalaman mengajarkanku kalau tindakan itu tidak membuat kekagumanku dan ilmuku makin bertambah, tapi sebaliknya, kekagumanku runtuh-seruntuhnya sebab kepribadian guru-guruku itu tidak sehebat karangan mereka. Aku bahkan dengan ceroboh berani bilang: jangan percaya pada pengarang!
Untunglah sebaris kalimat pembuka di lembar pertama karangan-karanganmu di tas buluk itu menyelamatkanku. Di sana kau menulis:
Mengarang bukanlah tentang meraih kemasyhuran,
melainkan mengikat ilmu,
lalu menghapus namamu di bawah judulnya
sebelum menyilakannya dibaca.
_________
Saat saya berselancar di dunia maya, saya menemukan foto dari isi sebuah buku yang bertuliskan seperti di atas. Kalo ada yang tahu, atau yang pernah baca buku itu, tolong infokan ke saya apa judul buku itu, hehehe.
_________
Pesantren (yang saya maksud di sini adalah pesantren NU) tak pernah lepas dari pendidikan tentang khidmah. Bagi sebagian besar orang dengan background pesantren, khidmah adalah jalan hidup. Khidmah pun bermacam-macam caranya, salah satunya adalah yang dalam Bahasa Jawa disebut “khidmah ndalem” (mengabdi pada keluarga pengasuh pondok). Kalo para santri diberi kesempatan untuk mondok lagi, gak sedikit dari mereka yang ingin ngabdi ndalem, alias mengabdi pada Kiyai & Bu Nyai-nya (plus keluarganya).
“Melekatnya ilmu dapat diperoleh dengan cara mudzakaroh, dan barokahnya ilmu dapat diraih dengan cara berkhidmah, sedangkan manfaatnya ilmu dapat diperoleh dengan adanya restu dari sang guru.” — Abuya Sayyid Muhammad bin Alawi Al-Maliki
Tapi mengabdi adalah hal yang sangat sulit, sebab menjadikan murid akrab dengan guru, yang sewaktu-waktu bisa membuat si murid melihat sisi manusiawi atau kekurangan-kekurangan sang guru. Kalo sisi manusiawi sang guru terlihat, maka berpotensi mengurangi rasa kagum dan rasa hormat si murid kepada sang guru.
Jangankan mengabdi, mulazamah pun berpotensi demikian. Sepengetahuan saya, kelebihan bermulazamah adalah agar si murid bisa sekaligus melihat dan mencontoh adab dan akhlak para gurunya dalam kesehariannya. Ya sama seperti beberapa sahabat Rasulullah Saw. yang mengais ilmu dari beliau dengan cara bermulazamah, karena mereka tahu bahwa ilmu Rasulullah Saw. gak hanya terangkum dalam lisan beliau, tapi juga tercermin lewat perilaku dan perbuatan keseharian beliau.
Mungkin berbeda kalo mengabdi pada ahlul bait Rasulullah Saw. dan ulama-ulama di Hadhramaut. Sejauh yang saya perhatikan dari cerita-cerita mereka yang (pernah) mondok atau berkuliah di Hadhramaut, para Habaib di sana memang memiliki banyak keistimewaan dan keunggulan sebagai manusia, meskipun ada diantara mereka yang bukan wali. Adabnya, akhlaknya, ibadahnya, dan amal-amal mereka lainnya yang MasyaAllah—yang gak akan kita temukan di belahan bumi manapun kecuali di negeri sejuta wali itu.
“Abah Yai itu gak pernah mau nyupir mobil meskipun beliau bisa nyupir. Beliau pasti minta disupirin, soalnya khawatir di jalanan gak sengaja tiba-tiba lihat kemaksiatan atau hal yang haram. Beliau aja selalu nunduk kalo jalan dihadapan santri-santri putrinya atau kalo pas berpapasan sama santri-santri putri. Coba kamu perhatikan lagi, Rus, beliau merem (memejamkan mata) kalo pas sesi tanya jawab sama jama’ah perempuan di Majelis Dhuha. Beliau gak mau menatap jama’ah perempuan.”
Begitulah penuturan teman kuliah saya (yang juga sekaligus seorang santri) pada saya beberapa tahun lalu.
Jember, 4 Desember 2021