Bagaimana rasanya gagal lima kali berturut-turut? Sedih? Jelas. Lelah? Sudah pasti. Namun, dari semuanya, aku bersyukur karena Allah memberikan ketenangan dan kelapangan hati yang mungkin tidak dirasakan oleh orang lain.
Aku juga masih punya banyak waktu sebelum batas usia tugas belajar dan pendaftaran beasiswa untuk S2 habis, jika dibandingkan teman-teman CPNS seangkatanku yang lahir di tahun 1988-1990. Selama kesempatan itu masih terbuka, aku akan tetap memperjuangkannya.
-----
Selangkah, selangkah...
Kalau kuingat perjalanan tujuh tahun terakhir (sejak pertama kali daftar Australia Awards di tahun 2018), setiap tahunnya, aku selalu merasa selangkah lebih dekat.
2018: Lulus seleksi CPNS
2019: Kerja sebagai CPNS dan dapat diklat TOEFL ITP
2020: Dilantik sebagai PNS, tes TOEFL ITP dapat skor 607
2021: Tes IELTS dapat skor 7.0, gagal seleksi Chevening
2022: Dapat LoA Conditional dari UCL, gagal seleksi LPDP 2 kali
2023: Dapat LoA Conditional dari UCL dan University of Manchester, gagal seleksi LPDP 2 kali
2024: [sampai Juni 2024] Tes IELTS dapat skor 7.5, tes TOEFL iBT dapat skor 96, dapat LoA Unconditional dari University of Manchester, University of Chicago, University of Melbourne, dan UNSW, gagal seleksi LPDP 1 kali
Cause it's a long, long, long, journey...
FIM aja aku usahakan tujuh kali, apalagi untuk beasiswa lanjut studi :)
Gagal pada seleksi substansi beasiswa LPDP untuk ketiga kalinya membuatku menyadari bahwa sepertinya aku terlalu lama beristirahat untuk "mengembangkan diri". Kulihat empat tahun ke belakang, sangat sedikit portofolio yang berkaitan dengan keahlian. Terakhir kali aku mengikuti pelatihan untuk mendapatkan sertifikasi ada di tahun 2020, sebelum pandemi.
Akupun memutuskan untuk mendaftar pelatihan atau short course dalam rangka meningkatkan kapasitas diri. Singkat cerita, dalam kurun waktu empat bulan, aku mendaftar pada delapan program (dua telah selesai, tiga gagal seleksi, dua sedang dalam proses seleksi, satu sedang berlangsung).
Program yang sedang berlangsung adalah Program Kepemimpinan SDG angkatan kelima dari SDG Academy Indonesia. Aku tahu program ini dari seorang teman di komunitas yang ikut pada angkatan keempat. Di angkatan kelima ini topik yang diangkat adalah Ekonomi Sirkular. Kebetulan aku memang sedang tertarik dengan topik ini karena sepertinya berkaitan dengan investasi hijau.
Ketika pendaftaran dibuka pada tanggal 18 September 2023, aku langsung semangat untuk mendaftar. Namun, setelah melihat formulir pendaftaran, aku mendadak tidak yakin bisa lolos karena harus mengisi kegiatan yang berkaitan dengan Sustainable Development Goals (SDGs) dan menuliskan ide capstone project. Aku menunda untuk mendaftar di hari itu dan memutuskan untuk berpikir terlebih dahulu program apa yang sekiranya feasible untuk dikerjakan sebagai capstone project.
Waktu berlalu, di hari penutupan pendaftaran tanggal 3 Oktober 2023, aku baru ingat kalau belum submit formulir pendaftaran sekitar pukul setengah sepuluh malam. Akupun segera membuka draf ide capstone project, melakukan brainstorming dengan ChatGPT, sambil mengingat-ingat apa saja hal yang kiranya harus ditulis di dalam esai.
Ide esai yang awalnya hanya narasi, aku ubah dengan metode latar belakang dan solusi dengan metode SMART Goals. Aku juga menambahkan penta helix dengan konsep ABCGM (Akademisi, Bisnis, Komunitas, Pemerintah, dan Media) sebagai bagian dari kolaborator dalam ide ini. Sekitar pukul sebelas malam, alhamdulillah aku berhasil submit formulir pendaftaran.
Tanggal 11 Oktober 2023, aku iseng membuka situs SDG Academy Indonesia dan menemukan namaku ada dalam daftar peserta terpilih Program Kepemimpinan SDG. Alhamdulillahilladzi bini'matihi tatimmusshalihaat.
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِى بِنِعْمَتِهِ تَتِمُّ الصَّالِحَاتُ
Segala puji hanya milik Allah yang dengan segala nikmat-Nya segala kebaikan menjadi sempurna.
Sempat maju mundur untuk ikut #30DaysWritingChallenge Jilid 42 karena khawatir tidak dapat menyelesaikan tantangan dengan baik. Berhubung ada yang ngajakin dan setelah pertimbangan satu dan lain hal, akhirnya saya mendaftar kembali dan alhamdulillah berhasil menyelesaikan tantangan dengan baik.
Saya akan coba merangkum pelajaran terbaik yang saya dapatkan selama mengikuti #30DWC:
Menulis adalah pekerjaan menembus ruang dan waktu. Sebuah tulisan juga mampu menembus lebih dari satu kepala. Di Jilid 42, saya lebih banyak menulis untuk membekukan kenangan dan merekam jejak. Semoga bisa menjadi pengingat di kemudian hari dan membawa banyak manfaat bagi para pembacanya.
Prinsip "if you can't finish it fast, just finish it strong" ketika ikut event lari atau jalan kaki, bisa diaplikasikan juga dalam tantangan ini. Kalau pun tidak bisa menulis setiap hari, usahakan agar sedikit demi sedikit mencicil utang tulisan agar bisa menyelesaikan tantangan dengan baik.
Tantangan sesungguhnya adalah mengumpulkan mood untuk menulis dan komitmen dengan deklarasi untuk menulis tiga puluh hari tanpa tapi.
