Politik Tai Kucing
#30HariBercerita #Hari-2
Politik Tai Kucing
Dari penghujung tahun lalu gw sering banget ngeliat timeline medsos ini menggila, damn it. Capek gw liatnya. Beberapa akun akhirnya gw juga tutup. Capek boy liat begituan mulu. I can't even know how to build my dreams based on inspiring people anymore, semuanya ketutup begitu ada isu pilkada, penistaan agama, sidang, dll.
Personally, gw ga ada masalah ama apapun aspirasi yang diberikan. Democration, isn't it? (Or not?). Yang bikin gw sebel adalah ketika beberapa kelompok udah menebarkan "teror" yang menurut gw udah jadi momok bagi beberapa kalangan.
Suatu sore, ditengah memanasnya iklim politik di Nusantara, cewe gw nanya "kalau aku yang kaya gini ini apakah bakalan dipukulin atau sampai dibunuh sih yang?" Gw termenung terdiam sejenak, berpikir. Terbuka mulut ini mau jawab dan mendinginkan suasana, pengen ngomong "tenang ada aku". Tapi ga bisa. Ga bisa sama sekali keluar dari mulut ini. Sedih rasanya.
Kejadian ini ga bisa dipungkiri dan you guys already know that case, tulisan ini gw buat bukan tentang politik yang bisa kalian liat di timeline kalian masing-masing. I will not offense your political views. Not at all.
Yang jadi concern gw saat itu adalah adanya traumatic mendalam dari cewe gw dan seluruh keluarganya. Ya. Dia Chinese. Berawal dari 1980an sampai akhir 2000an. Beberapa tragedi memang menimpa etnis ini. Pemerkosaan, penjarahan, pembunuhan, you named it. That's a fact. Lalu, ketika kasus ini mencuat dan pesan aksi damai dikumandangkan terjadilah hal ini.
H-1 sore hari sebelum aksi damai. Gw dan pacar pergi jalan sambil mau cari makan, suasana disini, di ibukota (ga tau daerah lainnya) persis kaya lebaran. Surau tiba-tiba mengkumandangkan pujian pada-Nya dengan keras diberbagai sudut kota. Arak-arakan dan persiapan untuk esok hari seperti sudah dipersiapkan beberapa minggu sebelumnya, rapi dan banyak memenuhi seiisi kota. Takut? Sedikit terlintas tapi kekhawatiran ini kayanya ga setimpal dengan ketakutan yang dialami cewe gw. Hari ketika pengumuman ajakan aksi santer terdengar, saat itu pula Ibu cewe gw telepon dia untuk segera meninggalkan ibu kota. Ya. Sepanik itu. Traumatic.
Singkat cerita gw anterin pacar ke Gambir. Itu penuhnya udah kaya lebaran gila. Hampir sama kaya foto diatas, sayang saking buru-buru ngejar keretanya ga sempet fota foto.
Seusai pacar gw naik peron, gw bergegas pulang sambil mikir, "aku ga nyaman disini". Gw ga akan beropini tentang kenapa ada demo apa ga, apakah bersalah apa ga. Yang gw pikir, trauma macam begini mustinya udah ga ada. Ga bener kalau begini terus.
Lalu apa hubungannya sama judul tulisan ini? Disatu sisi ada perasaan gatel dari diri gw buat nulis ini. Gw sangat yakin sekali ada unsur politiknya. Opini. Ya. Mungkin. Iklim politik disini kaya Tai Kucing. Sampai sekarang ini gw terus ngehindarin sosmed yang santer berita tentang perpolitikan yang menurut gw "mainnya" udah ga wajar. Ah. Apaan kalau bukan politik, pikir gw. Boleh coy mau siapa aja pemimpinnya, tapi coba dipikir baik-baik ketika ada orang terdekat kalian ngomong begitu directly ke kalian? Your world cracks instantly.
Pendapat gw adalah, bijaklah sebelum bertindak.
Penebar teror lewat apapun itu.....
Ah, tai.
Salam hangat,
@alphaalan









