Ikhlas #Hari1 #5paragraf
Mungkin kata ikhlas bukan konsep yang terdengar canggih. Sering kita dengar bahkan sejak dalam buaian. Meniatkan sesuatu karna Allah, mungkin terdengar klise, tidak edgy, mainstream, maupun boring. Beda misalnya dengan istilah-istilah yang kita pelajari di kampus masing-masing yang terdengar sangat canggih hingga penuh singkatan seperti CPTED, SPK, Natural Surveillance, Community Policing, Post-Truth, etc.
Tapi benarkah kita perlu konsep-konsep canggih dalam menjalani kehidupan? jawabannya bisa ya pada bagian yang satu, tidak pada bagian yang lain. Tapi di sini kita bisa sepakati bahwa rumus-rumus kehidupan yang sederhana pun tidak selalu mudah untuk dijalani, termasuk perkara ikhlas yang sudah sering kita dengar.
Bagaimana kita selalu memasang kerangka niat karena Allah atas segala kegiatan yang kita lakukan, ketika menuntut ilmu dunia, ketika bekerja, ketika berinteraksi dengan orang-orang sekitar kita, ketika berdagang, ketika cuap-cuap di media sosia, adakah kita meniatkan itu semua karena Allah?
Karna ternyata rumus-rumus sederhana itu makin bertambah usia kita makin kita tahu, ada saat di mana silau dunia sedikit saja bisa membuat kita rapuh, membuat kita abai untuk menjalankannya. Membuat kita perlu memutar otak lebih, bagaimana agar ia bisa tetap terlaksana.
Maka kita berharap diberi pribadi yang kuat oleh Allah untuk menghadapi setiap ujuan, bahkan ujian terkecil yang terdengar mudah untuk menghadapinya padahal tidak. Diberi teman-teman yang saling mengingatkan dalam kebaikan, meskipun kita bosan mendengarnya. Dan senantiasa diberi ujian yang kita sanggup menanggungnya, karena begitulah yang dijanjikan olehNya.