Terima kasih banyak kepada:
Kak Selvi dan Kak Ninis yang telah membersamai ikut program ini, alhamdulillah bisa selesai bareng-bareng ya :)
Squad 4 #Fourever: @zulfazzakiyah (Guardian), kak Amalia, kak Andita, dan Kak Rimas yang bertahan sampai akhir dan rajin mengumpulkan pundi-pundi poin lewat tulisan, kuis, feedback dan KOUF Squad. Well done guys!
Mentor non-fiksi (bang Rezky) dan mentor fiksi (kak Rizka), beserta superteam Kak Ratna dan kak Prisca, untuk feedback, semangat, dan kuis yang seperti tahu bulat digoreng dadakan :)
Seluruh fighters 30DWC Jilid 42 yang tidak bisa disebutkan satu per satu untuk feedback dan keseruan bermain bersama di grup Empire.
Sampai bertemu di wahana bermain yang lain, insya Allah! ✨
Hidup bukan hanya tentang gagal dan berhasil, namun tentang bagaimana bisa mensyukuri dan berlapang dada terhadap apa yang telah diupayakan. Tentang terus belajar sepanjang hayat karena hakikatnya hidup adalah ujian. Kapan ujiannya berhenti? Ketika ruh terpisah dari jasad.
Setiap orang memiliki ujiannya masing-masing. Ada yang diuji dengan ilmunya, hartanya, pasangannya, anaknya, dan masih banyak lagi ujian-ujian yang mungkin tidak akan bisa orang lain bayangkan. Ujian-ujian tersebut ada agar kita bisa naik level. Apakah setelah naik level ujiannya berhenti? Tentu tidak. Ujian yang lebih sulit menanti di depan mata. Lantas, bagaimana agar bisa menghadapi ujian kehidupan dengan baik? Tentu saja dengan belajar dan senantiasa minta pertolongan kepada Allah agar dimudahkan, dimampukan, dilapangkan, diberikan kekuatan dan ketenangan.
Hari ini, aku kembali gagal dalam seleksi wawancara sebuah beasiswa. Kadang aku berpikir apakah aku setidak pantas itu untuk mendapatkan beasiswa ini? Alhamdulillah, dikelilingi oleh orang-orang yang selalu berpikiran positif, pikiran itu bisa kutepis dengan cepat. Sebagaimana kata-kata semangat ke atlet bulu tangkis yang kalah bertanding, aku pun menggunakan #KembaliLebihKuat untuk menyemangati diriku sendiri. Teman-temanku yang lain juga mengirimkan banyak doa dan penyemangat.
Semakin dewasa aku semakin mudah untuk lebih tenang, lapang, dan ikhlas menerima kegagalan, tentu saja karena sudah berdoa kepada Allah sebelumnya. Sekarang, aku hanya perlu menyusun ulang rencana lanjut studi dan sepertinya mengejar Unconditional Letter of Acceptance (LoA) supaya bisa langsung melewati satu tahapan dari beasiswa ini. Aku juga akan mencoba short course untuk menambah pengalaman dan beasiswa lain sebagai ikhtiar mengetuk pintu lanjut studi.
Selanjutnya, tentang target menikah tahun ini meski belum tahu dengan siapa, akan tetap coba kuikhtiarkan. Aku juga berusaha agar selalu menjadi keran-keran kebaikan untuk memudahkan dan melapangkan urusan orang lain, dan semoga bisa menjadi pemberat di Hari Pertimbangan Amal nanti. Selain itu, menunaikan amanah-amanah yang sempat tertunda, semoga Allah mudahkan untuk menyelesaikannya supaya tidak ada utang yang tertinggal di dunia ini.
Lalu, tentang target menunaikan ibadah haji, aku sudah memutuskan untuk mengikhtiarkan jalur haji plus karena yang paling memungkinkan secara kalkulasi manusia. Insya Allah juga akan tetap mengikhtiarkan haji furoda, sembari mempersiapkan fisik, mental, dan ilmu. Selama masa tunggu ini, semoga Allah mudahkan untuk menunaikan ibadah umrah dan menjadi tamu-Nya kembali.
Sedangkan untuk hal-hal yang bersifat duniawi seperti rumah dan kendaraan, aku akan coba untuk membelinya secara tunai. Berdasarkan kalkulasiku, harusnya bisa terbeli sepuluh sampai dengan lima belas tahun lagi, ya tentu saja bergantung dengan lokasi rumah dan jenis kendaraan. Yang jelas, untuk rumah sendiri selama bisa kontrak, sepertinya aku akan mengontrak saja. Pun dengan kendaraan, kalau belum bisa beli tunai, bisa memanfaatkan transportasi publik.
Terakhir, aku ingin mencoba untuk mempersiapkan kematian terbaik. Sejujurnya, aku masih belum tahu bagaimana caranya selain berdoa kepada Allah agar diberikan kematian terbaik, di waktu yang terbaik, di tempat yang terbaik, dan semoga tidak merepotkan orang lain. Mungkin aku harus mulai mencari tahu tentang rukun kematian di sekitar area tempat tinggal saat ini.
Dan sebagai pengingat kembali, aku ingin mengutip kutipan favoritku akhir-akhir ini:
You will soon find yourself in the place you have been praying so long for. Your relief is near - so get ready. Allah's blessings are upon you.
Aku terlahir di keluarga sederhana dan tumbuh besar di kota Banjarbaru, Kalimantan Selatan. Sejak kecil, kedua orangtuaku mendidik aku agar gemar membaca, salah satunya dengan memfasilitasi berlangganan majalah anak-anak. Hal ini pula yang aku rasa menyebabkanku memiliki rasa ingin tahu yang tinggi dan senang belajar hal baru. Orang tuaku juga selalu mendukung dan memberikan kepercayaan atas pilihan atau keputusan yang kuambil dalam hidup selama bisa bertanggung jawab atas pilihan tersebut. Sebuah privilese yang kurasa tidak banyak orang dapatkan.
