Antara Logika dan Perasaan. Yang Mana?
Manusia merupakan satu-satunya makhluk yang dikaruniai dua hal yang saling berkaitan satu sama lain, namun sering dianggap bertentangan oleh sebagian manusia. Kedua hal tersebut adalah logika dan perasaan. Bukankah kita sering mendengar beragam pernyataan seperti ini,
“ Saya cinta dia. Masa bodoh dia sudah punya istri atau tidak. Toh, dia cintanya sama saya, bukan sama istrinya.”
Atau yang seperti ini,
“ Mana peduli saya dengan kondisi keluarga kamu sekarang, yang saya butuhkan saat ini adalah uang atas pinjaman anda tiga tahun yang lalu.”
Atau yang lebih ekstrem lagi,
“ Aku cowok ya pake logika. Kamu cewek sih, gabisa mikir kayak aku.” “ Aku cewek ya pakenya perasaan. Kamu aja yang gak peka.”
Ya ampun, gitu aja sampe kiamat hehe. Well, aku ga bakal ngomong panjang lebar soal feminisme ataupun maskulinisme, tapi yang ingin kutekankan disini adalah, apa iya logika dan perasaan itu beda? Apa iya kedua hal tersebut bertentangan? Lha kalo bertentangan kenapa Tuhan ‘naruh’ kedua hal tersebut dalam satu jasad dan jiwa yang sama bernama manusia?
Oke, tulisan ini berangkat dari pemikiran dan komentar dari beberapa orang tentang diri saya. Banyak orang yang bilang saya itu cewek, tapi kalo mikir sering nggak pake perasaan, ngomongnya pedes-krenyes, dan seolah ga pernah ngurus yang namanya perasaan cinta ke lawan jenis (bukan berarti aku LGBT! Aku masih nganga lebar kalo Adam Levine muncul di layar *eh). Ada pula yang kaget kalo aku dulu pernah pacaran dan komentar, “Lho kamu ternyata bisa mikir tentang cinta ya?”. Duh, segitu ngenesnya ya aku haha. Jadilah aku mencoba menuangkan pemikiranku tentang logika dan perasaan ini, dengan harapan orang nggak akan men-dualisme-kan logika dan perasaan. Bismillah semoga interpretasiku bisa diterima dan dipertanggungjawabkan kebenarannya.
Mengacu pada ke-ilmiah-an, maka menurut KBBI, logika adalah jalan pikiran yang masuk akal. Nah, apapun yang dianggap masuk akal adalah segala sesuatu yang memiliki hubungan sebab akibat; jika kamu melakukan A, akan menghasilkan B dan jika melakukan C, akan menghasilkan D. Jika D menghasilkan A, dianggap tidak masuk akal. Perasaan adalah rasa atau keadaan batin sewaktu menghadapi/merasai sesuatu atau pertimbangan batin (hati) atas sesuatu. Wujud dari perasaan adalah sesuatu yang abstrak menurut subjektivitas masing-masing personal. Apabila dibandingkan, logika memiliki alur positif dan memiliki ‘indikator baku’ dalam menyatakan kebenaran dan menghasilkan sesuatu yang disebut sebagai objektivitas sedangkan perasaan berlindung dalam sebuah kebenaran masing-masing individu dan menghasilkan subjektivitas.
Lah terus yang bener dan bisa dijadikan patokan yang mana? Ga sampe satu detik pasti aku akan jawab, ya pake keduanya. Lah? Yap, logika dan perasaan bisa dikatakan sebagai two different ways attempt to tell the same story, to build something together, and to develop together in order to make a perfect decision. Sering orang bilang kalo urusan cinta ya jangan pakai logika, dan sering juga orang bilang kalo urusan pekerjaan logika jangan disangkutpautkan dengan perasaan. Waduh, kalo kayak gitu sah-sah aja selingkuh sama orang yang udah punya istri/suami. Haram hukumnya dong buat menikah sama orang yang terikat pekerjaan dengan kita? That’s why harusnya kita belajar untuk menjembatani kedua hal tersebut. Toh keduanya hanya menunjukkan jalan yang berbeda demi satu tujuan kebenaran yang sama?
Bukankah Tuhan menyuruh kita untuk berfikir? Sedangkan pikiran datangnya dari logika. Bukankah Tuhan menyuruh kita untuk beriman? Sedangkan iman datangnya dari hati. Dan..hey! Bukankah segala sesuatu diciptakan berpasang-pasangan?
“ Dan segala sesuatu Kami ciptakan berpasang-pasangan agar kamu mengingat (kebesaran Allah)” – Ad-Dzaariyat: 49
Pada akhirnya, logika dan perasaan memanglah suatu hal yang berpasangan. Tidak mungkin bisa hadir iman di dalam hati tanpa mempelajari ilmu Tuhan yang tersebar di alam semesta. Tidak mungkin pula bisa hadir pemikiran yang benar tanpa mempercayai keberadaan Tuhan. Oleh karena itu, perdebatan mengenai logika dan perasaan seharusnya dapat dihilangkan apabila memahami hal ini. Logika dan perasaan bukanlah suatu perkara yang patut dipermasalahkan karena perbedaannya, namun bagaimana kita, sebagai manusia, mampu mempergunakan keduanya sebaik mungkin sebagai sarana mendekatkan diri kepada Tuhan. Ya nggak?
Wallahu a’lamu bisshowab—









