Swedia, negara family friendly
Saya menulis ini sebagai contoh tulisan opini saya pas mau daftar jadi relawan kontributor. Sedikit saya ubah karena kaku banget wey kalau pake basa artikel wkwk.
Check this out
---
Sudah bukan rahasia umum bahwa Swedia merupakan negara yang ramah keluarga dan salah satu negara terbaik untuk membesarkan anak. Coba liat, di fb, ig, lagi banyak postingan video video singkat soal betapa loyalnya negara ini ngasih cuti melahirkan. Dua tahun lalu, sebelum memutuskan untuk pindah kesini, yang saya tau dari Swedia hanya letaknya, itu pun saya tidak 100% yakin benar. Sama tau Swedia dari plesetan peribahasa pas jaman SD, "Swedia payung sebelum hujan." Ha. Receh kali masa kecil w.
Kesan pertama saya ketika membaca tentang Swedia pas lagi nunggu visa adalah too good to be true. Semacam membaca cerita dongeng. Seriusan. Tapi setelah saya mendapatkan personnummer, sejenis nomor KTP dan merasakan hak yang sama seperti warga asli, saya sadar bahwa ini nyata, saya hidup di negara yang memiliki hubungan baik antara pemerintah dan masyarakatnya. Masyarakat diminta untuk membayar pajak yang tinggi dan pemerintah berusaha keras mengubahnya menjadi fasilitas-fasilitas yang membuat masyarakat memiliki keseimbangan hidup (work-social-life balance).
Nah ini yg belum banyak dibahas. Kalau liat video video pendek yg tersebar memang waw banget kayanya. Dibalik itu kami harus bayar potongan pajak sebesar 30% dari penghasilan. Mayan yha. Ya bayangin aja deh, gaji 100 tp bawa pulang cuma 70. Makan pecel lele pinggir jalan tambah pajak 10% juga belum tentu ikhlas wkwk. Tapi fair sih kalau menurut saya, ngga kerasa kalau lihat benefit yang bisa kita dapatkan. Lagi pula dari awal kontrak, gaji yg tertulis disana udah after tax, jadi ya.. yaudah. To be honest saya malah ga hafal gaji suami saya before tax berapa hehe.
Ngomong ngomong soal personnummer, ini beneran kaya nomer KTP elektronik dimana semua data (when i say semua, it means semua) dari pajak, pinjeman bank, membership supermarket, toko mainan, skincare, lalu catatan kejahatan, pelanggaran lalu lintas, apapun lah. Bukan KTP elektronik yg ga terhubung sama apapun kemudian nyatanya dikorupsi. Eh.
Nah berikut beberapa benefit yg menurut saya pantas menjadikan Swedia sebagai negara family friendly
Paid Parental Leave
Belakangan ini banyak sekali artikel yang membahas tentang cuti melahirkan di Swedia yang mencapai 480 hari. Yap. Betul sekali, itu nyata. Sebanyak 390 hari wajib dibagi dua untuk ayah dan ibu, sementara sisanya bebas mau diambil oleh siapa. Cuti ini berbayar, sekitar 80% dari gaji. Saya yang tidak bekerja pun tetap dibayar dengan patokan gaji terendah (iyaaa seriusss). Cuti ini berlaku untuk setiap anak dan bisa diambil hingga umur anak 8 tahun. Di luar cuti melahirkan, ada pula cuti khusus untuk anak sakit. Orang tua boleh mengambil cuti sebanyak 120 hari/tahun ketika anak sakit hingga mereka berumur 12 tahun.
Btw kalau cuti cuti gini yg bayar pemerintah lewat kemensos, jadi kantor tu ga bakal ribet lah kalau cuti cuti gini. Mereka malah khawatir kalau pegawainya ga ambil cuti. Khawatir kena denda (kalau pegawai ga cuti, kantor kena denda) atau khawatir performa kerja pegawai menurun karena kepikiran keluarga. Memang mulai dibudayakan kembali sih menomersatukan keluarga. Ngga kaya di sinetron Indonesia, kamu pilih keluargamu atau kerjaanmu?
Banyak banget cerita soal betapa ramah keluarganya kantor kantor sini. Temen saya internship, spv nya mantau via skype aja, soalnya lagi nemenin ibunya sakit, cuti 2 bulan.
Saya melahirkan, suami ambil cuti 10 hari. Disuruh cuti lagi.
Waktu Lila umur 2 bulan, suami ditanyain sama spv nya, gimana kabar anak, suami bilang habis imunisasi DPT nih, terus disuruh pulang dong. Spv nya khawatir sama saya sampe bilang anakmu pasti demam dan istri kamu pasti ga tidur, dengan polosnya suami saya bilang iya Pak, kok tau. Tau lah soalnya jaman anak doi kecil doi sendiri yg ngurus.
