Sebuah Perjalanan Panjang (1)
"kamu hari ini adalah kumpulan dari apa yang kamu lakukan di masa lalu dan harapan di masa depan”
Tentang kuliah di luar negri, hal yang saat ini masih hangat dibicarakan, dan saya sendiri sering dapat pertanyaan tentang bagaimana cerita saya bisa sampai di sini. Tulisan ini dibuat untuk bercerita pengalaman saya, bukan khusus tentang tips dan trik, karena sudah banyak yang membuatnya. Yap, di saat tulisan ini di buat, saya sedang menempuh studi S2 dengan program Development and Rural Innovation di Wageningen University and Research di Belanda. Bisa kuliah di luar negri sendiri memang bukan harapan singkat yang tiba-tiba muncul di kepala begitu lulus kuliah S1, namun ide ini memang kumpulan asa dari masa kecil yang selalu ada di kepala, hingga sadar tak sadar selalu membawa untuk berjalan ke arah sana.
Selama ini, saya sendiri selalu mendapatkan sekolah atau kampus yang bukan menjadi minat dan pilihan utama, tapi program yang saya jalani selalu sesuai dan memang yang saya suka. Saya bersekolah SMA yang memang dekat dengan rumah, karena itu adalah pilihan terbaik orangtua. Sewaktu memilih kampus, pun UGM bukan pilihan pertama saya, tapi kuliah di sana adalah salah satu dari sekian banyak “bukan pilihan” yang tidak saya sesali. Sampai saat ini bisa di Wageningen pun juga bukan apa yang saya pilih dari awal dan cita-citakan. Aneh. hmm, sepertinya Allah lebih dan lebih tau apa yang terbaik buat saya, hingga semua jalan yang saya tempuh tak lepas dari campur tangan kuasa-Nya.
Jadi begini, ide untuk bisa merasakan sistem pendidikan di negara maju pertama kali saya coba sewaktu SMA, mungkin banyak yang tahu tentang AFS, sebuah program pertukaran pelajar khusus anak SMA. Pada waktu itu, pengetahuan saya dan secara kemampuan memang jauh sekali, bahasa Inggris juga “basic greeting” doang, nulis esai belum bisa, apalagi bikin motivation letter, belum ada gambaran apa yang harus dilakukan, dan hasilnya jelas tidak diterima. Pelajaran pertama, setidaknya harus bisa berbahasa Inggris yang baik dan benar. Dari situlah saya mencoba untuk belajar TOEFL sendiri, mengejar target. Hingga saat lulus SMA pernah ditawari buat kuliah di NTU, dengan A level, namun karena masih merasa jauh dari gambaran dan dinilai terlalu muda oleh orangtua untuk di lepas sendiri di negara orang pilihan itu dilepaskan.
Singkatnya, saat kuliah, entah tidak terhitung proses mencari informasi pertukaran pelajar, konferensi, ataupun kegiatan short course yang mungkin bisa untuk diikuti. Sudah lupa berapa banyak membuat aplikasi untuk berbagai program, meminta surat rekomendasi (mungkin jajaran dekanat udah saking hapalnya) ditambah banyak surat motivasi dan proposal, beberapa berhasil dan akhirnya membawa saya bisa ikut program-program konferensi singkat, sisanya memang terlewat begitu saja, atau karena satu dan lain hal akhirnya tidak bisa berangkat. Setelah punya target untuk lulus S1 secepat-cepatnya, yang ada dalam bayangan saya tak lain dan tak bukan adalah lanjut kuliah S2, tak ada gambaran lain yang mau saya capai. Dari sinilah perjalanan di mulai...
Proses untuk memulai ini ada banyak sekali yang perlu dipersiapkan, apalagi saya tidak punya mentor khusus atau orang yang bisa benar-benar mengarahkan, no clue. Hal pertama dan paling utama yang saya lakukan jelas memersiapkan kemampuan berbahasa Inggris. Untuk hal yang satu ini saja sudah banyak sekali yang harus dikorbankan, waktu, tenaga, dan uang. Waktu itu, tidak banyak teman saya yang berminat untuk belajar IBT ataupun IELTS seperti yang saya lakukan. Pun, saya tidak pernah benar-benar terdaftar belajar penuh di sebuah lembaga bahasa. Pertama karena mengatur waktunya susah, kedua jelas karena biaya yang tidak murah. Untuk melatih dan mencoba kepercayaan diri saya, sampai pada akhirnya saya menulis skripsi dengan bahasa Inggris, yang mungkin bikin ketawa bacanya sekarang, tapi itu salah satu hal yang bisa saya jadikan ukuran untuk melampaui diri sendiri. Selain itu karena kebetulan skripsi saya mendapatkan “research grant” dari Mercy Corps, sebuah NGO Internasional yang biasanya memberi dukungan untuk penelitian S2 dan S3, namun karena topik penelitian saya sangat terkait dengan program mereka, jadilah ada pengecualian untuk pendanaan skripsi S1. Karena NGO nya sendiri internasional dan menginginkan publikasi jurnal berbahasa Inggris, skripsi pun harus berbahasa Inggris.