Merantau ke Surabaya untuk lanjut studi merupakan salah satu keputusan yang banyak mengubah hidupku. Ketika kuliah, aku mendapatkan kesempatan untuk aktif di organisasi mahasiswa sejak tahun pertama. Hal ini membuatku menyadari ketertarikanku pada bidang kaderisasi dan pengembangan sumber daya manusia. Aku mulai aktif mengikuti pelatihan manajerial dan kepemimpinan dari tingkat dasar sampai tingkat lanjut, dari menjadi peserta sampai akhirnya mendapat kesempatan menjadi fasilitator dan narasumber.
Dari pengalaman yang kudapat, aku sampai pada kesimpulan bahwa setiap orang memiliki potensi untuk ditumbuhkembangkan, akan tetapi tidak semua orang memiliki privilese untuk mengembangkan potensinya. Waktu itu, masih belum banyak orang yang menyadari hal ini. Organisasi mahasiswa yang harusnya bisa menjadi wadah untuk menumbuhkembangkan potensi, terkadang malah beralih fungsi untuk menunjukkan senioritas angkatan. Ketidaksetujuanku pada hal tersebut, membuatku tertarik untuk mengubah sistem kaderisasi yang ada di kampus. Walau mendapatkan banyak penolakan dari senior, aku mengusulkan untuk mendirikan himpunan mahasiswa jurusan. Setelah memperjuangkan kurang lebih selama dua tahun, akhirnya himpunan berhasil berdiri dan di tahun pertama meraih predikat himpunan terbaik.
Di tahun 2020, aku mendapatkan kesempatan untuk bergabung pada sebuah forum kepemudaan nasional. Di forum ini, aku menemukan banyak teman yang memiliki growth mindset. Teman-teman yang senang belajar, berdiskusi, dan bertumbuh bersama. Meskipun mendapat lingkungan yang membuatku merasa aman dan nyaman, aku tetap terpacu untuk meningkatkan kapasitas diri.
Malam ini misalnya, kami berdiskusi tentang buku Mindset dari Dr. Carol S. Dweck yang membahas tentang pemikiran tetap (fixed mindset) dan pemikiran berkembang (growth mindset). Pemikiran tetap adalah kepercayaan bahwa kemampuan dan kepribadian kita sudah ditentukan secara tetap, sedangkan pemikiran berkembang adalah keyakinan bahwa kemampuan dan kepribadian kita dapat dikembangkan melalui usaha dan belajar (sebagaimana gambar di bawah ini).
— Two Mindsets Carol S. Dweck, Ph.D. - Graphic by Nigel Holmes
Menurutku, semua orang memiliki potensi fixed dan growth mindset dalam dirinya, tinggal yang mana yang mendominasi ketika dihadapkan pada situasi dan kondisi tertentu. Ada beberapa pertanyaan menarik yang muncul pada sesi diskusi malam ini yang ingin coba kurangkum dan kuberikan jawaban.
Apakah setiap orang harus memiliki growth mindset?
Selama orang tersebut masih ingin bertumbuh, tentu saja orang tersebut harus memiliki growth mindset. Ketika memiliki growth mindset, seseorang akan terus terpacu untuk belajar dan meningkatkan kapasitas diri. Orang-orang seperti ini biasanya menganggap kegagalan adalah sebuah ruang untuk belajar dan bertumbuh.
Apakah dunia ini butuh keseimbangan antara orang-orang dengan growth mindset dan fixed mindset?
Menurutku, dunia ini justru membutuhkan lebih banyak orang dengan growth mindset agar bisa membuat dunia lebih baik. Orang-orang seperti ini biasanya memiliki tendensi untuk mencari solusi atas permasalahan yang terjadi.
Apakah growth mindset berhubungan dengan open dan close minded?
Tentu saja berhubungan. Orang-orang dengan growth mindset cenderung lebih terbuka dalam menerima kritik dan mengambil pelajaran dari kritik tersebut. Sebagai tambahan, orang-orang ini juga biasanya lebih mudah beradaptasi dengan perubahan yang terjadi.
Exceptional individuals have “a unique talent for identifying their own strengths and weaknesses.” Those with a growth mindset seem to have that talent.
Ada beberapa emosi dasar yang dirasakan oleh manusia, di antaranya yaitu kebahagiaan, kesedihan, ketakutan, jijik, marah, kaget atau terkejut, dan merasa bersalah. Semua emosi ini perlu divalidasi untuk mengurangi luka emosional, meningkatkan kualitas hubungan, dan meningkatkan regulasi emosi.
Dilansir dari Psychology Today, ada lima langkah yang dapat dilakukan untuk melakukan validasi emosi, di antaranya yaitu:
1. Meningkatkan kesadaran terhadap emosi pada diri
Agar bisa memvalidasi dan meregulasi emosi, hal pertama yang harus dilakukan adalah sadar bahwa kita sedang merasakan emosi tersebut. Ada tiga hal yang bisa ditanyakan untuk menyadari emosi yang sedang dirasakan: Apa yang sedang aku rasakan secara fisik? Apa yang sedang aku pikirkan? Label emosi apa yang akan aku sematkan pada pengalaman ini?
Memerhatikan sensasi fisik yang sedang dirasakan merupakan awal yang membantu karena emosi biasanya menunjukkan keberadaannya dalam diri kita dan memicu kita untuk bereaksi. Misalnya saat cemas atau panik, jantung akan berdegup lebih kencang dan membuat kita bersiap untuk menghadapi "ancaman" yang akan datang.
2. Menerima hal yang coba dikomunikasikan oleh emosi
Memperhatikan pikiran yang terlintas dapat berguna untuk memberikan beberapa konteks tentang apa yang sedang coba dikomunikasikan oleh emosi kita tentang hal yang sedang kita butuhkan dan apakah kebutuhan itu terpenuhi atau tidak.
Jika kita marah, kemungkinan besar, pikiran kita akan terdengar seperti, "Wah, orang itu benar-benar kurang ajar," atau, "Situasi ini rasanya sangat tidak adil." Biasanya, di balik rasa marah terdapat rasa sedih, malu, atau takut sebagai sebuah bentuk perlindungan terhadap diri sendiri. Dengan memperhatikan dan menerima hal yang sedang emosi kita coba komunikasikan pada diri, akan mempermudah untuk meregulasi emosi tersebut.
