Wahai guru, pada saat ini kita dihadapkan pada kondisi dunia yang melaju dengan pesat, tanpa jeda. Berbagai kemudahan dapat kita rasakan saat ini. Penyebaran informasi, kebudayaan dan attitude dapat kita jangkau dalam hitungan detik. Lewat daring semua terasa cepat.
Wahai guru, pada saat ini kita juga dihadapkan pada generasi terlalu canggih, yang labil, dan cepat matang. Dimana mereka saat ini, lebih banyak memposisikan guru sebagai teman. Teman yang dapat diajak bercerita, mendengarkan segala perkataan yang selalu terucap dari lisannya. Satu diantara perkataannya tersebut dapat kita temukan tingkat cara berpikirnya yang kritis dan out of the box. Dan efek dari itu semua menuntut guru memiliki peranan yang lebih, tidak lagi sekadar transfer of knowledge. Jika hanya sekadar transfer of knowledge mereka lebih membutuhkan brainly ketimbang guru.
Membuka kembali catatan dalam satu kajian di bulan Juli lalu bersama Prof. Dr. KH Didin Hafihuddin, mengutip ayat dari Al Qur'an Surat An-Nisaa ayat 9:
"Dan hendaklah takut (kepada Allah) orang-orang yang sekiranya mereka meninggalkan keturunan yang lemah di belakang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan)nya. Oleh sebab itu, hendaklah mereka bertakwa kepada Allah, dan hendaklah mereka berbicara dengan tutur kata yang benar."
Saat itu sang ustadz berkata, "Janganlah kamu meninggalkan suatu generasi penerus yang lemah dalam aqidah, ibadah, ilmu dan ekonominya." Dalam catatan di buku Saya, dan dalam ingatan Saya, sang ustadz mengulang kalimat tersebut berkali-kali, menandakan pentingnya pembicaraan ini. Berulang kali pula sang ustadz mengatakan generasi penerus tidak selalu yang sedarah, murid-murid kita di sekolah adalah generasi penerus yang tanggung jawab atasnya ada di tangan kita.
Aqidah, sumber kekuatan, kenyamanan dan kebahagiaan dalam hidup. Ditengah pesatnya arus globalisasi, memiliki aqidah yang kuat adalah keharusan. Wajib. Dan ini adalah pilar dalam hidup sebagai pemuda muslim. Bisa dibayangkan, bagaimana seandainya generasi penerus kita memiliki aqidah yang lemah? Mereka akan mudah sekali menanggalkan keimanannya. Menjadi manusia munafik. Menjadi manusia penuh syirik. Tidak memiliki pendirian yang teguh sehingga mudah terbawa arus pemikiran yang buruk.
Dalam Al Qur'an Surat Al Baqarah ayat 133,
"Adakah kamu hadir ketika Ya'qub kedatangan (tanda-tanda) maut, ketika ia berkata kepada anak-anaknya, 'Apa yang kamu sembah sepeninggalku?'."
Kemudian sang ustadz melanjutkan membaca Surat Luqman ayat 13,
"Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, ketika dia memberi pelajaran kepadanya, 'Wahai anakku! Janganlah engkau menyekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan Allah adalah benar-benar kezaliman yang besar'."
Dari kedua ayat di atas kita belajar, betapa prioritasnya pendidikan aqidah ini. Jika suatu hari nanti dunia terwarnai oleh segala cipta manusia, seorang muslim tidak akan pernah bergeser dari menjalani hidupnya sesuai dengan tuntunan Islam. Godaan terbesar bagi murid-murid kita tentu saja gaya hidup. Segala pernak-pernik kekinian terkadang menggetarkan hati untuk memilki, apalagi diiringi rasa iri. Melihat teman dapat menonton konser, menggunakan handphone bagus serta berpakaian branded, pasti membuat iri seluruh hati. Bagus, jika hanya iri. Terkadang dapat kita temukan yang berani mengambil risiko.
(alm) KH Zainuddin MZ berpesan,
"Didik mereka dengan jiwa tauhid yang mengkristal di dalam batinnya, meresap sampai ke tulang sumsumnya, yang tidak akan sampaipun nyawa berpisah dari badannya, aqidah itu tidak akan berpisah dari hatinya. Bahkan dia sanggup berkata, 'Lebih baik Saya melarat karena mempertahankan iman daripada hidup mewah dengan menjual aqidah'."
Dan ini bukan hanya tugas guru, Ki Hajar Dewantara selalu mengulang Tri Sentra Pendidikannya; keluarga, sekolah dan masyarakat. Alhamdulillah, beban guru lebih ringan.
Setelah aqidah, jangan tinggalkan mereka dalam kondisi ibadah yang lemah. Kuatkan keyakinannya bahwa ibadah bukanlah ritual yang menjadi rutinitas dan akhirnya menjadi terbiasa tanpa makna. Ajak mereka untuk terus memperbaiki niatnya untuk beribadah. Beribadah karena Allah. Beribadah karena kita butuh Allah.
Orang yang istiqomah dalam ibadahnya, insyaa Allah akan mudah bersyukur dan berbahagia. Orang yang istiqomah dalam ibadahnya, insyaa Allah memiliki pendirian dan tidak mudah untuk terintervensi dengan setan dalam bentuk manusia maupun hawa nafsu.
