Hal kecil
Beberapa waktu ini aku meninggalkan kayong utara; kabupaten tempatku mengajar, dan kembali ke kota asalku untuk pengobatan. Aku kembali beradaptasi dari kehidupanku sebelumnya di desa yang damai dan lambat, ke kota yang segalanya berjalan cepat.
Pertama kali tiba, aku merasa excited dengan jalan raya yang tidak rusak dan besar, sekaligus pusing karena ternyata kotaku ini super macet jika dibandingkan dengan jalan desaku yang kendaraan lewat bisa dihitung jari.. aku jadi bersyukur karena akses makanan yang melimpah, jalan tidak sampai 100m aku sudah menemukan berbagai menu makanan yang dijual; nasi goreng, seblak, mie ayam, ayam krispi, bebek dan sebagainya. sementara bila kuingat di penempatan, aku harus keluar desaku, yang membutuhkan waktu 45 menit bermotor untuk menemukan mie ayam dan sebagainya. Lalu aku mensyukuri air yang melimpah, aku senang bisa melihat dasar lantai bak mandiku, yang beberapa bulan lalu tidak bisa kulakukan di penempatan karena airnya tidak jernih dan berwarna. Berbagai akses makanan, sinyal, jalan raya, kesehatan memang sangat mudah..
Tapi aku merasa kehilangan sesuatu... ternyata aku kehilangan pemandangan Alam yang bisa kupandang, entah itu sawah, kebun sawit, parit yang besar atau sekedar rumput ilalang yang tinggi.. di sini, membuka pintu yang kulihat rumah, jalan raya, gedung-gedung tinggi.. selain itu aku juga kehilangan kehangatan murid-muridku yang selalu menyapaku dengan semangat meski dari jauh. Kalau di rumah, tetangga pun belum tentu saling sapa. Walau tetangga tapi tidak berinteraksi satu sama lain, karena aktivitas yang sangat sibuk, jugaa pagar rumah-rumah yang menjulang tinggi, menghalangi untuk menyapa satu sama lain. Tetiba aku rindu para wali murid, guru, tetangga, anak-anak muridku, para stakeholder yang sangat senang menimpali obrolanku kapanpun.
Setelah menjalani kehidupan yang berbeda 180 derajat antara kehidupan di pelosok dan kehidupan kota besar, aku jadi lebih mudah mensyukuri hal kecil, sekaligus menghempas rasa magerku. Kalau di penempatan saja aku rajin jalan kaki meski tempatnya jauh berkilo-kilo meter, di rumah aku menjadi senang jalan kaki untuk membeli kebutuhan apapun.
Semoga kebiasaan baik yang sudah kubentuk dari penempatan ini tidak hilang. Seperti berjalan kaki kemanapun, memakan masakan apapun (kecuali yang aku alergi), tidur dimana saja, menjadi teman ngobrol yang menyenangkan dengan berbagai usia dan latar belakang, menjalani peran dengan hati yang sungguh dan penuh meski lelah sekalipun. Karena hal-hal kecil inilah yang membuatku lebih membumi dan mudah mensyukuri apapun yang kumiliki, meski di keadaan terbatas sekalipun.











