Aku berlarian demi menghindari air hujan, yang jatuhnya tak pernah diabakan. Sampai lama, sebab kinipun tidak juga berkesudahan. Aku kini terjebak di halte kecil, yang terasa lebih kecil sebab makin banyak yang ikut berduyun sambil badannya menggigil.
Di waktu risauku saat awan terus tergulung mendung, aku melihatmu melepas sepatu dengan rambut yang terikat dibiarkan menggantung. Terlihat jelas kamu sedang bersiap menantang hujan, mencoba berlari menembus hujan yang sebagian mahluk takut badannya kebasahan.
Melihatmu tersenyum sambil menjulurkan jemari di tepi atap halte ini, yang sengaja agar jemarimu basah ditetesi air hujan. Aku rasa ini saatnya kamu sedang pemanasan. Sebelum benar-benar, membawa badan itu hujan-hujanan.
Tapi niatmu terhenti, setelah tanpa sengaja kamu memergoki aku terus memandangi kamu dari samping kiri. Aku seketika tidak tahu harus membawa kemana respon diri. Sebab sudah terlanjur, aku berusaha memaksa diri untuk menghampirimu seraya memperkenalkan diri.
Kini aku tau namamu dan apa sebab kamu bersiap memerjang hujan sore itu, seolah semesta yang memang sedang berpihak padaku, kamu menawariku untuk ikut bersamamu. Tanpa pikir panjang aku mengiyakan. Meski setelah iyaku, kamu memperingatkan "kalau hujan-hujanan bisa mendatangkan sakit tak berkesudahan".
Setelah kalimatmu itu, aku tidak terlalu peduli dan dengan segera merelakan. Awalnya aku tidak mengerti, namun ternyata itulah awal dari semua ini.
Seolah waktu berjalan begitu cepat, kita menerobos ruko-ruko yang di bawahnya banyak pedagang yang terus menunggu dagangannya. Ini kali pertama aku tidak suka dengan waktu yang terus berjalan tak karuan. Sampailah saat di mana kita sampai pada perpisahan, di sebuah pertigaan dekat taman kota yang ternyata kita tidak searah mulai dari sana.
Aku tidak memikirkan hal apapun selain itu, selain merasakan, ternyata hujan-hujanan bisa sangat menyenangkan. Kita berpisah dengan mengucap sedikit kata perpisahan.
Selepas sampai rumah, aku merapikan pakaian basahku beserta sepatu yang sedari tadi hanya aku tenteng, membiarkan kaki ini telanjang menerobos jalan yang penuh genangan.
Sudah beberapa hari berlalu sejak hujan waktu itu, aku tidak melihatmu lagi di halte kita bertemu. Bahkan di sore akan hujan pun saat aku menunggu kamu, di halte ini kamu tetap tidak pernah aku temu.
Hujan lagi sore ini, aku sudah menyiapkan payung untuk kita pakai nanti. Namun kamu sudah tidak lagi menampakan diri yang akhirnya aku mengutuk diri, sebab mengapa tidak meminta kontakmu agar aku bisa mengakhiri rasa sakit ini. Ternyata kamu benar tentang hujan, yang bisa mendatangkan rasa sakit tak berkesudahan.
14 Maret 2021 | ©AdiKurniawan