Membiasakan murid-murid kita untuk beribadah di sekolah (salat zuhur dan ashar berjamaah, salat dhuha, berpuasa serta mempelajari, membaca dan menghafal Al Qur'an) adalah usaha kita untuk mengenalkan kasih sayang Allah yang tak bertepi untuk hamba-Nya. Ibadah memang kewajiban kita sebagai makhluk-Nya, namun pernahkah kita merasakan dengan kita beribadah ada Allah SWT Zat Maha Pengasih yang selalu menyertai kehidupan kita di dunia?
Setiap proses membangun pemahaman ini membutuhkan pembelajaran seumur hidup, tanpa batas waktu dan tanpa batas kesabaran. Dan ini bukan hanya tugas guru, Ki Hajar Dewantara selalu mengulang Tri Sentra Pendidikannya; keluarga, sekolah dan masyarakat. Alhamdulillah, beban guru lebih ringan.
"Rasulullah bersabda, 'Tidak ada kebaikan kecuali pada dua kelompok, yaitu orang yang mengajarkan ilmu dan orang yang mempelajari ilmu'."
Melihat Al Qur'an Surat Al Mujadillah ayat 11,
"Wahai orang-orang yang beriman! Apabila dikatakan kepadamu, 'Berilah kelapangan di dalam majelis-majelis,' maka lapangkanlah, niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan, 'Berdirilah kamu,' maka berdirilah, niscaya Allah akan mengangkat (derajat) orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan."
Dengan kemudahan teknologi saat ini, tidak sulit rasanya mencari ilmu. Segala hal dapat dicari dengan menggunakan mesin pencari, bahkan mesin pencari tersebut dapat mengoreksi pertanyaan kita sendiri. Sangat perlu kita tanamkan dalam diri murid-murid kita ini semangat menghadiri dan berpartisipasi aktif di dalam kelas. Menikmati rasanya mendapatkan ilmu dari gurunya langsung, karena kita muridnya guru, bukan muridnya buku.
Dalam pendidikan terdapat materi, metode dan guru.
"Metode lebih baik daripada materi. Guru lebih baik daripada metode. Semangat atau spirit guru lebih baik daripada guru itu sendiri."
Menuntut ilmu itu kewajiban. Perubahan kurikulum dan generasi yang dihadapi, menuntut guru untuk selalu meningkatkan kapasitas dirinya dalam mendidik. Inovasi dan kreasi menjadi pilar utama dalam kegiatan mendidik ini. Tidak bisa hanya membiarkan murid untuk selalu duduk di kelas selama tiga jam KBM, mereka akan jenuh dan menganggap guru tidak lebih baik dari video penjelasan materi di youtube.
Bapak/ibu, merencanakan pembelajaran yang bermakna adalah kewajiban kita sebelum masuk kelas. Bermakna tidak hanya menyentuh aspek kognitif, ada aspek afektif dan psikomotorik yang harus kita berikan makna juga. Segala teori pembelajaran menjadi percuma jika kita tidak pernah mempraktikkannya. Metode ceramah sudah tidak relevan bagi generasi yang kita hadapi hari ini. Mereka butuh metode yang dapat melibatkan seluruh kemampuan yang terdapat di dalam dirinya.
Saya tidak setuju ketika kita harus membuat RPP selama satu tahun ajaran yang selalu kita buat di awal tahun jelang akreditasi atau PKKS atau penilaian lainnya. Bagi Saya idealnya membuat RPP dalam bentuk satu kali pertemuan dan maksimal h-2 sebelum masuk kelas. Itu RPP yang sungguh-sungguh kita buat dan kita laksanakan. Tidak perlu merasa terbebani dengan hadirnya RPP ini, ia ada untuk memudahkan.
Mengajarkan ilmu bukan hanya tugas guru, Ki Hajar Dewantara selalu mengulang Tri Sentra Pendidikannya; keluarga, sekolah dan masyarakat. Alhamdulillah, beban guru lebih ringan. Tetapi membuat RPP tetap tugas guru.
"Janganlah meninggalkan mereka dalam keadaan yang lemah ekonominya."
Bagian ini adalah peran keluarga. Dan sekolah memberikan peranannya dalam memfasilitasi. Membentuk jiwa enterpreneur dan leadership dibutuhkan sinergi antara keluarga dan sekolah. Mendidik anak untuk tidak boros dalam membelanjakan uang jajan setiap harinya. Mendidik anak sedini mungkin untuk berorientasi pada mencipta pekerjaan.
Dan ini bukan hanya tugas guru, Ki Hajar Dewantara selalu mengulang Tri Sentra Pendidikannya; keluarga, sekolah dan masyarakat. Alhamdulillah, beban guru lebih ringan.
Selamat hari guru, pendidik pembelajar! Segala jenis profesi tercipta dari tangan kita. Di tangan kita generasi penerus nasibnya dipertaruhkan. Mendidik generasi beradab tujuan kita yang utama. Dan di tangan orang lain bernama Menteri Pendidikan, keprofesian kita (semoga) kali ini diperhatikan!