Balik lagi ke program kuliah S1, saya memilih Penyuluhan dan Komunikasi Pertanian (PKP). Pilihan yang sederhana, saya suka biologi tapi minat saya banyak ke arah komunikasi, seperti public speaking, community engagement, atau media komunikasi. Jadilah saya mengambil jurusan di UGM ini yang bisa mewakili semuanya, kuliah gado gado. Semester 1-4 campuran, setengah belajar pertanian dari genetik, hama penyakit, ilmu tanah, mikrobiologi, ataupun budidaya dan segala kegiatan praktikum di lab, setengah lagi saya habiskan belajar teori dasar sosial, sosiologi, komunikasi, dan psikologi. Sisanya fokus ke arah sosial, belajar bagaimana pertanian dilihat dari sisi petani dan behavioral-nya. Disitulah saya semakin tertarik untuk belajar, bagaimana memahami cara berpikir petani, untuk bisa membantu mereka meningkatkan hasil usaha taninya, pun membantu pemerintah membangun daerah. Influenced by one of my inspiring lecturer, he gave the idea about rural development. Sejak saat itulah saya ingin belajar tentang pembangunan daerah. Saya rasa belajar tentang pembanguna daerah sungguh sangat relevan untuk Indonesia, karena saya juga berasal dari daerah.
Di semester 5, saya selain memersiapkan kemampuan berbahasa Inggris, juga sudah mulai mencari program apa yang menyediakan ruang untuk belajar tentang “rural development” beserta program beasiswa apa yang sekiranya bisa saya coba. Jadi sudah ada 3 hal penting yang harus disiapkan: Bahasa Inggris, LoA dari kampus, dan beasiswa (jelas susah untuk membayar sendiri kalo bagi saya). Waktu itu tahun 2013, saya hanya familiar dengan Erasmus, Fullbright, dan Monbukagakusho. Sehingga saya mencari program dan kampus yang sesuai. Hingga akhirnya sebelum saya lulus, tepatnya di semester 7, saya sudah mendapatkan satu LoA dari program Erasmus (Lotus) di Gent University, Belgium, dengan program International Master of Rural Development (IMRD). Namun, karena satu dan lain hal, saya harus defer program ini di tahun berikutnya, yaitu 2016.
Saya resmi lulus dari UGM tahun 2015, bulan Mei tepatnya di wisuda, dan waktu itu sudah punya LoA kedua, datang dari Gottingen University, Germany pada program Sustainable International Agriculture, tanpa beasiswa, alias harus mencari sendiri. Terbitlah keinginan untuk mendaftar DAAD, beasiswa dari pemerintah Jerman dan LPDP, waktu itu masih belum setenar sekarang.
Gambling. Pilihannya adalah ambil IMRD di tahun 2016 atau berangkat ke Gottingen dengan mencari beasiswa sesegera mungkin. Kemudian, saya kembali teringat mimpi lain saya di tahun 2011, saya ingin menjadi Pengajar Muda, sebuah program dari Yayasan Gerakan Indonesia Mengajar. Di bulan Mei itulah dilema pertama saya dimulai, menunggu ketidakpastian untuk bisa sekolah lagi atau menunda dan ikut Indonesia Mengajar dengan resiko harus memulai perjuangan S2 dari awal. Lagi-lagi, sepertinya memang sudah jalannya, masih teringat saya sedang di parkiran kampus dan menerima e-mail dari Indonesia Mengajar, dikatakan diterima dan diminta menandatangani kontrak dengan konfirmasi secepatnya. Pusing, iya. Semuanya saya suka, dengan keunggulan dan resikonya masing-masing. Hal pertama yang saya jadikan pertimbangan adalah mendaftar beasiswa bisa kapan saja, banyak pintu yang tersedia, tapi untuk jadi Pengajar Muda, mendaftar lagi di tahun berikutnya belum tentu diterima.
Perjalanan dimulai saat akhirnya saya ke Jakarta, ke kantor Indonesia Mengajar, untuk bertemu dengan 49 calon Pengajar Muda XI lainnya. Ya kami belum akan resmi menjadi Pengajar Muda sebelum mengikuti rangkaian pelatihan selama 2 bulan...drama masih akan berlanjut di cerita selanjutnya