3. Mengizinkan diri untuk merasakan emosi secara langsung
Meskipun tidak selalu nyaman untuk dirasakan, emosi sebenarnya tidak berbahaya. Tidak ada salahnya dan tidak akan ada hal buruk yang akan terjadi jika kita mengizinkan diri merasakan emosi secara langsung.
Membiarkan diri kita merasakan perasaan —mengakuinya , dan bukan menjauhinya— dapat menunjukkan bahwa kita mampu mengatasi intensitas dari emosi yang kita rasakan. Emosi sifatnya sementara dan intensitasnya akan berkurang seiring waktu. Tidak membiarkan emosi mengalir justru akan membuat kita merasakan emosi tersebut secara intens dengan durasi yang lebih lama.
4. Memvalidasi hakmu untuk merasakan apa yang kamu rasakan
Tiga kata sederhana yang sangat membantu untuk mengakui dan memvalidasi perasaan adalah "Terdengar masuk akal." Seringkali ketika kita merasakan emosi, respons pertama kita adalah mencoba untuk menemukan kesalahan dalam perasaan yang kita rasakan, atau mencari alasan mengapa seharusnya kita tidak merasakan perasaan tersebut.
“Lupakan saja” atau “Reaksimu berlebihan” mungkin merupakan sentimen yang seringkali kita katakan pada diri sendiri. Hal yang seringkali tidak kita sadari adalah kita tidak akan pernah merasakan sebuah emosi tanpa alasan tertentu. Emosi adalah reaksi terhadap sesuatu yang terjadi di lingkungan dan dapat berfungsi sebagai sebuah sistem deteksi ancaman, sehingga emosi tidak akan mungkin muncul begitu saja.
Jika kita pernah mengalami sebuah peristiwa sulit atau traumatis dalam hidup, sistem deteksi ini mungkin sangat tepat untuk mendeteksi sebuah ancaman, bahkan dalam kondisi ketika ancaman tersebut sudah tidak seperti dulu lagi. Jadi, di kemudian hari ketika kita merasakan sebuah emosi, coba tanyakan pada diri dari mana perasaan ini berasal, sehingga kita akan lebih mudah mengatakan, "Masuk akal kalau saya merasa seperti ini."
5. Menentukan tindakan penanganan, jika perlu
Setelah melakukan empat langkah sebelumnya, langkah terakhir adalah menentukan tindakan penanganan. Dalam beberapa kasus, setelah menyadari sebuah perasaan dan membiarkannya mengalir begitu saja, kita mungkin menyadari bahwa hal inilah yang kita perlukan saat ini. Di lain waktu, setelah intensitas emosi tersebut berkurang, kita mungkin ingin mengatasi hal-hal yang menyebabkan emosi tersebut terjadi. Bentuk tindakan penanganan ini mungkin akan berbeda-beda tergantung situasi dan kondisi yang terjadi. Namun ketika sudah menentukan apa yang harus dilakukan, jika di kemudian hari kita merasakan emosi serupa, kita akan lebih mudah melakukan tindakan penanganan sehingga bisa mengelola emosi dengan lebih baik.
I want to resume some key takeaways that I got after reading 38 pages of a book titled Mindset (and add some comments):
Look for friends or partners who will challenge you to grow. I could not agree more with this advice. I forgot when was the first time I started to get close to people I believe will challenge me to grow and build some barriers with people I find will doubt myself.
Exceptional individuals have "a unique talent for identifying their own strengths and weaknesses." Those with a growth mindset seem to have that talent. Since 2019, I have been doing self-assessments regularly to know my strengths and weaknesses. I found by doing this I was able to improve myself and work on my weaknesses.
The fixed mindset makes you concerned with how you'll be judged; the growth mindset makes you concerned with improving. I have been practicing not being bothered by people's judgment. Because of this, usually, people define me as a stubborn and annoying person. Despite the definition, I stay firm with my principles: to not lie and tell the truth, to improve something better, and to ensure that no one is left behind.
Success is about stretching themselves. It's about becoming smarter. And if I may add: smarter and wiser.
When you are lying on your deathbed, one of the cool things to say is, "I really explored myself". It reminds me of Mr. Brown's quote: Twenty years from now you will be more disappointed by the things that you didn't do than by the ones you did do. So throw off the bowlines. Sail away from the safe harbor. Catch the trade winds in your sails. Explore. Dream. Discover.
Becoming is better than being. Becoming means we are constantly improving, while being means we stop to improve.
Even in the growth mindset, failure can be a painful experience. But it does not define you. It's a problem to be faced, dealt with, and learned from. Although getting used to failure, it is still a painful experience for me. Yet, I believe there will always be something I can learn from.
Bulan ini aku sedang mengikuti program hafalan surah As-Sajdah dari Ngafal Ngefeel. Selain setoran dan tadabbur ayat tiap hari, ada focus group discussion (FGD) untuk sharing hikmah atau tadabbur ayat favorit dari sesama peserta. Semua peserta sepakat kalau setiap ayat di surah As-Sajdah punya kesannya masing-masing dan tidak akan cukup kalau dibagikan dalam waktu beberapa menit. Di sini, aku akan mencoba merangkum beberapa mutiara hikmah yang kudapatkan dari sesama peserta.
Tentang Syukur
ثُمَّ سَوّٰىهُ وَنَفَخَ فِيْهِ مِنْ رُّوْحِهٖ وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالْاَبْصَارَ وَالْاَفْـِٕدَةَۗ قَلِيْلًا مَّا تَشْكُرُوْنَ
Kemudian, Dia menyempurnakannya dan meniupkan roh (ciptaan)-Nya ke dalam (tubuh)-nya. Dia menjadikan pendengaran, penglihatan, dan hati nurani untukmu. Sedikit sekali kamu bersyukur. — As-Sajdah [32]:9
Ayat ini mengingatkan kembali betapa banyak kasih sayang dan nikmat yang Allah berikan kepada kita sebagai manusia, tapi sedikit sekali rasa syukur kita. Semoga Allah selalu lembutkan hati kita agar mudah bersyukur terhadap karunia-Nya.
