Kata orang, mata itu melumpuhkan.
Bagiku, menemukan orang baru itu tak mudah. Tapi saat melihatmu, meski bagian punggung terlebih dulu, aku tahu setiap pertemuan tidak diciptakan sebegitu rumit. Mungkin hanya aku yang kerap kali sulit mengurai pertanda. Sebuah tanda yang kulihat kali pertama adalah sepasang sayap. Sepasang sayap hitam yang entah bagaimana aku bisa melihatnya. Sekian detik terdiam, lalu detik selanjutnya mata kita sudah berada dalam satu titik. Jika kau pikir seperempat detik itu tidak kuingat, kau salah. Tak perlu bersikeras untuk meyakinkanku bahwa kamu memiliki momen luar biasa di detik itu. Aku percaya, karena aku juga merasakannya.
Percayakah jika pertemuan kita sudah lama kusemogakan? Mungkin kamu tak percaya jika aku memintamu sebelum aku pernah melihatmu. Dan Tuhan terlalu baik. Tapi aku tidak.
Aku tahu sudah banyak hal yang kamu lakukan, tapi ini sulit. Hal tentang kerumitanku pada kebersamaan.
Aku tak sempat mengutarakan, mungkin tak sanggup, bahwa matamu dan sayapmu adalah kotak sihir. Aku kesakitan setiap kali berusaha melepaskannya. Bisa saja aku menyerah, namun kamu lebih berharga, berjuta kali berharga. Dan tentang sihirnya, rasanya tak apa jika selamanya melekatiku. Berhentilah menyesali sayapmu, berhenti memaksanya terlepas.
Jika hari ini kamu membaca surat ini, percayalah tidak ada yang pernah kusesali dari pertemuan kita, kumis dan senyum sederhanamu selalu membuatku bahagia, percayalah kita akan sama-sama bahagia, aku dengan menghindari seluruh sihirmu, dan kamu yang akan memiliki pemelihara sayapmu, mungkin seorang pemilik sepasang sayap putih.
It's a new great year. 2016 just passed away, for this upcoming year I would like to wish a very great year for all of you.
Lama ga nulis nih setelah bulan Agustus kemarin. Sibuk, gegara masa budgeting yang terlampau kurang ajar di kantor baru. Hahaha. Sebenernya pengen nulis lama, tapi berhubung ini ada event beginian (#30HariBercerita) dan gw telat amat banget nulisnya. Which is sekarang udah tanggal 3. Ya gapapa deh gw kebutin mau nulis banyak kayanya.
Belajar Nulis (lagi?)
Pertama kali nulis kalau ga salah umur 3 tahunan, waktu itu diajarin Mama yang dengan sabarnya merhatiin tangan kecil ini corat coret sambil minta sogokan ayam goreng (yeay!) hahaha.
Sebenernya minat nulis gw itu biasa-biasa aja, sampai.... Pas SMA ada guru yang pengen buat majalah sekolah (Bu Ina kalau ga salah namanya, HAI BU! Kalau baca tulisan ini saya yang dulu paling ganteng di sekolah!). Waktu itu diadain rekrutmen besar-besaran disekolah buat jadi pengurus, editor, chief, reporter, dan lainnya. Kalau ga salah saat itu sekitar 150an murid yang ikut, ane masih kelas 2 SMA. Saat itu kayanya ngerasa aneh juga anak jurusan IPA/IA-atau pokoknya itulah jurusan yang kalau mau UN stres minta ampun ngapalin rumus fisika yang akhir-akhir ini dibantah sama para _flat earthers _hahaha-ikut audisi jadi jurnalis sekolah.
Waktu itu disuruh nulis cerita apa aja yang pengen kita tulis, dan gw kalau ga salah inget nulis tentang roman (kayanya pengalaman pribadi HAHAHAHAAnjir). Singkat cerita, dari seleksi yang lumayan banyak gw kepilih jadi PemRed (Pemimpin Redaksi/Chief Editor) majalah sekolah, dan petualangan dengan tulis menulis gw pun dimulai saat gw menjabat.
Gatau Mau Diapain Ini Majalah Sekolah
Awal menjabat bahkan gw gatau sama sekali gimana isi, konten, rubik, dll. BAHKAN PUISI AJA GA NGERTI GIMANA BISA ORANG BUAT BEGITU LOL.
