Apakah kamu baik-baik saja di sana?
Ini sudah tahun keempat. Rasanya lebih lama tujuh kali lipat. Aku masih saja rindu, sesekali menangis tersedu. Aku tahu, ini akan berlangsung selamanya. Sampai aku juga bisa kesitu, menemuimu, kembali bersamamu.
Ada banyak hal yang belum sempat kamu dengar, tapi kamu sudah buru-buru pulang. Tentang betapa aku menyesal mengajakmu bertengkar, tentang rasa sayangku yang menggunung dan mengakar. Kamu masih menjadi satu-satunya yang mampu membuatku percaya bahwa aku dicintai. Sedang dekat, kamu akan terus mendekap erat. Sedang jauh, kamu akan menghujaniku dengan kabar dan buaian sebagai ganti satu rengkuh. Aku rasa tak akan ada yang mampu menandingimu dalam hal mencintaiku.
Banyak yang berubah setelah kepergianmu. Kamu tahu, sekarang aku berteman sangat baik dengan ibumu. Aku merasakan juga bagaimana rasanya dinasehati ayahmu. Aku bermain dan belajar bersama dengan adik-adik kecilmu. Aku juga belanja dan bercerita banyak dengan adik perempuanmu. Iya, aku juga terkejut, kita bisa menjadi sebegini dekat. Aku ingat dengan jelas, ketika pertama kali ibumu memelukku sambil menangis. Aku sedih karena pertemuan pertamaku dengan beliau justru dengan cara seperti ini. Kita berbincang lama sekali, tentangmu tentu saja. Kadang kita bercerita sambil tersenyum, sesekali sambil menyeka air mata sendiri. Kadang aku merasa tak enak, ibumu begitu menyayangiku, karena begitu menyayangimu. Ah sayang, harusnya kau merasakan juga hebatnya kasih ibumu. Oiya, ibu sudah bisa mengungkapkan sayang, atau rindu. Beliau tidak ingin kehilangan kesempatan lagi, karena didahului takdir. Ayah juga sudah jauh lebih lunak. Aku belajar bisnis banyak darinya. Kamu pasti tak menyangka.
Aku yakin, kamu pasti tersenyum jika melihatnya. Tentu saja kami semua merindukanmu, sampai kapan pun juga begitu. Aku ingin kamu tahu, pergimu tidak sia-sia.
Sampaikan salam ku kepada malaikat di surga, katakan terima kasihku padanya karena telah menjaga lelaki kesayanganku.
Aku, yang selalu merindukanmu.