Pengalaman Tes CD-IELTS di IALF Kuningan
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِى بِنِعْمَتِهِ تَتِمُّ الصَّالِحَاتُ
All praise is due to Allah, by whose favor good deeds are accomplished
Alhamdulillah, setelah drama PPKM yang berujung penundaan jadwal, akhirnya saya bisa tes IELTS tanggal 31 Agustus 2021 :)
Apa itu IELTS? International English Language Testing System (IELTS) adalah sistem tes Bahasa Inggris internasional yang terpopuler di dunia untuk keperluan studi, bekerja dan imigrasi. Terdapat 2 modul untuk IELTS yaitu Academic dan General Training. IELTS menguji keempat keterampilan berbahasa: mendengarkan (Listening), membaca (Reading), menulis (Writing), dan berbicara (Speaking). [Sumber: IDP] Format tesnya bisa dicek di situs resmi IELTS (https://www.ielts.org/for-test-takers/test-format).
Berhubung tahun depan sudah bisa mengajukan tugas belajar, saya berencana untuk mulai mendaftar beasiswa dan berburu Letter of Acceptance (LoA) kampus tahun ini supaya tahun depan bisa langsung berangkat. Qadarullah, di hari saya tes IELTS dapat kabar belum bisa dapat surat izin untuk daftar LPDP karena belum 2 tahun jadi PNS hahaha.
Saya memutuskan untuk memilih lokasi tes di IALF Kuningan karena yang paling dekat dengan kos. Karena kronologi pendaftaran IELTS cukup panjang dan sebenarnya tidak terlalu penting, saya tuliskan di postingan yang lain (bisa dibaca di sini barangkali ada yang mau baca haha). Saya memilih computer-delivered IELTS dengan beberapa pertimbangan sebagai berikut:
Hasilnya lebih cepat keluar (3-5 hari setelah tes) dibanding paper-based (kurang lebih 13 hari setelah tes)
Bagian listening menggunakan headphone sedangkan kalau paper-based (berdasar cerita orang-orang) pakai speaker bersama.
Waktu coba simulasi di https://cdielts.gelielts.com/ pada bagian reading terdapat fitur untuk highlight dan tambah notes, bisa copy-paste juga. Di bagian writing, terdapat fitur word count, jadi tidak perlu menghitung manual seperti kalau menulis di kertas. Selain itu, tulisan tangan saya jelek haha, biasanya kalau latihan writing, pasti banyak hapusan, dan ini lumayan makan waktu. Mengetik jauh lebih cepat dan mudah untuk saya.
Saya dapat jadwal di sesi pagi. Tes dimulai jam 09.00 pagi, namun peserta diminta datang 45 menit sebelum ujian untuk pengecekan identitas, scan sidik jari, dan foto. Saya sampai di lokasi sekitar jam 08.00 pagi dan langsung diminta untuk menyimpan barang di loker. Yang boleh dibawa ke ruang tes hanya identitas diri dan botol minum transparan, kalau beli air mineral, merknya dilepas dulu. Ketika sampai di ruang tunggu, saya kaget kalau peserta lain masih membawa barang haha, seketika krik krik dan batin ini harus ngapain ga ada hape hahaha. Tidak berapa lama, peserta yang lain diminta untuk menyimpan barang di loker, disini saya bersyukur sudah menyimpan barang duluan jadi tidak perlu antri bersama peserta yang lain.
Kurang lebih 30 menit sebelum ujian, peserta mulai dipanggil satu persatu untuk pengecekan identitas, scan sidik jari, dan foto. Prosedur kesehatan di IALF perlu diacungi jempol, karena hampir di setiap tahapan, pasti diminta untuk pakai hand sanitizer. Pada saat pengecekan identitas dan sesi foto, masker harus dilepas, jadi pastikan memakai masker yang mudah dan cepat untuk dilepas pasang. Setelah selesai foto, peserta diminta menunggu sebentar sebelum dibawa ke ruang tes.
Mendekati jam 09.00, peserta diarahkan ke ruang tes, kemudian dilakukan pengecekan identitas dan scan sidik jari lagi, setelah itu diarahkan untuk menempati bilik-bilik komputer yang tersedia. Bilik komputernya lumayan lapang. Urutan tes dimulai dari listening, reading, dan writing. Berbeda dengan TOEFL ITP, di tes IELTS diperbolehkan untuk ke toilet pada sesi reading dan writng, namun tidak ada penambahan waktu tes. Jadi kalau mau ke toilet bisa diperhitungkan sendiri waktunya.
Alhamdulillah, ketika tes, saya tidak mengalami kendala. Bahkan soal yang saya dapat, surprisingly, saya rasa lebih mudah dibanding latihan soal simulasi dan prediction, alhamdulillah :”) Namun demikian ada beberapa evaluasi untuk perbaikan ke depan kalau mau ambil tes lagi.
Fokus di bagian listening harus ditingkatkan. Di bagian awal dan akhir setiap part agak keteteran karena harus pindah ke bagian lain secara manual. Bisa dilihat pada gambar di bawah (sumber: https://cdielts.gelielts.com/), panah digunakan untuk berpindah antara satu part ke part yang lain. Kalau timing-nya tidak pas, kehilangan fokus sejenak di bagian awal sangat mungkin terjadi.
Catatan lainnya di bagian listening, perbanyak vocabulary dan tahu cara menulisnya hahaha. Saya masih ingat ketika tes mendadak lupa bagaimana cara menulis empati dalam bahasa inggris, antara emphaty atau empathy. Perhatikan juga kemungkinan typo ketika mengetik jawaban isian singkat, misal seharusnya menulis exploitation namun tidak sengaja mengetik explotiation, sudah dipastikan jawabannya salah. Di akhir listening ada waktu sekitar 2 menit untuk melakukan cek ulang jawaban, jadi pastikan waktu ini digunakan dengan baik, minimalnya untuk cek ketikan.
