Chemical Bonds
(ink on paper, -hanabirawa, 2015)
seen from United States
seen from United Kingdom

seen from Tunisia
seen from India

seen from Pakistan
seen from Brazil
seen from United States
seen from Kazakhstan
seen from Spain
seen from Spain

seen from Brazil

seen from Pakistan

seen from Malaysia
seen from India
seen from China
seen from Singapore

seen from Germany
seen from United States
seen from Belarus
seen from Spain
Chemical Bonds
(ink on paper, -hanabirawa, 2015)
from above: Wasteland, Two Molecules, Limbo
(ink on paper, collage, -hanabirawa, 2015)
Mono Bloom
(ink on paper, -hanabirawa, 2015)
Two Molecules
(ink on paper, -hanabirawa, 2015)
Memoria Stellaris
(ink on paper, -hanabirawa, 2015)
Eternal Journey
-hanabirawa, 2014
Menceburkan diri ke kolam tetangga
Sebagai perupa visual, kami lebih banyak kecewa ketika memandang karya sendiri. Rasanya sudah 1001 malam kami berkutat mengejar utopisme rupa dan makna, tapi seringkali eksekusi akhir bukan lagi hasil pemikiran utopis, namun ide pendek yang tiba-tiba muncul dikala tenggat waktu hampir habis.
Masih untung jika kami berkesempatan berkutat dengan utopisme terlebih dahulu. Namun adakalanya kami malah terbentur filosofi kampiun lain, sehingga demi prabawa, kami merasa wajib menopengkan diri dengan nilai bagus khayalak.
Agar tidak tenggelam dalam ranah prestige, kami harus mengikat diri pada alasan mengapa kami rela menceburkan diri ke kolam tetangga: dengan menceburkan diri, kami berharap menemukan kepingan jawaban lain dalam kontruksi utopis yang sedang kami bangun.
Nihilisme dan Ketuhanan di Jalur Pendakian
: di remang-remang
Selama mengalir napas ini, kami berada di remang-remang ketinggian kehidupan. Melihat ke bawah ataupun ke atas, sama-sama jelas sekaligus samar. Kami mulai pesimis sekaligus sinis.
Kami tidak yakin puncak mana yang akan kami capai, dan apa pula gunanya mencapai puncak jika tidak ada artinya. Kami ragu untuk melanjutkan pendakian.
Kami menjadi cerewet pada pikiran kami sendiri. Pikiran yang kami anggap cerdas mulai lelah dan hilang arah. Kami terlalu banyak tanya dan menjawab sendiri.
Kami teringat isi tas kami dan berhenti untuk mengeluarkan peta.
Ketuhanan, adalah peta kami.
Kami melihat peta. Di sana telah tertulis batas-batas perjalanan kami.
Yah..sampai disini ketuhanan memang menghentikan kami untuk bertanya. Ketuhanan seolah berkata untuk berhenti dalam kapasitas kami sebagai manusia.
: kenihilan
Walaupun kapasitas kami memberi seribu jawaban kenihilan, tapi kami tidak pernah berhenti bertanya. Karena setidaknya satu langkah dapat dicapai dengan bertanya.
Namun bila kenihilan menghentikan langkah, kami akan mengingat waktu tenggat : satu setengah jam*
Lebih baik menciptakan langkah daripada melamun memandang kenihilan. Pendakian ini antara dinikmati dan dipungkiri, toh tetap kami terseok-seok.
*)1 hari akhirat = 1000 tahun dunia
(hbw,2013)