Lakukan hal-hal baik yang tampak tolol, tapi tanpa pamrih.
Catatan Ramadhan #8/30 yang rencananya dipublikasi setelah Ashar (CEST)
Ada begitu banyak kejadian di sekitar yang sebetulnya menginspirasi kita untuk berbuat kebaikan. Di tempat kuliah, di jalan, di tempat umum, bis kota, bahkan di rumah kita. Saya tidak bermaksud untuk mendeskriditkan orang - orang tertentu dalam cerita ini tapi agar kejadian yang pernah saya alami ini bisa kita lakukan (dalam bentuk yang berbeda-beda) dan kebaikan orang-orang ini terus menjalar.
Siang itu, Saya berangkat dari Dipati Ukur menuju Jatinangor. Sambil nunggu bisnya jalan, Saya melihat ke sana kemari, mencuri2 pandang pada orang2 yang baru naik bis, dan memerhatikan orang - orang melamun kosong memandangi jendela.
Bis yang saya tumpangi akhirnya jalan. Ketika sampai di Islamic centre, ada seorang nenek - nenek naik dan duduk di depan kursi yang saya tempati. Nenek itu keliatannya sangat lelah. Tubuhnya yang setengah bungkuk dan rambutnya yang memutih terbalut kerudung dari bahan kebaya yang warna aslinya sudah pudar. Tidak lama kemudian, ketika memasuki daerah buah batu, kondektur bus mulai menggerincingkan uang recehannya tanda meminta ongkos. Dan sampailah pak kondektur di tempat duduk nenek tersebut.
Nenek: "jang, sabaraha ongkos ka jatinangor teh?" (Nak, berapa ongkos ke Jatinangor?)
Nenek tersebut kemudian mengeluarkan dompetnya yang isinya uang receh. Nenek : "Duh, punteun, jang, ibu mah ngan gaduh 2000. punteun, nya, jang." (Duh, maaf nak, Ibu cuma punya dua ribu. Maaf, ya, nak.)
Kondektur tersebut senyum sambil bilang "Muhun, ibu, wios, wios.."
"Pengendara motor yang baik"
15 september 2009. Saya langsung pulang dari kampus karena kuliah pada hari itu dibatalkan. Udara yang panas dan debu yang beterbangan cukup untuk menahan orang-orang untuk diam di tempat tinggalnya, sama seperti saya yang ingin segera sampai di rumah.
Baru seperempat perjalanan menuju rumah, Tiba - tiba saya mendengar bunyi klakson. Spontan menoleh, saya melihat seorang Mbak-mbak diatas motornya. Dengan wajah masih tertutup masker, Dia bertanya,
"Teteh, mau ikut, yuk, sama motor saya? rumahnya dimana?"
Berhubung saya berpikir itu adalah guru sd adik saya, maka saya naik ke atas motornya.
Kemudian, dia bercerita: "Saya sering lewat sini, kalau pake motor saya suka ngajak orang - orang buat dibonceng.. Ada yang mauu ada yang enggak.. takut, kali, ya..? Haha."
Saya ikut tertawa, kemudian bertanya, "Mbak mau kemana memangnya?"
Mbak tersebut menjawab, "Ah, saya punya usaha sendiri di sukaasih, jualan alat - alat kedokteran. kadang-kadang saya kasihan liat yang jalan soalnya saya tau gimana rasanya jalan di siang seterik ini.. "
Percakapan ditutup karena saya sudah sampai ditujuan. Setelah bilang terimakasih, Mbak (yang entah siapa namanya) itu langsung melesat ke tempat kerjanya.
Lakukanlah hal-hal baik yang tampak tolol, tapi tanpa pamrih.