Nda, maaf suratnya baru sempet dibales. Ya anggap aja aku pake perangko yang biasa. Yang Rp 1.500. :p
Oke. Ini malam Jum'at, usaha mau dengerin naitmarenya semoga gak terhalang lupa yaaaa... setelah kemaren ternyata aku dengerin sendiri. Setengah 11 ya mulanya, bukan setengah 12. Setengah 12 penyiarnya udah beberes tas, mau pulang, bobok udah ngantuk. -_-
Kalau soal menemukan kostan, kebetulan aku punya mulut. Jadi ya tinggal tanya-tanya aja. Sembari nelpon kamu itu juga kan? Gak usah seolah-olah aku ini Dora deh. :))
Tapi bener kata kamu, selama ada niat pasti ada jalan! Niat aku, ngerampok drama-drama korea. Jalannya, ya berangkat ke kostan kamu yang baru. Eh, ngomong-ngomong gorengannya udah dingin ya yang kemaren. Nanti deh, diganti sama mie goreng ala aku. Insyaallah kalau ada umur. Sambil ngerampok yang kemaren belom sempet. :))
Ngomong-ngomong aku juga kayaknya seliwat lihat deh gubug kecil itu. Tapi kebetulan mang ojegnya ngebut, jadi gak sempet ngeuh ada apa aja di dalem sana.
Sebenernya, dari surat yang kamu kirim kemaren itu, aku terjebak lama di kalimat ini. Aku ulang-ulang;
"Berkeputusan itu sama dengan mengambil sikap, bukan hanya memenuhi hasrat untuk putus dari sebuah keadaan yang tidak menyenangkan."
Dan iya, gak bohong, salah satu alasan aku mengambil keputusan adalah ingin lepas dari keadaan yang tidak menyenangkan. Yang hakikat sebenarnya, pasti adalah akan masuk ke keadaan tidak menyenangkan lainnya. Karena hidup, harus siap dengan itu kan?!
Kemaren aku juga mikir lagi. Spekulasi sendiri akhirnya. Hahaha. Bahwa mungkin, sebenarnya, aku yang mulai kendur ini adalah syarat atau tanda dari Allah agar aku berhenti. Pembenaran sih kayaknya, tapi plis pembenaran selalu benar di mata mereka yang membenarkan. :p
Kamu jauh lebih paham ini daripada aku; bahwa Allah adalah Yang maha membolak-balikkan hati manusia. Bahwa Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum jika kaum-Nya sendiri tidak berusaha. Dan aku tentu aja harus usaha, salah satu bentuk usaha aku adalah seperti yang diobrolin di kostan kamu kemaren.
Oh iya, hari Minggu kemaren mamah aku kambuh lagi. Pas banget malem sebelum aku berangkat ke Bandung. Gak lama, adek aku sakit. Kemaren sore aku harus pulang lagi ke rumah. Baru tadi pagi aku ke Bandung, itu pun sebenernya gak boleh pergi. Tapi maksa aja, karena Jum'at sore juga aku pulang lagi. Purwakarta-Bandung rasanya kayak dari Ujung Berung ke Pasteur. Lama-lama aku beneran menafsirkan ini sebagai sebuah kode, Nda. :))
Nda, kita udah semakin "muda", waktu yang dimiliki bareng orang-orang yang kita sayang, bisa jadi tinggal sebentar lagi, tanpa sok mendahului kehendak Allah SWT. Tapi, kita bukannya harus siap dengan hal itu. Iya, kan? Aku belajar banyak dari kamu.
Kenapa aku bilang gini?! Karena, yang insyallah aku pilih ini adalah demi orang-orang yang aku sayang. Pun kamu, harusnya, bukan harusnya, mungkin lebih baik, kalau kamu bisa membaca pikiran ayahmu. Bahwa beliau, membuat rumah di Tasik, sebagai upayanya untuk "menyenangkan" anak-anaknya selagi bisa. Dan ya, pikirkan ulang soal permintaan ayah kamu! :'D
Eh nightmare sidenya udah mau mulai. Bubay. Iya, lupa; kita temenan sampe tua! Kalau pikun, semoga salah satunya enggak, jadi bisa mengingatkan. :))