Semua orang di dunia ini pasti pernah kecewa. Kecewa karena sesuatu yang kita harapkan, tidak sesuai dengan kenyataan. Kecewa karena mengharapkan seseorang untuk jadi apa yang kita inginkan, kecewa karena kita tidak bisa memaksimalkan apa yang diamanahkan, dan lain sebagainya.
Menurut Saya kekecewaan yang dirasakan diri sendiri itu lebih mudah dimaafkan (oleh diri sendiri), walaupun belum tentu bisa dilupakan. Misal, apabila kita menaruh ekspektasi tinggi pada nilai suatu mata kuliah pada saat perkuliahan. Ketika nilai tidak sesuai ekspektasi kekecewaan itu pasti muncul dengan gagahnya. Karena Sang diri merasa sudah berusaha dengan maksimal, sekuat tenaga; sampai bisa berekspektasi tinggi. Jangan ditanya, kecewa sudah menjadi barang pasti. Tetapi kecewa semacam ini masih tergolong mudah untuk dikendalikan. Dengan afirmasi-afirmasi positif semacam:
“bisa jadi memang kita yang terlalu percaya diri”,
atau “mungkin kita terlalu sibuk berusaha hingga lupa berdoa”,
bisa jadi “Ini pasti ada hikmahnya, Allah tidak akan menguji diluar kemampuan hambaNya.”
Ada tingkat kecewa yang seringkali lebih sulit dikendalikan, atau mungkin dimaafkan – Ekspektasi orang-orang dari luar diri yang terlanjur besar dan megah, tetapi kita – yang diekspektasi bisa, ternyata tidak bisa, yang diekspektasi memungkinkan, ternyata sebaliknya. Apalagi orang-orang ini adalah orang-orang yang terlanjur menaruh kepercayaan. Betapa kekecewaan diri terhadap diri sendiri karena kita tidak bisa memenuhi ekspektasi orang yang kita sayangi, itu lebih menyakiti hati nurani.
Saya rasa ini memang dinamika kehidupan.
Allah memberi rasa kecewa pada manusia agar manusia sadar, agar manusia mengerti. Bahwa tak ada tempat menggantungkan harap selain padaNya. Apabila kecewa melanda, perlu kembali lagi kita instrospeksi niat kita, apakah sudah benar-benar karena Allah SWT, atau masih tercemar dengan niat agar mendapat pujian makhluknya.