Salam rekan2.. beberapa highlight seputar e-vote/multi channel vote dan pemilu sbb:
1. Pada dasarnya idealisme kami adalah untuk membantu IA ITB dan panitia untuk dapat meraih dukungan dan partisipasi optimal dari alumni2 yang tidak bisa datang, belum sempat, atau bahkan kurang berminat dengan pemilu IA. Pengamatan kami, dengan metode konvensional, dimana pemilu harus hadir fisik, dengan pengerahan massa yang sifatnya vertikal (kandidat --> tim sukses --> simpatisan baik jurusan/angkatan) adalah kurang friendly bagi sebagian alumni.
2. Pengalaman angkatan kami bahwa penggalangan melalui social media spt facebook, youtube, radio streaming, dapat mereduksi pandangan apriori dan kesan tidak friendly tersebut. Ini terjadi karena penggalangan bersifat horisontal. Kenapa bisa? karena sifat sosial media yang "lebih demokratis" dan -istilahnya- saya tidak perlu datang atau berdebat atau bertatap muka langsung untuk mengemukakan aspirasi, cukup di meja kerja, atau di bis, di kamar, selama ada komputer atau smartphone, dengan koneksi internet. Features dari social media yang kaya, interaktif dan menarik membuat orang lebih merasa nyaman.
3. Tapi gairah untuk berinteraksi di sosial media, hanya akan terbangun jika alumni2 tsb (baik yang jauh maupun yang punya hambatan psikologis untuk datang ke TPS) di atas mempunyai kesempatan untuk memilih.
4. Jika gairah dan jumlah voters ini bisa ditingkatkan misalnya 2-3x lipat, maka database akan ter-update dengan sendirinya, muncul muka2 baru, simpul2 baru, kawan2 baru yang merasa diikutkan diproses pemilu dan akan lebih mudah untuk diraih nantinya oleh pengurus baru, asalkan mempunyai pendekatan yang juga partisipatif. Dan ini adalah salah satu asset terbesar yang bisa disumbangkan oleh pengurus IA dan kepanitiaan pemilu IA saat ini.
Melihat fenomena, fakta dan asumsi2 di atas, maka beberapa usulan selanjutnya adalah:
6. Kanal utk pemilihan melalui internet dan sms bisa diaktifkan. Bisa adopsi sistem yang telah dikembangkan oleh paguyuban ITB'89 dan untuk SMS dari jurusan mesin ITB, yang sudah terbukti berhasil, atau bisa juga dikembangkan sistem baru jika waktu tidak menjadi masalah. Yang penting idealismenya tercapai. Malah kami menganjurkan bahwa setelah dirumuskan dan term of references dibuat oleh panitia, bisa dibuka semacam tender sehingga akuntabilitas dan transparansi dapat dipertanggung jawabkan.
7. Dalam pembicaraan di forum2, ada penolakan karena ditakutkan evote tidak bisa dipertanggung jawabkan secara akademi dan legalitas. Sistem ini bisa diuji, bisa diaudit dan diverifikasi, sehingga justru sistem ini bisa dipertanggung jawabkan secara sains atau akademis. Dari sisi legalitas, saya bukan orang hukum, tapi IA ITB adalah suatu paguyuban yang aturan mainnya juga ditentukan oleh kesepakatan bersama, sehingga hal2 seperti ini dapat sahih asalkan menjadi keputusan bersama selama ada kepentingan yang lebih luas dan penting untuk diperjuangkan, berbeda dengan perusahaan yang ada undang2 perseroan terbatas atau pemerintahan yang segalanya diatur oleh undang-undang yang dibuat oleh legistaltif. Bp. Agung Harsoyo (EL) -yang juga aktif sebagai konsultan sistem IT KPU- sendiri pada satu kesempatan menyatakan bahwa sistem internet voting belum bisa dijadikan sistem Pemilu Nasional, karena undang-undang masih mengharuskan kehadiran fisik, tapi beliau menyatakan bahwa untuk ITB, internet voting sah-sah saja selama menjadi kesepakatan bersama untuk tujuan yang lebih baik. Dan beliau menambahkan, kalau tidak kita yang menjadi pionir, ya siapa lagi? Menarik... Atau apa kita tunggu preseden UI atau ISTN bikin dulu ? :)
8. Internet voting atau e-vote ini diposisikan sebagai sebagai komplemen, pelengkap dari apapun sistem yang sudah/akan dipakai oleh IA. Jadi jangan khawatir kalau dibilang e-vote mau take over seluruh proses pemilu. Malah sistem ini sendiri bisa menjadi back up jika ada satu dan lain hal yang tidak kita inginkan terjadi, misalnya sistem error dsb. Artinya jika kita menggunakan elektronik voting, maka penggunaan dua atau tiga sistem (internet voting, SMS dan DRE) adalah pilihan yang aman. Kita tidak ingin hal tersebut terjadi tentunya, tapi multi sistem akan memberikan rasa aman yang lebih baik bagi pelaksanaan pemilu elektronik.
