Filosofi di Balik Cover Buku “Heal Yourself: Tumbuh dari Luka”
Menulis buku “Heal Yourself: Tumbuh dari Luka” memberi saya sudut pandang baru tentang berkarya, terutama tentang apa makna berkarya bersama suami. Dulu, saya pikir berkarya bersama suami adalah menulis bersama, dimana kami menerbitkan buku yang isinya adalah tulisan yang kami tulis bersama. Tapi ternyata, pada kenyataannya semua tidak sesempit itu.
Meski tidak menulis bersama, saya dan Mas H tetap berkarya bersama di buku HYTDL. Dalam setiap prosesnya, beliau punya banyak peran, terutama dalam membuat berbagai rancangan dapur, seperti rancangan keuangan, strategi branding dan marketing, dll. Kami berdiskusi secara berkala, hingga saya tahu betapa banyaknya blind spot yang saya miliki di buku-buku sebelumnya. Begitulah, berkarya bersama itu artinya luas.
Tidak hanya soal rancangan dapur, Mas H bahkan turun langsung untuk membuat rancangan dan filosofi cover. Beliau bilang, landasan idenya adalah QS. Al-Baqarah: 28, “Bagaimana kamu ingkar kepada Allah, padahal kamu (tadinya) mati, lalu Dia menghidupkan kamu, kemudian Dia mematikan kamu, lalu Dia menghidupkan kamu kembali. Kemudian kepada-Nyalah kamu dikembalikan.” Ayat ini bercerita tentang 5 fase kehidupan yang akan dilewati oleh setiap manusia, dimana ujung dari fasenya adalah kembali kepada Allah. Mas H bilang, ayat ini mengingatkan pada proses tumbuhnya sebuah pohon, juga tumbuhnya seorang manusia.
Berawal dari tunas, sebuah pohon terus bertumbuh hingga lama-lama daunnya kering dan mati. Tetapi, daun tersebut akan mengalami regenerasi dan tumbuh kembali. Seperti perjalanan kita sebagai manusia. Kita dilahirkan oleh Allah ke dunia, menjalani kehidupan, dan kita pasti akan menjumpai kematian. Lalu kita akan dihidupkan kembali oleh Allah untuk mempertanggungjawabkan seluruh perjalanan hidup kita di hadapan-Nya.
Pohon juga menjadi simbol harapan dimana meski kita melewati luka demi luka di sepanjang hidup, semoga kita bisa selalu menangkap cahaya diantara luka-luka itu. Sebab, cahayalah yang membantu sebuah pohon tumbuh, sebagaimana “cahaya” jugalah yang membantu seorang manusia tumbuh, sehingga, usai terluka, semoga yang muncul adalah pertumbuhan keimanan, ketaqwaan, dan kecintaan kita kepada-Nya.
Akhir kata, semoga buku ini bisa menjadi seperti perumpamaan di QS. Ibrahim: 24, bahwa perumpamaan kalimat yang baik adalah seperti pohon yang baik, yang akarnya kuat dan cabangnya menjulang ke langit.
Wallahu’alam bishawab. Mohon doanya, ya!


















