Ayah, aku rindu pulang.
Sebuah cerita yang disadur dari kisah nyata. Pagi itu segala sesuatu menjadi terlambat ketika penyesalan dan air mata tidak bisa mengembalikan waktu yang ku buang dengan sia-sia. Ayah menghembuskan nafas terakhirnya tanpa memaafkan kesalahanku, sementara selembar kain putih sudah siap mengkafaniku.
Bunga desa, begitulah saapaan yang akrab untukku karena paras cantik dan tubuh bagus yang ku miliki. Setiap kali melewati jalan yang ramai, semua mata tertuju akan wajah dan lenggok gemulai ku, tak jarang bahwa diriku sendiri yang berusaha menunjukan kecantikan tersebut dengan berdandan dan memakai pakaian terbuka hanya karena senang mendapat pujian semata.
Aku tak mengerti kala itu bila cantik yang semula ku kira karunia malah berakhir menjadi fitnah dan malapetaka. Ayah berulang kali memperingatiku untuk menutupi tubuhku dengan hijab, karena kesombonganku maka akhirnya aku berhijab dengan setengah hati tanpa memahami hakikat hijab adalah untuk melindungi diri. Aku masih terus mempercantik diriku dengan segala pernak pernik kenamaan dan perawatan agar menjaga daya tarikku tidak hilang. Sehingga banyak dari mereka yang ingin mendekatiku, maka bujuk rayuan pria sering melenakan ku.
Hingga tiba lah saat hidupku kian hancur atas pilihan yang kubuat. Aku jatuh cinta dengan seorang pria tampan yang berbeda keyakinan agama denganku. Ayah selalu menentang hubungan kami dengan sangat keras, namun aku masih tidak memperdulikannya, aku masih terus mencari cara agar hubungan kami direstui, namun Ayah tetap pada pendiriannya untuk memisahkan kami. Maka aku mulai melepas kembali hijabku didepan Ayah, Ayah semakin murka dan aku memilih pergi darinya. Tidak lama dari kepergianku ku dengar Ayah jatuh sakit, aku kembali pulang dengan mengabarkan pada ayah bahwa aku sudah terlanjur berzina dengannya dan berpindah keyakinan agama dengan harapan Ayah akan merestui kami. Namun kondisi Ayah semakin kritis setelah ucapanku, Ayah bersumpah tidak akan pernah memaafkanku. Tangisku pecah setelah mengucap lantang sumpahnya di hadapanku Ayah pergi untuk selama-lamanya.
Kepergian Ayah tidak lantas membuatku sadar, aku masih dilenakan dengan gaya hidup yang jauh dari sosok muslimah yang Ayah harapkan. Seiring berjalannya waktu kecantikan ku memudar, satu persatu gigiku tanggal, kulit yang semula ku rawat dengan baik bermunculan kerutan. Tidak ada lagi yang menarik dariku selain hidung mancung dan alis lurus, yang ketika seseorang melihatku pun akan tahu, bahwa aku terlahir cantik namun kini sudah tak lagi menarik. Apa artinya menjadi cantik jika dirimu tidak diperlakukan sebagaimana islam memuliakan seorang wanita. Pada akhirnya pilihan yang ku perjuangkan justru menelantarkanku.saat ini aku bergantung hidup di sebuah panti sosial khusus lansia. Kesendirian di hari tua membuatku sadar, dan diluputi penyesalan mengapa waktu yang kubutuhkan untuk bertaubat begitu lama dan jalan yang begitu jauh. Sesal dan air matapun tak ada artinya ketika banyak hal yang telah ku sia-siakan sebelumnya. Kini di pembaringan ku, terbentang selembar kain putih yang siap membungkus tubuhku. Ayah aku rindu rasanya pulang.
Dara Qodisa x Hijrh. Project