9. Masalah biaya, diperkirakan anggaran lk 100 juta diluar biaya SDM -yang juga minimal- dan sebagian besar adalah volunteer. Dan kami akan mengusahakan bahwa pendanaan ini dilakukan secara swadaya. Kenapa kami usulkan/usahakan swadaya? Pertama-tama, kami murni ingin berkontribusi, tanpa mencari nama atau mencari istilahnya "proyek", tapi yang jauh lebih penting daripada itu adalah bahwa kami menggalang dukungan dari orang-orang yang benar2 concern terhadap pemilu dan IA, tapi mungkin selama ini terbenam karena tidak ada channel. Jika mereka memberikan donasi, walaupun hanya Rp 10,000.- per orang, maka IA akan mendapatkan pool alumni yang sudah mau memberikan komitmen awal. Ini adalah real potensi IA - ITB (kalau 10.000 alumni menyumbang masing2 Rp 10.000.- = Rp 100.000.000,-). Kalau rekan2 FeD bisa menyumbang 50.000 saja per orang, sudah bereslah ini :)
10. Gelombang baru inilah yang IA ITB perlukan untuk 5 dan 10 tahun kedepan. Dan seperti saya sampaikan bahwa internet voting dan sosial media memungkinkan kita meraih generasi muda, angkatan 2000 keatas. Inilah generasi penerus IA dan bangsa. Key success factor kami adalah menjangkau 20.000 alumni muda.
Bukankah kaderisasi menjadi agenda penting di IA?
Menanggapi pentingnya pertemuan fisik, itu tidak diragukan dan sangat setuju. E-vote dalam hal ini tidak dimaksudkan sebagai pengganti, tapi lebih kepada ekstensi. Secara teknis bisa saja e-vote tidak di-ON kan pada hari-H untuk meraih momentum pada hari H. Tapi tentu ini tak lepas dari pengorganisasian acara yang baik oleh panitia.
Setelah beberapa kali kami diajak presentasi, dialog, maka hal-hal diatas sudah seluruhnya kami kemukakan kepada panitia dan steering committee. Kabar terakhir adalah bahwa keputusan mengenai hal ini akan diambil Jumat 26 Agustus ini. Jika kawan2 merasa ada yang perlu dikoreksi silahkan, dan juga jika kawan2 mendukung idealisme ini, mohon dapat disampaikan/di-lobby pokok2 pemikiran ini kepada ketua dan pengurus IA ITB, panitia, anggota steering committee, dan seluruh alumni.
Tak lupa kami ucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada seluruh kawan2 yang mendukung dan selalu memberikan semangat, panitia dan steering committee yang sudi mendengarkan pokok2 pemikiran ini. Semoga IA ITB menjadi semakin kuat dan selalu menjadi paguyuban alumni yang progresif dan memberi kontribusi aktif bagi bangsa yang kita cintai ini.
a/n paguyuban ITB'89, para founder FeD, dan rekan2 yg selalu bersemangat :)