Di bagian reading alhamdulillah dapat teks yang paragrafnya singkat-singkat, jadi tidak perlu waktu lama untuk menyelesaikannya. Selain itu, fitur highlight dan copy-paste sangat membantu untuk menjawab. Saya selesai mengisi jawaban di bagian ini kurang lebih 35 menit, personal best lah kalau di olimpiade. Secara biasanya tes TOEFL atau kalau latihan bisa sampai mepet-mepet waktu mengerjakannya haha. Namun, drama sesungguhnya ada di bagian ini haha, saya sempat 2 kali ke toilet. Jadi, waktu yang tersisa untuk cek jawaban kurang lebih 10 menit di akhir sesi. Catatan di bagian ini, tentu saja banyak-banyak latihan membaca, teknik skimming dan scanning juga perlu ditingkatkan, karena belum tentu dapat teks dengan paragraf yang singkat-singkat lagi.
Pada bagian writing, sempat blank-ga-tau-mau-ngetik-apa haha. Apalagi waktu dengar bunyi keyboard peserta lain, wah tambah tertekan haha, namun berusaha untuk tetap tenang. Di task 1 masih oke, saya dapat 2 bar chart. Di task 2, tiba-tiba blank lagi dan ga-paham-sama-pertanyaannya. Mencoba logika artinya pun tidak berhasil, jadi saya memberi jawaban sesuai dengan topiknya dan tidak yakin apakah berhasil memberikan kesimpulan yang sesuai. Pertanyaan di task 2 seperti ini, hasil googling dan dapat pertanyaan yang persis sama ketika saya tes:
In some countries, people are possible to have a wide variety of foods have been transported all over the world. To what extent the benefits of this development outweigh the drawbacks?
Selesai tes, saya udah pasrah dan berharap bisa tembus angka 6 aja. Dan ketika keluar hasilnya dan dapat 6,5 di bagian writing, wah rasanya sangat bersyukur, mengingat ketika prediction dan latihan writing di website https://writeandimprove.com/ hasilnya stuck di 5,5 :”)
Masih harus banyak latihan untuk writing, apalagi di bagian complex sentence dan penggunaan conjunction. Sepertinya harus segera menjadwalkan kelas writing atau advanced grammar.
Di bagian speaking, alhamdulillah dapat topik yang saya lumayan kuasai, yaitu puzzle, jadi bisa bicara banyak dan menunjukkan antusiasme, meskipun ternyata belum cukup untuk dapat 6,5. Peer di bagian ini, selain grammar dan penguasaan kosakata, tentu saja pronounciation haha. Catatan lainnya yaitu harus belajar menyampaikan dengan runtut, karena sepertinya saya banyak yang alurnya maju mundur ketika menjelaskan. Di IALF, tes speaking dengan native, sediki banyak tetap harus menyesuaikan pendengaran dengan aksen pewawancara. Karena pandemi, ketika speaking tetap menggunakan masker, jadi pastikan masker yang digunakan nyaman untuk berbicara ya.
Hasil tes keluar sekitar 3-5 hari dan bisa dicek di https://ielts.idp.com/results/check-your-result. Di hari ketiga setelah tes, saya sudah coba cek, antara penasaran dengan hasilnya atau tidak sabaran beda tipis haha, namun belum tersedia. Di hari keempat, saya whatsapp ke IALF dan diberi tahu kalau hasil tes biasa keluar di hari kelima, namun sekitar jam 11 malam saya iseng cek, hasilnya sudah tersedia di web. Alhamdulillah :”)
IELTS Simulation Test vs IELTS Official Test
Paling kaget dengan hasil writing karena selama latihan di https://writeandimprove.com/ selalu stuck di angka 5,5 :”) Speaking yang saya kira bisa dapat 6,5 ternyata masih belum cukup, it’s okay :D Dari 4 bagian tes, hanya speaking yang saya ikut kelas berbayar di Kobi Education, yang lainya belajar mandiri dan cari latihan yang gratis. Dengan overall 7,0 dan band 6,0 insya Allah sudah cukup untuk mendaftar beasiswa dan jurusan yang diingkan :D
Setelah diingat-ingat, persiapan saya untuk tes IELTS dimulai dari tahun 2018, namun memang tidak pernah intensif. Saya sempat les di LIA selama kurang lebih 3 bulan, namun hanya 2 kali pertemuan setiap minggu dengan durasi kurang lebih 1,5 jam per pertemuan. Setelah itu belum pernah les lagi, cuma sering iseng ikutan simulasi tes kemampuan Bahasa Inggris gratisan semacam EF Set atau Duolingo English Test. Sejak kuliah sepertinya saya hampir selalu memakai subtitle Bahasa Inggris kalau menonton film. Akhir-akhir ini juga kalau lagi rajin, baca buku atau dengar kajian atau podcast dalam Bahasa Inggris, Jadi, exposure-nya lumayan, meskipun tidak belajar secara intensif.
Dari semua yang saya tulis, bagian yang paling penting adalah selalu minta Allah untuk berikan kekuatan, kemudahan, dan kebijaksanaan dalam setiap prosesnya :”)
Sekian pengalaman tes IELTS dari saya, semoga bermanfaat!
---
PS: ada beberapa postingan terkait yang semoga juga bermanfaat:
Pengalaman IELTS Prediction di Schoters
Kronologi Tes IELTS 2021
Link Belajar IELTS








