Ilmu yang Bermanfaat
Ada tiga amalan yang tak putus pahalanya bahkan setelah kita meninggal.
1. Doa anak yang saleh kepada orang tuanya
2. Ilmu yang bermanfaat
3. Sedekah jariyah
Kali ini saya ingin membahas tentang point ke 2 dan saya gak janji akan membahas point pertama dan ketiga versi otak saya yang pas-pas-an ya :D
Seorang guru SMA saya pernah berucap begini, "Syukurlah saya menjadi guru, setidaknya ada ilmu yang saya bisa ajarkan kepada kalian yang mudah-mudahan bisa menjadi amalan yang tak putus. Karena saya telah kehilang kesempatan untuk mendapatkan doa anak saleh. Saya gak punya anak. Saya juga tidak punya harta yang bisa saya wakafkan untuk dipergunakan orang banyak."
Gitu deh kira-kira si Ibu Guru ngomongnya. Redaksinya saya ubah-ubah lah. Wong saya SMA itu udah 23 tahun yang lalu (kalau gak mau dibilang pikun muda terrpaksa bohong ngaku-ngaku udah tua).
Cita-cita saya sendiri adalah ingin menjadi dosen. Saya juga ingin bisa menyalurkan ilmu saya disamping pekerjaan itu sendiri saya nilai cocok bagi perempuan yang ingin bisa membagi waktu antara karier dan keluarga (tsaaaaaah.. saya ngomong begini). Lantas, apapun pekerjaan saya saat ini merupakan langkah mencari pengalaman sambil mengumpul seperak-demi-seperak duit buat ngelanjutin kuliah.
Manager saya bertanya pada saya suatu ketika, "Cita-cita kamu apa, Tan" ketika saya baru bekerja di perusahaan saya itu selama 1 bulan.
"Dosen, Bu" jawab saya.
"kenapa?"
"Yaah.. selain pekerjaan itu 'aman' untuk seorang perempuan, pekerjaan itu juga membuat kita bisa memberikan ilmu yang bermanfaat yang insyaallah bisa dijadikan sebagai amalan yang tak putus"
"Yaah.. untuk bisa memberikan ilmu kan gak juga mesti jadi Dosen. Saya pun kalau saya ngajarin kamu dan itu bermanfaat bagi kamu, bukankah itu juga udah berpahala?"
Saya senyum mendengarnya.
Benar memang. Untuk bisa memberikan ilmu bermanfaat gak mesti hanya menjadi guru atau dosen. Menjadi apapun kita bisa saja menyumbangkan ilmu asal satu yang kita punya, yaitu niat untuk membagi ilmu itu kepada siapa saja. Ilmu itu sendiri menurut saya bisa apa saja asalkan ilmu itu memberi manfaat positif bagi yang mendapatkan ilmu tersebut.
Media.
Sekarang kita membahas media agar bisa menyalurkan ilmu yang bermanfaat. Gak mesti berada di suatu forum ber-AC, ruang kelas penuh fasilitas. Yang dekat saja, yang gampang saja, sesuai apa-apa yang menjadi kebiasaan kita.
Takjub saya ketika menyadari sebuah hal yang sebenarnya udah begitu sering kita temui namun saya hilang kewarasan untuk menyadarinya. Aah.. ribet banget yak bahasa saya ini.
Dengan singkatnya saya mau bilang. Membuat blog dan 'mengajar' melalui tulisan sudah termasuk memberikan ilmu yang bermanfaat bagi siapapun yang membacanya. Sungguh lebih indah apabila yang membaca mengaplikasikannya di hidupnya dan orang lain akan mendapat manfaatnya lagi. Bayangkan. Pahala estafet tanpa finish. Bayangkan bunga-bunga pahala yang kita raup dar sebuah deposito ilmu yang mungkin terlihat sederhana. Kelak, di hari akhir kita hanya tinggal menikmati hasilnya.
Aah.. mencari pahala itu mudah sekali ternyata.
Seperti blog yang saya temui semalam, sebuah blog yang bukan menggurui dan sok tau seperti (mungkin) yang tengah saya lakukan. Blog sederhana berisi pengetahuan belajar Bahasa Inggris. Niat penulisnya hanya satu, berbagi pengetahuan apa yang ia tahu. Akhirnya apa? bukankah ia tengah mentransfer ilmu yang bermanfaat?
Rasulullah Saw, "Sampaikanlah dari ku walaupun hanya satu ayat." Hadis Riwayat Ahmad, Bukhari, Tarmidzi
source: Ngerumpi.com












