Luka Batin
Terluka itu tidak apa-apa. Kita manusia. Lemah. Jadi sangat wajar jika terluka. Hanya saja, ada luka (fisik) yang terlihat nyata. Ada juga yang tak terlihat, tak kasat mata, tapi nyata (luka batin). Sama-sama sakit. Tapi yang kedua, tak semua orang paham. Yang pasti, siapapun dengan luka apapun, berhak sembuh :)
Dear, siapapun kamu yang barangkali sedang merasakan apa yang ada dituliskan ini.
Jika posisimu saat ini sedang dalam kondisi yang kedua tadi, jangan putus asa ya. Barangkali, bagimu dunia sedang memporak porandakan hidupmu. It's Okey, I know it's not easy at all. I feel you, dear. But, i know you are stronger than you think you are. You'll deserve better. :)
Pelan-pelan, kamu boleh kok melepaskan emosi-emosi yang kamu rasakan. Lepaskan dengan penuh kesadaran. Dengan cara yang baik, yang paling membuatmu nyaman. Mintalah bantuan kepada Allah ya, jangan lupa.
Karena, memendam semuanya sendiri tidak akan menyelesaikan masalah. Kasihan dirimu. Kasihan hatimu. Kata buku yang pernah aku baca, menyerahkan segala permasalahan kepada waktu, dengan dalih nanti waktu yang akan menyembuhkan atau biarkan waktu yang menghapus jejak/luka, ternyata bukan solusi. Sama sekali. Itu hanya kalimat utopis.
Luka atau emosi yang terpendam, nantinya justru akan menjadi bom untuk dirimu sendiri. Bisa meledak sewaktu-waktu. Hatimu akan lelah dengan tumpukan-tumpukan emosi yang terus kamu telan sendiri. Maka, jika ada bagian yang sakit, yuk segera diidentifikasi. Meskipun barangkali sakit itu tak ada yang tahu kecuali dirimu sendiri, meski mungkin tak ada bekas luka sayatan atau lebam yang membiru di sana sini.
Dear, Ingat kan? Bahwa yang namanya luka harus disembuhkan. Bukan ditimbun dan dipendam. Kasihan dirimu, kasihan hatimu. Mungkin sekarang sepertinya biasa saja, tidak terjadi apa-apa. Kamu masih bisa survive. - Baik, ku doakan semoga memang karena dirimu mulai berdamai dengan semua luka itu bukan karena masih denial-. Tapi dear, kita harus tetap aware yah, karena belum tentu nanti akan tetap baik-baik saja.
Jika belum menikah, coba berkaca sebentar, lihat dirimu sampai di bagian paling inti dalam hatimu. Dan segera sadari, adakah luka batin yang belum selesai? Jika ada, tidak apa-apa. Itu bagian dari diri kita, terima saja :). Lalu, berusahalah untuk segera selesaikan, dan berdamai. Jika tak bisa dilakukan sendiri, mintalah bantuan orang lain. Dan yang paling harus dan utama adalah, mintalah bantuan Allaah. Dia-lah yang Maha menyembuhkan segala luka.
Karena jika tidak, kasihan keluargamu nanti jika tiba-tiba tumpukan emosimu akhirnya meledak akibat semakin banyaknya amanah dalam rumah tangga. Kasihan suamimu, istrimu, anak-anakmu. Dan dirimu sendiri.
Jika sudah menikah, tetap aware agar bisa menyadari, segera berdamai dan berusaha menyembuhkan. Karena untuk menyembuhkan memang butuh upaya. Bukan membiarkan saja dan menyerahkan kepada waktu. Lalu, jika sudah menikah dan ternyata kamu atau pasanganmu atau keduanya memiliki luka yang belum selesai. Maka saatnya bersatu untuk saling support. Saling menguatkan dan saling berjanji agar tidak menurunkan luka itu kepada generasi.
Dear, Luka batin bukan aib. Bukan tak normal. Kita semua manusia. Jadi, wajar jika memiliki luka. Sekalipun luka itu tak kasat mata.
Semangat yaa 🤍
Tulisan ini mengambil insight dari buku "Membasuh Luka Pengasuhan"
---------
✍🏻delimacanda
Yogyakarta || Sabtu, 10 Agustus 2024