Familj centrum
Family center merupakan one stop facility untuk orang tua yang tersebar di masing masing area, terdiri dari health care untuk ibu dan anak, dokter gigi, perpustakaan mini dan open preschool. Saya sering banget pergi ke open preschool, ini tuh semacam playdate yang difasilitasi lah haha. Disini saya bisa bersosialisasi dengan ibu ibu lain sembari menemani anak anak bermain, fasilitas bermainnya sama seperti tk versi mini, ada perosotan indoor, boneka banyak, mainan dari yg soft toys sampe yg interaktif pencet pencet ada lagu lalala, ruangan mewarnai, dan pantry. Selain itu ada 2 guru yg bertanggung jawab di masing masing preschool.
Bedanya dengan preschool biasa adalah disini orang tua yang in-charge menjaga si anak, guru hanya sebagai pendamping. Kalau anak nangis, ya orang tuanya yg handle. Selain itu ada agenda khusus di open preschool setiap minggunya misal konsultasi psikologi, gizi, tumbuh kembang, bahkan sosialisasi peraturan di jalan raya. Semua fasilitas di family center tidak dipungut biaya sama sekali.
Saya dulu sempet nanya kenapa ya kok baik banget sama dibikinin open preschool segala. Ternyata itu karena pemerintah yg mulai concern membangun generasi dari keluarga. Orang orang mulai sadar kalau tanggung jawab menjadi orang tua itu besar, makannya difasilitasilah banyak hal termasuk open preschool ini, karena kan kadang bingung ya kalau punya anak kecil di rumah doang mau ngapain, dibentuklah wadah agar para orang tua bisa bersosial dan anak anak bisa bermain dengan teman teman. Oiya banyak juga lho bapak bapak yang ikut di open preschool dan mereka ngga malu untuk ngobrol soal pengasuhan sama ibu ibu lain.
Health care
Selain biaya melahirkan gratis (apapun metodenya) , biaya kesehatan anak pun gratis disini hingga usia 20 tahun. Bukan hanya gratisnya saja yang bikin bahagia, kesehatan ibu dan bayi pasca melahirkan pun juga diperhatikan dengan seksama. Sejak lahir, bayi dan ibu sudah memiliki jadwal dan skema kontrol. Home visit juga bisa dilakukan jika memang dibutuhkan.
Seminggu sebelum jadwal kontrol biasanya akan ada surat datang untuk sekedar mengingatkan. Setiap setahun sekali dapet surat dari dokter gigi, berbonus sikat gigi baru, untuk anak anak. Hal ini cukup membuat saya terlena sampai sampai saya lupa jadwal imunisasi ketika di Indonesia wkwk jangan ditiru. Terlalu sering dimanja sih.
Pap-smear juga gratis, bahkan dianjurkan. Jadi para wanita dikasih surat sebulan sebelumnya, ini kamu kami jadwalkan papsmear bulan depan tanggal sekian, jam sekian, mau ngga, gitu. Sebagai deteksi awal sekaligus pencegahan penyakit menular seksual, selain itu juga sebagai cek kesehatan dasar organ kewanitaan.
Kids friendly public area
Hanya 3% wilayah Swedia yg berpenghuni. Sisanya merupakan bentang alam yang bisa diakses gratis oleh siapapun dan kapanpun. Berenang di danau, main di air tejun, kemah di hutan, gratis, asalkan patuhi aturan dan dijaga bersama. Iya beneran gratis, tetap dijadikan objek wisata tapi ngga dikomersilkan dan ngga ada penjaganya juga.
Dengar dengar dari teman, katanya hak tanah pribadi disini lebih rendah dari hak umum. Misal kalau kita punya tanah, kita ga boleh bikin pagar dan ga boleh masang plang "Dilarang Melintas, Properti Pribadi" jadi orang males juga punya properti banyak banyak. Apalagi kalau di tanahnya ada air terjun misalnya, ngga boleh larang orang untuk main disitu.
Selain bentang alam, area publik disini sangat sangat ramah anak. Tempat umum seperti perpustakaan dan mall memiliki family lounge tersendiri yang terdiri dari nursing room, changing room, juga area makan yg dilengkapi dengan microwave dan high chair. Selain itu ada banyak playground yg tersebar di seluruh penjuru kota. Di Gothenburg sendiri, kota saya tinggal, ada sekitar 300 playground yg bisa diakses kapanpun, dan siapa pun.
---
Rasanya seperti too good to be true, bukan?
Ngga masalah pajak 30%, orang sekolah gratis, ke dokter gratis, mau mikir apa lagi? Punya anak dikasih tunjangan, mau cuti dikasih bayaran. Jadi selo gitu hidupnya, jadi sadar apa yg matters apa yg engga. Jadi merasa cukup. Alhamdulillah. Coba besok saya cerita yg lainnya ya.
Jadi panjang kalau nulis di tumblr. Di artikel cuma boleh 1 halaman aja soalnya. Ketauan anaknya suka bacot 😂
Semoga kelak Indonesia juga bisa begini. Asal transparansi dananya oke dan hasilnya seperti ini, rasanya ngga masalah bayar pajak lebih dari 10%, iya ngga?