Tentang Iman
تَتَجَافٰى جُنُوْبُهُمْ عَنِ الْمَضَاجِعِ يَدْعُوْنَ رَبَّهُمْ خَوْفًا وَّطَمَعًاۖ وَّمِمَّا رَزَقْنٰهُمْ يُنْفِقُوْنَ
Lambung (tubuh) mereka jauh dari tempat tidur (untuk salat malam) seraya berdoa kepada Tuhannya dengan rasa takut (akan siksa-Nya) dan penuh harap (akan rahmat-Nya) dan mereka menginfakkan sebagian dari rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka. — As-Sajdah [32]:16
Ayat ini mengingatkan kembali bahwa agar level keimanan kita terus terjaga, maka kita harus selalu berusaha untuk menjaga salat malam. Dan agar bisa mendirikan salat malam, selain memohon pertolongan kepada Allah, kita harus senantiasa menjauhkan diri dari maksiat dan hal-hal yang haram. Tidak terbangun atau bangun tapi tidak mampu mendirikan salat malam bisa jadi tanda-tanda kalau ada dosa yang dilakukan atau hal haram masuk ke dalam tubuh. Semoga Allah mampukan kita untuk selalu mendirikan salat malam.
Tentang Peringatan
وَلَنُذِيْقَنَّهُمْ مِّنَ الْعَذَابِ الْاَدْنٰى دُوْنَ الْعَذَابِ الْاَكْبَرِ لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُوْنَ
Kami pasti akan menimpakan kepada mereka sebagian azab yang dekat (di dunia) sebelum azab yang lebih besar (di akhirat) agar mereka kembali (ke jalan yang benar). — As-Sajdah [32]:21
Ujian atau musibah yang menimpa kita di dunia ini, semoga mampu membuat kita kembali ke jalan yang benar dan lebih dekat kepada-Nya. Jangan sampai di akhirat nanti, kita mendapat azab yang lebih besar.
Tentang Sabar
وَجَعَلْنَا مِنْهُمْ اَىِٕمَّةً يَّهْدُوْنَ بِاَمْرِنَا لَمَّا صَبَرُوْاۗ وَكَانُوْا بِاٰيٰتِنَا يُوْقِنُوْنَ
Kami menjadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami selama mereka bersabar. Mereka selalu meyakini ayat-ayat Kami. — As-Sajdah [32]:24
Seumur hidup, kita akan selalu dihadapkan pada ujian kesabaran. Bersabar dalam ketaatan dan menahan diri dari kemaksiatan. Bahkan dalam menghafal Qur'an sekalipun, meski harus terseok-seok, kita harus bersabar dan selalu yakin bahwa Allah akan mudahkan.
---
Ya Allah, jadikanlah Al-Qur'an sebagai penyejuk hati kami, cahaya yang menyinari dada kami, pelipur duka kami, dan penghapus kesedihan kami, aamiin.
Setelah membahas persiapan finansial dan fisik, tulisan kali ini akan berfokus pada persiapan mental. Bisa dibilang, persiapan mental ini yang paling menantang karena lebih "abstrak" dibanding finansial dan fisik.
Ketika berada di Tanah Haram, kita tidak boleh berpikir atau ngebatin yang aneh-aneh, tidak boleh marah-marah, tidak boleh berkata kasar, dan lain sebagainya. Setiap waktu kita akan selalu diuji, entah dengan ujian sabar atau ujian syukur. Sebelum berangkat, penting sekali untuk melatih diri agar selalu berpikir positif dan berprasangka baik terhadap ketentuan Allah.
Waktu manasik, ustadz pembimbing bolak-balik mengingatkan kalau sifat-sifat asli kita akan terlihat ketika berada di sana. Ustadz juga mengingatkan kepada jemaah yang berangkat bersama pasangannya, harus meluaskan sabar dan melapangkan hati, karena ustadz pernah beberapa kali melihat pasangan suami-istri yang bercerai di depan Kakbah akibat tidak sabar terhadap pasangannya :")
Di linimasa twitterku, sempat beredar sebuah utas tentang syarat keberangkatan haji dari Malaysia tidak hanya sehat fisik namun juga sehat mental. Orang-orang yang mengidap mental disorder (misalnya gangguan kecemasan, gangguan mood, dan skizofrenia) harus dinyatakan benar-benar sembuh atau tidak pernah kambuh dalam kurun waktu tertentu untuk bisa menunaikan ibadah haji.
Setelah menjalani ibadah umrah di bulan Ramadhan, aku jadi mengerti kenapa kesehatan mental menjadi penting. Di sana, kita akan bertemu banyak orang dari berbagai penjuru dunia dengan berbagai macam bentuk fisik dan karakter. Keramaian dan kepadatan tentu saja menjadi concern tersendiri bagi pengidap atau penyintas mental disorder.
Jika dalam ibadah lain ada yang namanya batal, maka hal ini tidak berlaku dalam prosesi umrah. Ketika sudah berniat ihram, maka seluruh larangan berlaku sampai proses tahallul dilakukan. Jadi, kalau sakit atau haid di tengah-tengah ihram, tentu akan menjadi tantangan tersendiri karena ada banyak hal yang menjadi larangan dalam ihram.
Berikut adalah larangan dalam ihram berdasarkan Panduan Umrah Ringkas dari situs Rumaysho:
Mencukur rambut dari seluruh badan (seperti rambut kepala, bulu ketiak, bulu kemaluan, kumis dan jenggot).
Menggunting kuku.
Menutup kepala dan menutup wajah bagi perempuan kecuali jika lewat laki-laki yang bukan mahrom di hadapannya.
Mengenakan pakaian yang membentuk lekuk tubuh seperti baju, celana dan sepatu.
Sejak jadi badminton enthusiast paska Asian Games 2018, aku mulai belajar seluk beluk olahraga tapok bulu ini. Dari peraturan permainan, level turnamen sampai perhitungan peringkat dunia. Pun istilah-istilah populer di kalangan badminton lovers (BL, re: sebutan untuk pecinta badminton di Indonesia).
