24 Januari 2026
Beberapa bulan terakhir ini, saya sedang rutin menjalani satu kebiasaan baru: jogging pagi. Kebiasaan ini berawal di akhir April 2025, tepat setelah saya resign dari tempat kerja lama, dan punya jeda sekitar satu bulan sebelum masuk ke tempat kerja yang baru.
Jeda itu membuat ritme hidup saya berbeda dari beberapa tahun sebelumnya. Pagi hari di weekday yang biasanya habis untuk bersiap kerja, kini benar-benar kosong. Karena tidak ingin waktu itu terbuang hanya untuk tidur atau bermalas-malasan, saya mencoba mengisinya dengan aktivitas sederhana: jogging. Tidak ada niat membangun performa, apalagi target tertentu. Tujuannya satu: meromantisasi waktu luang di pagi hari yang selama ini jarang saya miliki.
Di bulan-bulan awal, jogging saya jalani dengan sangat santai. Saya tidak menghitung pace, jarak, atau langkah. Berapa pun kilometernya tidak memiliki target. Kadang 8k saya tempuh lebih dari dua jam, dengan banyak jalan dan berhenti. Saya juga sama sekali tidak tertarik dengan event lari yang saat itu cukup ramai. Rasanya belum perlu membawa kebiasaan ini ke arah mana pun. Jogging saya anggap sebagai me time saja, ruang kecil untuk bernapas tanpa beban performa. Saya hanya ingin hadir penuh di aktivitas itu, tanpa ambisi atau tanpa tekanan.
Namun, sekitar dua bulan terakhir arah itu pelan-pelan berubah. Pola itu mulai bergeser. Perlahan muncul keinginan untuk meningkatkan kemampuan diri. Bukan karena tekanan atau tuntutan dari luar, tapi karena muncul rasa ingin mencoba lebih jauh. Saya penasaran sejauh apa saya bisa berkembang. Dari situ, saya mulai memikirkan kemungkinan ikut event lari untuk menjadikannya sebagai personal challenge. Saya mulai lebih memperhatikan pace, jarak, dan time, terutama untuk jarak 5k dengan target waktu 40m yang saat ini masih saya kejar.
Kebiasaan yang dulu lahir dari santai kini berkembang menjadi ruang untuk belajar disiplin dan konsistensi. Meski agak sedikit ambis, tapi tujuannya untuk melihat progres. Menaklukkan jarak, mengatur ritme, dan menyelesaikan latihan sesuai target.
Dari sini saya belajar, membangun kebiasaan tidak selalu harus dimulai dengan tujuan besar. Kadang cukup dimulai dari niat sederhana untuk mengisi waktu dengan baik. Ketika kebiasaan itu sudah tumbuh dan kita sudah nyaman dalam menjalaninya, tantangan baru bisa coba ditingkatkan. Ada fase santai dan ada fase mendorong diri sedikit lebih jauh. Keduanya sama-sama bagian dari proses.
Jogging bukan lagi sekadar soal lari. Ia menjadi proses belajar mengenali ritme diri sendiri. Kapan santai, kapan mendorong diri sedikit lebih jauh. Dan mungkin di situ letak nilainya: memberi ruang bagi diri sendiri untuk berkembang, tanpa harus memaksakan segalanya sejak awal.
Soal lari yang dianggap sekadar FOMO, ikut-ikutan runner culture, atau hanya mengikuti tren yang sedang viral. Jujur saja, saya tidak ingin terlalu memusingkan anggapan itu. Kalau memang kebiasaan yang diikuti itu baik, menyehatkan, dan memberi ruang untuk belajar, kenapa harus buru-buru dijauhi hanya karena label FOMO?
FOMO tidak selalu negatif. Dalam konteks tertentu, FOMO justru bisa menjadi pintu masuk untuk mencoba hal baru, untuk bergerak, untuk mengenal diri sendiri lebih jauh. Tidak semua orang harus memulai sesuatu dari idealisme yang rapi dan sempurna. Ada yang memulai dari rasa penasaran, ada yang dari ajakan teman, ada juga yang dari tren. Selama prosesnya jujur dan dijalani dengan sadar, it still counts.
Insya Allah kebiasaan baik tidak kehilangan nilainya hanya karena lahir dari tren. Yang membuatnya berarti adalah bagaimana kita menjalaninya. Apakah kita hadir, konsisten, dan mau bertumbuh di dalamnya. Entah itu disebut FOMO, ikut arus, atau sekadar coba-coba, bagi saya yang terpenting adalah saya bergerak, belajar, dan pelan-pelan mengenal batas, serta potensi diri sendiri.





















