Rintik hujan sore itu seolah tak memecah keheningan kami, aku dan suami terduduk di lorong menunggu dokter obygn dengan wajah penasaran dan perasaan cemas tentunya.
Beberapa waktu sebelumnya, kami memang sepakat untuk memeriksakan diri sebab si buah hati tak jua kunjung hadir di tengah kami, meski berbagai usaha telah kami upayakan.
Akhirnya hari itu tiba, namun kami datang dengan keluhan yang berbeda. Beberapa saat terakhir setiap kali datang bulan, nyeri di perutku semakin tak tertahankan rasanya luar biasa, lebih dari apa yang pernah kualami.
Kami dengan sabar menunggu, setelah rangkaian pemeriksaan selesai, dokter mendiagnosis dengan sesuatu yang tak pernah ku tahu sebelumnya 'endometriosis' di mana jaringan dari dalam dinding rahim tumbuh di luar rongga rahim, dan dokter menjelaskan bahwa dengan keadaan ini peluang untuk mendapatkan momongan akan sulit.
Seketika hening menjadi lebih sunyi, gelap, bahkan dinginnya hujan terasa masuk menusuk tulang. Harapan untuk segera promil pun sirna, dokter menyarankanku melakukan terapi hormon menggunakan obat selama 3 bulan berturut-turut.
Hingga tiba hari dimana obat terakhir ku habis. Seolah masih belum selesai, dokter menyarankan kembali menambah dosis untuk 3 bulan kedepannya namun kami memutuskan untuk beristirahat sejenak menata ulang pikiran dan perasaan. Setelah tenang kami pun mengambil langkah promil dengan dokter yang berbeda dan sepertinya kami harus kembali menahan rindu untuk bisa bertemu si buah hati.
Selang dua bulan setelah itu, ketika kami memilih untuk lebih bersabar menantimu, kamu hadir ditengah ketidaktahuan kami, seolah ingin memberi kejutan kepada kami "ayah, bunda terima kasih sudah berusaha kuat sejauh ini"
Yaa, ada hari-hari dimana awan hitam terasa menyelubungimu, tapi bukankah cuaca tak selalu gelap?
Ada satu kalimat yang ku suka. Semakin kuat suatu badai, semakin cerah langit sesudahnya. Dan kini kamu hadir sebagai keajaiban yang tidak akan berhenti menjadi keajaiban bagi kami, orang tuanya.