Menjadi ibu itu luar biasa ya. Tingkahnya nggak pernah habis. Adaaa aja yang dikerjakan, sampai kadang merasa "dikerjain".
Sedang diuji anak susah makan dan ibunya yang sering tantrum.
Mungkin menulis ini adalah bentuk kekhawatiran, kecemasan, atau... cara saya menenangkan diri. Iya, jadi new mom itu memang banyak sekali yang kudu dipelajari, yang kadang keteteran. Bayi udah satu tahun, feeding rules buat bayi enam bulan baru berseliweran. Itulah pentingnya belajar dan mencari tahu. Saya pun ikut kelas-kelas online tentang melahirkan, parenting, mpasi, dll. Tapi penerapannya tidak semudah itu. Apa yang sulit? Emosional kita sebagai manusia, ibu, ternyata beda. Mungkin si A bisa sesabar itu, tapi si B belum tentu. Itulah yang terjadi di saya.
Saat awal kembali mengajar (setelah cuti melahirkan) sempat diskusi sama suami tentang kegalauan meninggalkan anak, lalu suami bilang, "mungkin kamu itu memang perlu ada jeda deh sama Naya, bukan berarti jauhan atau gimana ya, tapi kamu juga perlu jeda sedikiiit aja untuk diri kamu sendiri, dan ngajar tuh salah satu jedanya. Karna sebelum ada Naya, itu aktivitas kamu dan kamu enjoy dengan itu”.
Saya diam mencerna setiap kalimatnya. Sampai Naya satu tahun, barulah saya paham. Benar sekali, harus ada jeda. Meskipun full di rumah seperti libur sekarang, tetap jeda itu ada. Entah dalam bentuk Ayah yang pegang anaknya, titip nenek sebentar, titip tante, dll. Alhamdulillah, saya juga berada di lingkungan yang support banget perihal 'menitipkan anak'. Ada nenek, kakek, tante, uwa saling jaga Naya.
Kebayang nggak kalau 24 jam full sama ibu? Anak tantrum, ibu minta ampun. Bawaannya pasti emosi, kesal, dan aura negatif semua deh haha. Bukan kesal pada anak, tapi bisa jadi emosi itu muncul dari perasaan: "Ini pada kemana sih? Ngerti nggak sih gue baru lahiran? Ngerti nggak sih gue tuh capek nyusuin mulu? Kok gue mulu sih yang ngurus, ini bapaknya mana?". Dan percakapan dalam hati lainnya yang tidak terucap dan bikin akumulasi emosi itu meledak. Belum lagi suara dari kiri kanan ‘kok anaknya begini, kok anaknya belum begitu’ yang ikut nge-push rank mode marah ibu.
Gimana caranya biar emosi itu reda? Sepengalaman saya ya: MENGOBROL.
Itu cara terbaik yang bisa ibu lakukan biar tetap waras. Suami itu tidak selalu paham kode marah kita, maka bicaralah wahai kaum hawa. Percuma dipendam juga, jadi penyakit hati dan bikin sakit hati sendiri haha.
Mulailah dengan: Bisa nggak, kalau aku udah mandiin bayi, kamu yang rapihin alat mandi? Boleh minta tolong nggak jangan aku terus yang ganti popok. Nanti ayah bantu suapin ya, jangan ibu terus. HP bisa disimpan dulu nggak, ajak anak baca buku dulu".
InsyaAllah Ayah mengerti kok. Ketimbang kita para ibu menggerutu (ehmm menasehati diri). Pokoknya ya bu, jangan dipendam, luapkan apa yang ada di hatimu, maafkan setiap salah sebagai ibu baru, orang tua baru, segala hal yang mungkin banyak tidak pahamnya. Wajar kok ada trial and error itu, asal jangan error terus. Bismillah ya bu, kita kan katanya ras terkuat di muka bumi. Haha. Semangat para ibu!
Pak bapak yang baca, mempelajari seluk beluk parenting dan segala hal tentang anak itu bukan hanya tugas istri, bapak pun wajib. Ya meskipun bapak lebih sering dicolek dulu sama ibu, atau sekedar dikirim video edukasi anak, tolong ya pak ditonton dan dipahami hehe. Terima kasih untuk para Ayah yang tak pernah bosan belajar.