Chapter 1 : Laki Laki Pertama di Surabaya
Saat kuliah, tidak pernah terbersit dalam otak untuk segera menemukan pasangan hidup, kemudian menikah, hidup bersama hingga tua. Saat itu yang ada di dalam otak hanya bagaimana bisa mendapatkan uang ketika lulus kuliah, mebanggakan mama dan ayah, dan bisa menikmati hidup dengan membeli barang-barang yang aku suka.
Selama itu juga tidak ada tuntutan dari mama dan ayah untuk segera menemukan pasangan dan menikah. Lingkungan yang serba (enak) dan mendukung itu pulalah yang menyebabkan diriku menjadi (sedikit) cuek dengan keadaan sekitar. Ya sebut saja tidak peka atau bahkan aneh, haha.
Begitu lulus kuliah, fokus dan tujuanku hanya bagaimana caranya bisa mendapatkan uang sesegera mungkin. Rasanya sungguh tidak nyaman ketika sudah lulus kuliah tetapi masih menggantungkan hidup ke orangtua. Pada saat itu sebetulnya ayah sudah menawarkan untuk membiayai sekolah S2, ya namun namanya juga sudah ingin merasa bertanggungjawab atas diri sendiri, dengan berbekal nekad dan ngotot, saya memaksa untuk mencari kerja dan mengumpulkan uang saya sendiri.
Mungkin itu keputusan pertama yang Tuhan tuntun untukku agar bisa bertemu dengan seseorang yang saat ini menjadi suamiku :)
Pekerjaan pertama kudapatkan di Surabaya, kota kelahiranku. Rupanya bekerja tidak semudah yang aku kira. Lelah pikiran harus kuhadapi. Bahkan tak urung kebosanan pun acapkali datang. Tidak ada obrolan dengan mama di tiap malam karena aku hanya bertemu dengannya di kala akhir pekan. Ingin sekedar berkumpul dengan teman, namun ya begitu, tidak ada, haha.
Rasa bosan yang terus menerus mendera akhirnya membuatku tidak sengaja berseluncur ke Google Play. Entah apa yang sedang merasukiku saat itu, tidak sengaja aku menemukan sebuah aplikasi bernama Slowly. Iseng saja, aku mendaftar dan mencoba aplikasi tersebut. Ternyata aku bisa terhubung dengan stranger dari berbagai belahan dunia dan saling berkirim surat. Lucunya, surat yang kita kirim melaului aplikasi tersebut memiliki durasi yang lebih panjang dibanding menggunakan aplikasi chatting lainnya. Konon katanya, agar pengguna aplikasi tersebut bisa merasakan bagaimana rasanya mengirim surat kepada penpal dan merasakan sensasi menunggu balasan surat dari penpal kita.
Beberapa kali aku berkirim surat hingga ke luar negeri. Rasa bosan yang selama itu menghantuiku, terbayar dengan serunya berkirim surat melalui aplikasi tersebut. Hingga suatu hari, saat itu aku sedang berbelanja, masuklah sebuah surat.
Seorang penpal yang mengajak berbincang mengenai buku dan pameran buku. Bagaimana mungkin aku tidak tertarik? Tersirat dari surat tersebut, sepertinya stranger ini juga tinggal di Surabaya. Menarik, pikirku saat itu.
Lagi-lagi, bermain aplikasi Slowly dan membalas surat ini, adalah campur tangan Tuhan yang lucu. Nyatanya sekarang laki-laki yang mengirimiku surat ini, sekarang menjadi orang pertama yang kutatap ketika terbangun di pagi hari.
Meskipun sebetulnya kata-kata ‘semesta’ sungguh terdengar cringe, harus diakui pertemuanku dengan laki-laki ini seolah Tuhan dan semesta merestui dan mengatur dengan sedemikian rupanya...hingga terjadilah pertemuan pertamaku dengannya setelah beberapa saat saling berkirim surat.
Lihat betapa cringe-nya balasan suratku saat itu ya Tuhan!!
Rasa ingin tahu yang besar, menuntunku untuk mencari tahu siapa sosok asli laki-laki yang berkirim surat denganku. Berbekal sedikit petunjuk dari surat-surat kami saat itu, aku menemukan nama aslinya.
Henry Yuli Hadiwijaya
Tolong jangan ditanya bagaimana caraku menemukannya! Namanya saja perempuan, tahu betul bagaimana cara untuk menuntaskan segala pertanyaannya. Kuselami dunia mayanya, ya hanya untuk sekedar tahu lah untuk saat itu.
Hingga tiba-tiba dia pun mengajak bertemu tatap muka. Pada saat itu, ketertarikanku hanya sebatas teman, belum menjadi orang spesial atau apalah itu namanya. Ketika diajak bertemu, tentu saja aku mengiyakan karena pada akhirnya aku bisa bertemu dengan teman baru di kota perantauanku.
Kemudian aku pun tersadar dengan kebodohanku yang mengiyakan sebuah pertemuan, dengan laki-laki asing, yang hanya kukenal melalui surat. Kok ya tidak berpikir hal buruk yang mungkin saja bisa terjadi, rutukku kesal kala itu. Tetapi jam sudah mendekati waktu pertemuan kami. Hingga akhirnya aku pun memberanikan diri untuk menemuinya sambil membawa cutter kecil berbentuk jerapah untuk senjata apabila terjadi hal buruk nantinya.
Dia menanti di depan gang rumah nenekku. Aku menghampirinya dan haha, lihatlah betapa kikuknya dia saat itu! Yaaaa aku pun tidak kalah canggung saat itu. Kami pun berbincang di kafe di daerah Gubeng mengenai banyak hal, mulai dari buku, kehidupan sehari-hari, hingga masa perkuliahan kami (ternyata kami satu almamater, dulunya!)
Aku menemukan kenyamanan untuk memulai pertemanan dengannya. Kini pun aku sering teringat, apabila saat itu tidak kuberanikan diri untuk menemuinya, mungkin aku dan dia tidak akan menjadi seperti ini sekarang :)











