Cerita atau tulisan ini diambil dari buku "Wanita berkarir Surga" karya Ustadz Felix Siauw dan Tim da'wah Hijab Alila, sedikit ditambahkan.
Jika seorang wanita selalu menjaga sholatnya 5 waktu, berpuasa dibulan ramadhan, menjaga kehormatannya sebagaimana syariat mengaturnya dan taat kepada suaminya. Maka dikatakan kepada wanita "masuklah ke syurga melalui pintu manapun yang kalian inginkan." (HR. Ahmad)
Ada sejarah. Tentang bagaimana perempuan diperlakukan seperti Yunani, Romawi, India, Cina, Arab hingga Eropa. Kesimpulan yang diambil adalah, wanita diperlakukan layaknya budak, menjadi pelayan seks kepada tuannya, hingga dibunuh karna dianggap menampung roh jahat.
Hingga muncul sebuah paham Feminisme. Kesetaraan antara wanita dan pria. Kalo pria bisa kenapa wanita tidak ?
Dan Feminis ini memandang aturan islam membuat wanita menjadi tertekan karena tidak memihak kebebasan wanita untuk berkembang. Hingga aku menemukan banyak hal tentang wanita dalam buku ini.
Sejak dulu, Pria memiliki peran sebagai pemburu dan wanita berperan sebagai pengasuh serta pemelihara.
Wanita yang mendidik seorang laki laki mungkin ia sedang melahirkan seorang pemimpin. Sedangkan wanita yang melahirkan dan mendidik seorang anak perempuan,maka ia sedang mendidik sebuah peradaban.
Bahwa setiap perbedaan yang Allah ciptakan, disesuaikan sesuai fitrah. Maha besar Allah.
Feminisme menganggap pria dan wanita berkompetisi dalam jalur yang sama. Dengan hadiah yang sama yaitu mengejar materi.
Sedangkan dalam islam, pria dan wanita sama sama mencari ridho Allah sesuai hadist dan Al. Qur'an yang Allah berikan sesuai fitrah mereka. Bukan berkompetisi gender, namun berkolaborasi untuk mencapai kemenangan.
Ada kalimat yang sangat aku sukai. Percakapan Asma binti Yazid bin Al. Sakan dengan Rasulullah.
Asma binti yazid dikenal sebagai wanita yang memiliki kesehatan Hujjah dan daya pikat dalam ucapannya. Kelebihan ini ditambah dengan keilmuaannya terhadap isi kandungan hadist dan Al. Qur'an. Sebab itulah ia diberi gelar khatibatun nisa (juru bicara kaum wanita.)
Asma binti yazid pernah bergabung bersama pasukan kaum muslimin semasa perang khandaq. Pada waktu itu ia berperan mengirimkan makanan kepada Rasulullah. Ia juga pergi ke Hudaibiyah dan terlibat dalam bai'at Ar. Ridwan, selain turut serta didalam perang Khaibar. Pada tahun ke-13 H, Asma berperan besar dalam perang Yarmuk dengan menyediakan logistik bagi pasukan perang kaum muslimin, memberi minuman kepada para prajurit yang kehausan dan mengobati tentara yang terluka.
Alangkah pedihnya menyaksikan jasad jasad yang terbujur seperti bangkai. Mereka yang masih bernyawa seketika dirawat oleh asma agar kembali merasakan keselamatan hidup.
Ia berperan seperti seorang dokter bagi para pasukan perang umat islam. Tidak hanya itu, ia berperan seperti layaknya saudara yang menghibur janda janda yang ditinggal mati suaminya dimedan perang. Atas nama merekalah kemudian asma menjadi wakil menyampaikan keluh kesah kaum wanita kepada rasulullah.
Suatu hari, Asma menghadap kepada rasulullah.
Wahai rasulullah, sesungguhnya aku adalah utusan bagi seluruh wanita muslimah dibelakangku. Mereka semua mengatakan sebagaimana yang aku katakan dan berpendapat sesuai dengan pendapatku. Sesunguhnya Allah SWT mengutusmu bagi seluruh pria dan wanita. Kemudian kami beriman kepadamu, adapun kami para wanita terkurung dan terbatas gerak langkah kami, kami menjadi penjaga rumah tangga kaum lelaki, dan kami adalah tempat memenuhi syahwat mereka. Kamilah yang mengandung anak anak mereka, akan tetapi kaum pria mendapat keutamaan melebihi kami dari sholat jum'at, mengantar jenazah dan berjihad. Apabila mereka keluar untuk berjihad, kamilah yang menjaga harta mereka. Yang mendidik anak anak mereka. Maka, apakah kami juga mendapat pahala sebagaimana yang mereka dapat dengan amalan mereka ?
Mendengar pernyataan tesebut, Rasulullah menoleh kepada sahabat dan bersabda.
"Pernahkah kalian mendengar pernyataan seorang wanita tentang agama yang lebih baik dari apa yang ditanyakan ?"
Para sahabat menjawab "Benar, kami belum pernah mendengarnya, wahai rasulullah!" Kemudian rasulullah SAW bersabda "kembalilah wahai asma dan beritahukan kepada para wanita yang berada di belakangmu bahwa perlakuan baik mereka kepada suaminya, upayanya dalam mencari keridhoan suaminya mengikuti (patuh terhadap) apa yang disuruhnya. (selama tidak melanggar syariat) itu semua setimpal dengan seluruh amal yang kamu sebutkan dan yang dikerjalan oleh kamu lelaki. (HR. Muslim)
Setelah Asma Bin Yazid mendengar pernyataan rasulullah tersebut, asma pergi dengan perasaan yang sangat bahagia. Kekhawatirannya selama ini mengenai rendahnya status wanita dalam islam tidak benar adanya. Inilah cara islam memuliakan wanita yang memberikan baginya ruang sesuai fitrahnya. Bukan malah memaksa wanita itu bertentangan dengan fitrahnya.
Islam itu datang dari dzat yang maha adil dan maha tau, itulah mengapa islam memberikan kepada pria hal yang paling mampu dilaksanakannya, dan juga kepada wanita sesuai dengan keahliannya.
Pria dan wanita dapat berbagi tugas dan berkolaborasi dalam perbedaan. Jadi bukan tentang siapa yang kalah atau menang, bukan siapa yang mengendalikan dan dikendalikan.
Tetapi, tentang menjalankan ketaatan kepada Allah sesuai apa yang Allah perintahkan sesuai dengan fitrahnya masing masing.
Wanita tidak sama dengan Pria.
Memperlakukan mereka setara,justru bentuk ketidak adilan (105)













