“My favorite place to vacation is anyplace by the ocean.” – Nina Arianda Sepakat deh ama quotenya Mbak Nina 🤭😉😁🌊🌴 Kali ini foto ama patungnya aja dulu, kalo beta su jadi sultan baru ketemu ko eee 🦈🐳 #PantaiGedo #Nabire #HiuPaus #GuranoBintang (di Nabire, Papua, Indonesia) https://www.instagram.com/p/B6h1wEDpoHI/?igshid=4oh47wnfhk7i
Sedih banget dengan kabar ini, fakta ini membuktikan bahwa laut Indonesia tercemar sampah plastik. Semoga kita semua semakin sadar betapa perlunya menjaga lingkungan. Lihat full videonya di YouTube: Indoflashlight, atau bisa klik link di instastories IF, atau melalui sorotan Satwa&Lingkungan, Link: https://youtu.be/TzlX5aU90AQ Informasi dari: Akademi Komunitas Kelautan dan Perikanan / M Irpan Tassaka. #indoflashlight #satwadanlingkungan #hiupaus #savehiupaus #wakatobi #indonesia (di Wakatobi) https://www.instagram.com/p/BqcJ2OBB3T2/?utm_source=ig_tumblr_share&igshid=na7x1f1h8sor
Kemarin pagi , Sabtu 9 April, sekitar jam 6.15 WITA gue, Mbak Yuli dan Iang pergi ke pantai Botu Barani yang katanya lagi ngehits karena banyak Paus yang terdampar di perairan dekat pemukiman warga itu. Gue penasaran dong, maksudnya terdampar gimana, setau gue namanya ikan terdampar ya mati, tapi katanya hidup, terus jumlahnya 8 ekor pula. Ga kebayang juga maksudnya gimana. Sebelum berangkat gue ga ada kepikiran sama sekali buat browsing, karena gue masih antara percaya dan ga percaya. Modal motoran, HP, action cam sama duit pas-pasan kami berangkat menuju lokasi.
Cuma butuh sekitar 45 menit naik motor untuk sampai ke pantainya. Awalnya sih agak bingung, soalnya dikasih tau sama om-om penjaga parkir (kalo di Jakarta biasa disebut mas-mas, di sini sebutannya om-om) kalo mau ke pantainya lewat jalan kecil yang ada di antara rumah-rumah dan pabrik pengelupasan kulit udang. Jalannya sempit, kotor dan becek, dan bener saja di ujung jalan itu hamparan laut terbentang luas. Di pinggir pantai penuh sesak dengan masyarakat, belum lagi warga sekitar sedang membangun dego-dego (mini cottage di pinggir pantai). Di pinggir pantainya itu rame banget sama rombongan yang mau snorkeling dan diving (dalam hati sih “oh bisa snorkeling yah, tau gitu gue bawa perkakas deh”) .
Warga sekitar tentu ga melewatkan kesempatan ini untuk meraup keuntungan, alhasil banyak warga yang berjualan. Karena bersebelahan dengan pabrik pengelupasan kulit uddang, sekarang limbah kulit udang diperjual belikan oleh perusahaan ke masyarakat sekitar untuk kemudian dijual ke pengunjung. Selain itu, masyarakat juga berjualan makanan untuk para pengunjung, jasa ‘ojek perahu’, dan jasa kamar mandi bilas. Kondisinya crowded banget, namanya juga objek wisata yang baru ngehits. Melihat kondisinya seperti ini, lagi-lagi gue cuma bisa ngebatin “kenapa sih hampir semua aset pariwisata di Gorontalo ini cuma dikelola sama masyarakat?”. Tapi siapalah gue, di kantor aja cuman jadi babu, apalagi mau sok-sok an menyampaikan aspirasi ke para pejabat pemda. Toh gue tetep menikmati wisatanya.
Setelah rombongan para snorkeler dan diver turun ke laut, pinggir pantai berkurang sedikit lah crowdnya. Akhirnya kami menanyakan tarif ojek perahu, sepakat dengan tarif 50 ribu untuk bertiga, kami pun segera naik kapal nelayan yang ukurannya super slim. Perahu nelayan hanya dikayuh untuk mencapai lokasi, deket banget cuma sekitar 15 meter dari pinggir pantai. Ada sekitar 3 kapal nelayan dan, uhm.. puluhan diver dan snorkeler. Not kind of private spot to explore anyway, berenang dikit kepentok manusia atau kapal nelayan. Gue juga sempet ngeliat adegan ibu-ibu yang lagi snorkeling terus menyembul ke permukaan air dan bilang gini ke suaminya “Papa rame banget nih, banyak banget kapal, aku ga bisa liat apa-apa!”. Dalam hati sih gue cekikikan aja, wkwkwk mang enak!
Daaaannnn… bener aja di lokasi tersebut kita bisa liat paus berenang-renang diantara manusia dan kapal nelayan! Itu belum seberapa, yang paling seru pas kita tepuk-tepuk badan perahu si paus nongol gitu aja di samping perahu! Ada 3 ekor bergantian mendatangi perahu.
whoaa! huge creature in the sea!