Kalau di catur ada istilah sekakmat sebagai salah satu tanda untuk memenangkan pertandingan, di badminton pertandingan dinyatakan selesai jika wasit telah mengucapkan "match won by..." atau dalam bahasa Indonesia "pertandingan dimenangkan oleh...". Selama kalimat itu belum terlontar dari mulut wasit, berapapun jarak poinnya, segala sesuatu bisa terjadi di lapangan.
"Investasi bodong" adalah istilah yang digunakan ketika pemain sudah leading jauh bahkan sudah game/match point, kemudian tertikung oleh lawan dan akhirnya kalah. Agen (atlet) investasi bodong yang paling terkenal dari Indonesia adalah Jonatan Christie (Jojo) karena tertikung 7 poin di babak perempat final BWF World Championship tahun 2022 ketika melawan Chou Tien Chen (CTC) dari Taiwan. Di gim ketiga, Jojo sudah memimpin 20-15 namun gagal mengkonversi 5 match point sampai CTC menyamakan kedudukan kemudian berhasil menang deuce. Meskipun hampir setahun berlalu, poin 20-15 ini masih sering disebut oleh BL sebagai contoh dari investasi bodong.
Kasus investasi bodong lainnya terjadi di Piala Sudirman 2023. Di babak semifinal antara Jepang dan Cina, Jepang sudah memimpin 2-1 dan hanya perlu 1 kemenangan lagi untuk lolos ke babak final dan mencetak sejarah menjadi tim pertama yang mengandaskan Cina di kandang sendiri. Partai penentu dimainkan oleh pasangan ganda putra Hoki/Kobayashi (Jepang) melawan Liu/Ou (Cina). Di gim ketiga, Hoki/Kobayashi sudah memimpin 20-16 dan hanya perlu satu poin lagi untuk menang. Namun, Liu/Ou tetap tenang dan mengubah strategi permainan hingga akhirnya berhasil menikung 20-22. Kedudukan berubah menjadi 2-2 untuk Cina. Cina pun berhasil melaju ke babak final setelah memenangkan partai terakhir, yaitu ganda putri. And the rest is history.
Begitulah yang terjadi di dunia tepak bulu. Sebelum match won by terucap, segala sesuatu masih bisa terjadi.
Finisher (noun)
— a person or thing that finishes something.
Sejak penyelenggaraan Asian Games 2018, aku lumayan rutin ikut kegiatan lari. Yang awalnya hanya virtual run sampai event lari beneran. Aku sudah pernah ikut kategori 5k, 7k, dan 10k. Aku juga pernah ikut obstacle run di tahun 2019. Salah satu obstacle-nya adalah panjat dinding dari balon (mirip-mirip yang ada di pasar malam). Ketika sedang memanjat, aku kehilangan tumpuan kemudian meluncur bebas dan sukses mendarat dengan tidak sempurna. Alhasil, pergelangan kakiku terkilir kemudian bengkak. Perlu pemulihan sekitar seminggu sampai aku bisa menggunakan kakiku dengan normal. Sejak saat itu, aku punya sebuah prinsip ketika ikut event lari: if you can't finish it fast, just finish it strong (re: kalau ga bisa lari cepat, yang penting bisa sampai garis finish dengan selamat tanpa cedera).
Biasanya, aku ikutan event lari (baik gratisan atau berbayar) yang dapat medali finisher. Jadi selama bisa finish di waktu yang telah ditentukan (cut off time), semua peserta akan mendapatkan medali. Di bawah ini adalah beberapa event yang aku ikut dan berhasil dapat medali:
Asian Games Pulang Kampung Virtual Run (Juni 2018) - 8k (multiple run)
Asian Games Gelora Obor Virtual Run (Juli 2018) - 18k (multiple run)
BNI 72 Virtual Run (Juli 2018) - 7,2k (multiple run)
Le Minerale Water Run (Juli 2018) - 5k
Run for Smiles (Oktober 2018) - 7k
BRI Life Virtual Run (November 2018) - 10,28k
Bandung Edu Fin Virtual Run (April 2019) - 10k
Milo Jakarta International (Juli 2019) - 10k
Sociolla BFF Run (Agustus 2019) - 5k (obstacle run)
Milo Indonesia Virtual Run (September 2020) - 10k
Olympic Day Fun Run (September 2022) - 5k
Dulu pace-ku sempat di angka 9+, namun sejak pandemi dan berat badanku bertambah, pace-ku semakin melambat. Sekarang, aku lebih senang jalan kaki daripada berlari. Pelan-pelan semoga bisa ikutan event lari berhadiah medali lagi, aamiin.
Hari ini, aku mengirimkan hadiah kepada pemenang Fantasy Premier League (FPL). Meskipun besarannya tidak seberapa, sang pemenang mengirimkan pesan, "Orang kok pada baek-baek bener yak." Kemudian aku menjawab, "Supaya orang lain percaya kalau masih ada orang baik di dunia ini." Percakapan ini mengingatkanku pada salah satu pertanyaan ketika wawancara beasiswa pekan lalu.
Bapak S, salah seorang pewawancara, mengajukan pertanyaan yang tidak kusangka-sangka. "Kenapa kita harus berbuat baik?", tanya beliau. Aku tertegun sejenak. Kemudian memberikan jawaban kurang lebih seperti ini: "menurut saya, alasan harus berbuat baik yang pertama adalah karena agama saya mengajarkan untuk berbuat baik kepada sesama. Kemudian, berbuat baik juga merupakan norma yang berlaku di masyarakat. Terakhir, karena kita tidak tahu pak kapan orang lain tergerak juga hatinya untuk berbuat baik". Bapak pewawancara kemudian memberikan tanggapan, "Nah, itu dia insight-nya, di kalimat terakhir. Menyebar kebaikan agar orang lain juga tergerak untuk berbuat baik." Aku pun mengangguk tanda mengiyakan kemudian kami lanjut ke pertanyaan selanjutnya.