Sebentar merenung, ane mutusin buat bilang kesemua anggota kalau suruh baca minimal 1 buku per minggu, buku apa aja, koran, majalah, apalah yang bisa digunain jadi referensi. Sebenernya dari kecil emang suka baca sih terutama sejarah sama biografi orang, kesannya kaya kita kebawa kemasa itu, ngerasain Soekarno lagi di pegangsaan, ngerasain Soedirman lagi di kemahnya sambil ngomongin strategi perang, bahkan ngerasain gimana Pandawa sama Kurawa perang pakai strategi masing-masing sampe Duryudana kalah sama Werkudara di pinggir sungai.
Hobi baca itu bagi gw yang dulu hidupnya pas-pasan adalah hobi mahal. Ya, beli buku di toko buku kaya begitu bisa abis sekitar Rp 200.000 kalau ikutin kepinginan. Alhasil gw cuma bisa baca dari buku pinjeman, buku perpus, atau numpang baca gratis di toko buku (BUKAN GW YANG NYOBEK PLASTIK SAMPULNYA!).
Tapi setelah lulus kuliah terus kerja, bangke-nya hidup di Jakarta adalah BUUUAAANNNNYYYYAAAAKKK BANGET penjual buku, dari toko buku gedongan sampe emperan di pinggir lampur merah. Awal-awal hidup disini rasanya hampir tiap bulan keluar Rp 500.000 cuman buat beli buku. Damn it! Tapi gw ga pernah sekalipun menyesal beli buku, bagi gw, sampai kapanpun, buku itu akan lebih berguna, dan gw yakin itu.
Setelah seneng baca buku, gw pengen nulis juga, gatel rasanya. Mulai dari nulis di buku (BUKAN DIARY YA ALLAH! BUKAN!), nulis di blog, nulis di sosmed, rasanya pengen konsisten tiap hari bisa nulis. Ah, konsisten, ngomong gampang, susah banget ngelakuinnya.
NAH
Nah, mulai sekarang karena lagi senggang juga, diusahakan pengen merubah ketidak konsistenannya nih, doakan supaya rajin nulis, rajin olahraga, pandai menabung, dapet duit banyak. Yuk, nulis (lagi).
Semoga ini layak disebut surat cinta,. Karena memang hanya diriMu yang memiliki cinta sempurna untukku,tak tergantikan, tak terbandingkan, tak cukup lautan sebagai tinta untuk menggambarkan keindahannya.. Semoga ini layak disebut surat cinta, padahal apa yang aku tuliskan adalah wujud cintaMu memberiku ide untuk dituliskan. Causa Prima. Seingatku begitu guru PKn ku menyebutMu, bahwa diriMu adalah sebab yang mendasari segala akibat. Berarti, diriMu adalah juga asal dari segala macam Cinta kan? Bahwa semua cinta yang aku terima adalah karena cintaMu.. Bahwa kecintaanku kepadaMu adalah wujud cintaMu kepadaKu,. Tentang aku yang diijinkan mengenalMu dari orang-orang terdekatku yang juga diriMu yang menempatkanku disini.. Tentang aku yang menyadari betapa pertolonganMu selalu dekat, tepat waktu.. yang tak sekedar membantu menyelesaikan tapi lebij bnyak lagi hikmah pelajaran. Tentang aku yang dengan cintaMu mampu memaknai berbagai rasa dunia,. Sakit yg menjadikanku kuat namun sekedar liat.. Tawa yg menjadikanku gembira tanpa takut terlena.. Tangis yang menjadikan beban lepas menyisa lega.. Kecewa yang melapangkan dada.. Bangga yang menuai tumbuhnya asa.. Bagaimana mungkin ini disebut surat cinta,. Jika bahkan yang aku katakan adalah tak lebih dari setetes yang Engkau ketahui maknanya. KepadaMu yang CintaNya tak pernah beku.. KepadaMu yang tak sekali pun mengecewakan.. Aku mohon.. Ajarkan lagi aku tentang CintaMu Ikat lagi hatiku kepada agamaMu.. Ijinkan aku selalu memahami segaa bentuk CintaMu yang menghidupiku