Terus, 2 ekor diantaranya mangap-mangap minta makan! Kebayang ga sih gimana excitednya gue saat itu ada mamalia raksasa yang ukurannya 4 kali dari perahu nelayan ini. Jujur pas melihat mereka ini gue sama sekali gak takut, tapi dalam hati (dari tadi dalam hati mulu dah..) bertanya-tanya “kalo misalnya mereka tiba-tiba gusar, cuma menyibakkan ekornya aja 2 perahu bisa kebalik nih”. Tapi pas gue perhatiin (perhatiin banget, Kil?) wajah mereka ini emang ekspresi hewan yang jinak dan ramah sama manusia, pas buka mulut pun ga keliatan giginya kaya ikan ompong gitu, hihihi. Jadi aku percaya deh, mereka ga akan melukai manusia yang udah sering terluka seperti aku ini, eaaa. Sayangnya saat itu kita ga kepikiran banget buat beli makanan paus. Paus-paus yang sedari tadi mangap-mangap minta makan akhirnya ngeloyor pergi. Jadi ngerasa nge-PHP-in si Paus, huhu I’m sorry :(
A video posted by Adriyani Syakilah (@syukilalala) on Apr 8, 2016 at 7:10pm PDT
Menurut si om nahkoda perahu, sebenarnya keberadaan paus ini udah sekitar 2 tahun lalu. Cuma baru populer belakangan aja karena ada yang posting di sosmed. Sekitar 30 menitan di laut, matahari Gorontalo rasanya udah panas menyengat dan perahu-perahu nelayan pun jumlahnya jadi makin banyak, ada sekitar 6 perahu. Dari seberang gue bisa perahu yang memuat 3 orang anggota keluarga, si bapak yang duduk di sebelah istrinya dengan asyik melemparkan kulit udang ke mulut paus. Sementara si istri teriak-teriak ketakutan, wkwkwk. Setelah puas melihat dan merekam aktivitas para paus, akhirnya kami pun kembali pulang. Walaupun belum sempet nyemplung sih, tapi nanti-nanti lah in shaa Allah bisa nyemplung dan renang bareng mereka.
Sampai rumah, gue langsung excited cerita ke Mbak Wahyu temen serumah yang tadi ga ikutan ke pantai. Mbak Wahyu ini pada dasarnya suka jalan-jalan walaupun rada penakut, jadi pas gue liatin video-video hasil rekaman dia penasaran dan pengen banget ke sana tapi sekaligus takut, wkwkwk. Nah gue sih kalo diajakin kesana lagi buat nemenin Mbak Wahyu pasti ga nolak lah, kalo kesana lagi gue akan well prepare buat nyemplung. Mbak Wahyu sempet ngelarang-larang gue gitu kalo buat nyemplung, katanya bahaya lah, apa lah. Untuk mematahkan teori itu, gue ceritain dong bahwasanya banyak yang pada nyemplung dan mereka baik-baik aja. Tapi kan sebagai statistisi yang gak diakui, gue harus menunjukkan bukti valid. Jadilah gue browsing-browsing tentang keberadaan paus di gorontalo ini.
Dari hasil browsing gue jadi tau kalo yang tadi gue kunjungi itu bukan paus yang notabenenya adalah mamalia, melainkan sejenis ikan yang bernama hiu paus. Nah bingung kan lo, hiu apa paus nih? Dia itu ikan hiu, tapi disebut hiu paus karena ukurannya yang besar dan bentuk kepalanya yang lebar dan tumpul mirip paus. Ikan Hiu Paus ini wakaupun ukurannya besar, tapi dia jinak. Makannya ikan kecil dan plankton, manusia ga masuk daftar makanannya secara gigi aja mereka ga punya, hihihi. Sejak pulang ke rumah sampe tengah malem gue jadi banyak browsing tentang ikan hiu paus ini, fix lah udah kaya orang lagi nge-gebet dan stalking gebetannya.
Di Indonesia, lokasi yang populer untuk bisa menyelam bareng Hiu Paus ini ada di Berau Kaltim dan Taman Nasional teluk Cendrawasih di Papua Barat. Sementara gue dan orang-orang ini? Sungguh sangat beruntung dengan effortlessnya bisa ngeliat mereka cuma naik motor dan modal 50 ribu. Nah, justru saking effortless nya dan ga ada pengawasan sama pemerintah, setiap pengunjung bisa dengan bebas berkunjung kesini dengan jumlah personil dan jam yang tidak dibatasi. Sementara di Kaltim dan Papbar, lokasi hidup ikan hiu paus ini dilindungi dan dikelola wisatanya. Setiap pengunjung yang akan kesana diberikan briefing terlebih dahulu mengenai prosedur berinteraksi dengan Hiu Paus dan jumlahnya dibatasi per sesi (read this).
Kebayang kan kalo wisata ini cuma dikelola sama masyarakat? Okelah mereka ga melukai ikannya, tapi dengan antusiasme wisatawan yang semakin banyak, ada kecenderungan orientasi mereka untuk meraup keuntungan tanpa menjaga kelestarian lingkungan dan kondisi psikis si ikan-ikan (read this). Dan lagi, ternyata ada pengunjung yang dengan sengaja naik ke punggung Hiu Paus ini demi hanya untuk selfie, can you believe that? egois banget kan? (read this).
Gorontalo ini potensi alamnya luar biasa indah, ga banyak orang yang tau dan melirik ke sini. Wajar sih, pengelolaan dari pemerintah aja masih jauh dari layak apalagi mau dipromosiin secara nasional. Perhatian pemerintah bukan hanya bertujuan meraih popularitas wisata semata, justru diharapkan demi keberlangsungan ekosistem alamnya. Ntar kalo udah rusak, masyarakatnya deh yang disalahin padahal kemarin-kemarin tutup mata aja.