Berbuat baik bisa dimulai dari hal-hal kecil, misalnya berkata yang baik atau mengingatkan dalam kebaikan. Bisa juga dengan traktir teman dengan makanan murah meriah yang bisa dimakan beramai-ramai seperti cireng, cilok, atau martabak. Dan masih banyak lagi hal-hal lain yang bisa dilakukan untuk berbuat baik. Jadi, mau berbuat baik apa lagi hari ini?
Ketika kamu mengunjungi Kabupaten Sukamara yang berada di Provinsi Kalimantan Tengah, tidak lengkap rasanya jika belum mencicipi santapan lezat khas Sukamara yaitu Kerupuk Basah. Meskipun namanya "kerupuk", namun tidak krenyes-krenyes ketika dimakan. Jangan bayangkan kalau Kerupuk Basah ini seperti seblak karena Kerupuk Basah ini lebih mirip dengan Pempek khas Palembang. Kerupuk Basah ini memiliki beberapa naman. Di Putusibau, Kalimantan Barat, Kerupuk Basah lebih familiar dengan nama Temet, sedangkan di Pangkalan Bun lebih terkenal dengan sebutan Kerupuk Bata.
Apa sih rahasia dari kenikmatan kerupuk khas Sukamara ini? Hidangan ini biasanya diolah dari ikan gabus haruan atau dari ikan sungai lainnya. Ukurannya yang jumbo dan tebal, serta warna yang merahnya menyala menjadi ciri khas dari kerupuk ini. Secara tradisional, hidangan ini dinikmati dengan sambal khas Kalimantan yang lezat. Selain itu, bisa juga dinikmati dengan cara dicocol dengan sambal kacang yang gurih pedas.
Saat ini, Kerupuk Basah bisa dibeli lewat e-commerce. Seiring dengan perkembangan zaman, mulai muncul berbagai macam inovasi dari penyajian Kerupuk Basah, misalnya dengan menambahkan isian yang bervariasi seperti daging, abon, dan lainnya. Untuk mencicipi rasa yang memanjakan lidah dari seporsi Kerupuk Basah ini, tidak perlu merogoh kocek yang cukup dalam, karena harganya berkisar Rp10.000-20.000 saja. Murah bukan?
Jadi, apakah kamu penasaran untuk mencobanya? Yuk ke Sukamara!
Malam ini (28/05) adalah focus group discussion yang menjadi kelas terakhir dari Campfire Session: A Baby Step of Marriage Preparation dari Pre Marriage Talk. Ada beberapa catatan penting dari pertemuan ini:
Pasangan harus kuat dan saling jaga satu sama lain pada "peperangan yang tidak terlihat." Setiap keluarga punya ujiannya masing-masing. Tugas seorang suami adalah melindungi istrinya apabila ada hal-hal yang mungkin memicu "peperangan" (khususnya) dengan keluarga besar. Tugas seorang istri adalah memberikan dukungan kepada suami. Tadi pagi ga sengaja lihat spanduk yang tulisannya closer friendship, stronger partnership yang menurutku sesuai dengan pertemanan seumur hidup dalam pernikahan.
Komunikasi dan kompromi adalah dua hal paling dasar dalam pernikahan. Perbedaan life style, kebiasaan, karakter (dan masih banyak hal lainnya) kalau tidak dikomunikasikan dan dikompromikan akan bisa jadi konflik di kemudian hari. Ketika memilih untuk menikah dengan seseorang, pastikan bisa menerima sepaket kelebihan dan kekurangannya, karena setiap paket ada konsekuensinya masing-masing. Sebagai tambahan, di Bicara Tentang Pernikahan #2, ada bahasan sedikit tentang komitmen dan saling memaafkan dalam pernikahan.
Terlepas dari kekurangannya, tugas seorang suami adalah memastikan ia dan istrinya (dan keluarganya) untuk bisa masuk surga bersama. Berat juga ya jadi laki-laki~ Tugas seorang istri yang "hanya perlu taat" kepada sang suami agar bisa masuk surga mungkin terlihat lebih mudah, tantangannya ada pada diri sendiri untuk "menurunkan ego" apalagi kalau yang ngakunya alpha woman hehe. Namanya juga ibadah seumur hidup, tentu tantangannya akan lebih berat. Selalu berdoa agar Allah beri kekuatan dan penjagaan untuk menyelesaikan tugas suami dan istri ini.
Selalu ingat, dia mungkin available tapi bukan untukmu. Buat yang masih high quality single, insya Allah, jangan tautkan hatimu pada seseorang yang belum pasti. Kita sudah siap, dia belum tentu siap. Dia sudah siap, tapi siapnya bukan buat kita. Kita menantinya, belum tentu dia menuju kita hehe.
Terakhir dan yang paling penting: bagian kita sebagai manusia adalah memberikan ikhtiar terbaik dan biarkan semua berjalan sesuai keridhaan Allah. Ini mah ga cuma tentang nikah, tapi berlaku untuk semua hal. Terdengar mudah, namun praktiknya sangat sulit untuk dilakukan. Sebagai manusia, kadang suka lupa kalau Allah sudah punya rencana untuk kita. Ranah kita sebagai manusia adalah berusaha sebaik mungkin untuk mencari ridha-Nya.
Sebagai penutup, mau berbagi kutipan yang semoga bisa jadi penguat dalam penantian:
You can only get married, when Allah wants you to, and you can only marry, when Allah bless it for you. No matter how hard you try or how many proposals come, it will only happen when Allah wills.
— Anonymous
Dua pekan terakhir rasanya banyak hal yang begitu berat untuk dijalani. Tiba-tiba nangis dan mellow sendiri. Bahkan di akhir wawancara untuk beasiswa, tiba-tiba ngerasa emosional dan ujung-ujungnya nangis :") Berusaha untuk menyampaikan jawaban dengan terbata-bata sampai ibu pewawancara bilang "it's okay darl, you can continue..., it's okay sayang..." dan bapak pewawancara ngasih two thumbs up untuk kasih semangat. Semoga Allah berikan kelembutan hati kepada beliau-beliau untuk ngasih nilai terbaik dan memberikan rekomendasi untukku dapat beasiswa, aamiin.
Beberapa hari yang lalu, waktu tiba-tiba nangis dan buka instagram, ga sengaja lihat postingan di atas. Langsung sendu lagi huhu. Ya Allah, tulisannya itu bener-bener sesuai banget. Benar-benar mengingatkanku kalau Allah Maha Lembut, yang se-subtle itu ngasih pengingat :")
Kemarin juga Allah ingatkan lagi bahwa hanya Allah Pemberi rezeki yang terbaik. Kurang lebih enam tahun di kampus, selama ada undian dari sebuah kegiatan, paling mentok cuma dapat handuk kecil. Di kantor sekarang juga sama, empat tahun di kantor, bahkan doorprize yang kesempatannya satu banding dua juga ga ada yang nyantol. Baru kemarin sore, setelah paginya minta sama Allah untuk dapat handphone dan istighfar sebelum ambil undian, alhamdulillah dapat televisi.
Lalu hari ini, di sesi Campfire terakhir dari PreMarriageTalk, narasumbernya memberikan sebuah pengingat yang sangat menghangatkan hati.
Mudah bagi Allah untuk membuat seseorang menikah dan mudah bagi-Nya untuk mengabulkan do'a-do'a kita yang lain selama Ia berkehendak. Kun fa yakun, jadi maka jadilah. Perlahan, hidup yang dua pekan ini rasanya berat sekali, atas seizin-Nya, alhamdulillah menjadi lebih ringan untuk dijalani.
Beberapa waktu yang lalu, tidak sengaja melihat seorang teman membagikan postingan di instagram tentang speedometer dunia sesuai dengan ayat-ayat dalam Al-Qur'an. Dua hari yang lalu, ketika aku tilawah juz 27 dan sampai pada surah Adz-Dzariyat ayat 50, aku teringat kembali dengan postingan ini. Berlarilah, berlarilah sekencangnya menuju Allah :")
Di hari yang sama, ketika aku membuka twitter, aku tidak sengaja melihat tweet dari Ustadz Salim (semoga Allah jaga beliau) tentang hal yang sama.
Hari ini, alhamdulillah aku mendapatkan hadiah undian sebuah televisi ukuran 32 inch. Sebelum mengambil undian, temanku mengingatkanku untuk shalawat terlebih dahulu. Alih-alih banyak bershalawat, aku malah banyak beristighfar karena tidak ingin shalawatku hanya semata karena dunia. Ketika mendapatkan hadiah tersebut, aku tiba-tiba ingat bahwa setelah shalat aku sempat berdo'a kepada Allah supaya bisa dapat handphone. Bukannya dapat handphone, malah dapat televisi dengan merek yang sama. Namun aku yakin, rezeki tidak akan pernah tertukar.
Ketika shalat Maghrib berjama'ah di kantor, imam shalat membaca surah Al-Jumu'ah ayat 9-11 di rakaat pertama. Seketika aku terhenyak. Teringat kembali tentang speedometer dunia. Kali ini tentang bergegas untuk menuju shalat. Dan di ujung ayat 11, aku seakang diingatkan kembali bahwa Allah adalah Pemberi Rezeki yang terbaik :")
Kejadian-kejadian yang begitu berdekatan ini, membuatku kembali mentadabburi ayat-ayat tentang speedometer dunia. Jangan sampai salah menentukan kecepatan karena akan berpengaruh pada keamanan dan keselamatan selama perjalanan. Semoga Allah selalu berikan kita petunjuk dan lembutkan hati kita agar bisa selamat di dunia ini, aamiin.
Beberapa hari yang lalu, aku kembali membaca ulang proposal nikah seorang teman yang ingin kujadikan referensi. Di bagian kriteria pasangan, dia menuliskan "punya proyek menghafal Al-Qur'an seumur hidup." Deg, seketika aku tertegun dan membatin, oke, aku sepertinya harus mencantumkan ini juga sebagai tambahan kriteria selain jumlah hafalan.
Pagi ini, tiba-tiba terbersit di benakku untuk tilawah Al-Kahfi bareng teman-teman. Sejujurnya aku tidak yakin akan banyak yang ikut karena aku mengundang di grup umum, bukan grup tilawah, one day one juz, atau grup hafalan. Bahkan setelah kubagikan tautan Zoom pun tidak banyak yang merespon. Bismillaah, karena sudah niat, aku teruskan saja, barangkali nanti ada yang menyusul. Dari awalnya cuma berdua, alhamdulillah di akhir ada lima orang yang berpartisipasi.
Selesai tilawah, tiba-tiba seorang teman bertanya tentan nun wiqoyah, kami pun akhirnya berdiskusi singkat tentang hukum bacaan tersebut. Sependek pengetahuanku, bahasan tentang nun wiqoyah ini biasanya dibahas di kelas tahsin level menengah-ke atas. Untuk tahsin pemula, kemungkinan kecil akan dibahas.
Selang beberapa waktu, seorang teman bertanya kepadaku rekomendasi kelas tahsin online. Karena kelas tahsin yang kuikuti masih dalam periode pembelajaran dan mungkin baru buka pendaftaran lagi di bulan Juni atau Juli, aku coba merekomendasikan di tempat lain yang sedang buka pendaftaran.
Dari peristiwa-peristiwa di atas, aku menyadari kembali bahwa belajar dan mengajarkan Al-Qur'an adalah proyek seumur hidup karena Al-Qur'an adalah petunjuk hidup yang diturunkan Allah kepada seluruh manusia. Saat ini mungkin aku belum punya kapasitas untuk mengajar, baik dari sisi tajwid, tahsin, ataupun tafsir. Namun, aku akan tetap mencoba untuk berbagi ilmu dan informasi tentang Al-Qur'an. Juga sharing tentang tadabbur, baik mandiri ataupun setelah ikut kelas atau kajian.
Suatu hari nanti, jika Allah mengizinkan, aku ingin mengajar iqra untuk anak-anak atau kelas tahsin untuk pemula. Semoga Allah mudahkan dan mampukan, aamiin :)