Sending warm wishes on Couples Day to the duo who continues to set an example of unwavering support, boundless love, and unending care. Your journey together is an inspiration to countless others. Happy Couples Day!

seen from United States
seen from Poland
seen from United States
seen from Yemen
seen from United Kingdom
seen from United States

seen from Sweden

seen from Mexico
seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from United Kingdom

seen from Sweden
seen from China

seen from Sweden

seen from Poland
seen from Singapore
seen from United States

seen from Brazil
seen from United States
Sending warm wishes on Couples Day to the duo who continues to set an example of unwavering support, boundless love, and unending care. Your journey together is an inspiration to countless others. Happy Couples Day!
@clapmutt 👏 🔇 - TAG SOMEONE YOU LOVE JUST THE WAY THEY ARE @clapmutt @clapmutt #clapmutt 👏🔇 @clapmutt The most beautiful thing I’ve learned during this relationship as well as in lockdown is to love every single (good or bad) detail of someone. ❤️ And understanding that I’m actually really loved as well. Hence, we try to understand each other 💕 👬 Photo 📷 - @clapmutt 👏🔇 Models 👨 👨 - @teeeegeeee_london , @clapmutt Quote- @paulocoelho #clapmutt #quoteoftheday #inspiringlove #selfcarelove #loveyourboyfriend #creativelove #annoyingandlovingatthesametime❤️ #paulocoelho #paulocoelhoquotes #gaylove #justthewayyouare #postoftheday #lockdownartist #hivsupport #hivartist #paulocoelhoquotes #loveinsanely #forgivequickly #kissslowly #laughinsanely #lovetruly (at London, United Kingdom) https://www.instagram.com/p/CC9TiGgJIH0/?igshid=yjn5psjdsi07
Aku sudah memaafkan semuanya, dan semoga semuanya pun demikian untukku 🙏
" Menata hati = Menata Masa Depan " -R.D.Amalia
This song was has literally been on repeat in my home, car, on my #RADIOSTATION @theblessingradio @gbothepro with our brother @mrvoodooray inspiring you to #ShootYourShot! #WHATSTHEWORSETHATCANHAPPEN BECAUSE OF THIS SONG THIS YEAR I HAVE #LAUNCHEDMYWEBSITE #TAKENMYBUSINESSTONEWLEVELS #LAUNCHEDASHOELINE #PARTNERED WITH SOME OF #NYC #GREATESTARTISTS! #MAKINGMONEY AND #GETTINGHEALTHY #INSPIRINGLOVE #THANKSGBO #VOODOORAYFOREVER #THANKSDJDPONE FOR INTRODUCING ME TO SOME OF THE MOST AMAZING #DJS IN #THEWORLD BRO #BUDDHAGUNZ365 #SOULSTONEDBROTHERS #OUTTOBOMB #KILLERSOFGRAFFITI #OCEANAVENUEREPRESENTATIVES #HAVEYOUBEENBLESSED #BEAGOD365 #ENLIGHTMENTTHRUSUPERIORFIREPOWER WWW.BUDDHAGUNZ365.COM
Hanya karena.kamu merindukan seseorang.... bukan berarti kamu menginginkan dia untuk kembali.... kerinduan itu bagian dari melanjutkan hidup..... #love #pinterest #tumblr #jirhanee #inspiringlove #life #motivation #quotelove #2019
Dia tidak mau kehilangannya... Dia hanya menjauh darinya.... Dia tidak ingin mengakhirinya... Karena dia telah melanjutkan hidupnya... Dia tidak kehilangan rasa dengannya... Dia hanya melangkah pergi... Dia tidak merasa bosan dengannya... Dia hanya melakukan.apa yang terbaik bagi dirinya.... Dia tidak ingin meninggalkannya pergi... Dia hanya mandorongnya untuk menjauh dari dirinya.... Dia tidak akan melupakannya... Dia hanya ingin berhenti darinya.... Dia tidak pernah berfikir untuk mengakhiri semuanya... Dia hanya melakukan apa yang terbaik untuk dirinya sendiri... Dia tidak mau merusaknya... Dia hanya ingin menangani semuanya lebih banyak... Dia tidak mau pergi dari kehidupannya... Dia hanya butuh waktu untuk dirinya sendiri... ........ #inspiringlove #inspiringlove #love #life #poem #quote #2019 #pinteresr
Selamat Jalan, kan Ku Bawa Cinta Sucimu ke Surga #maaf alurnya alay, ditulis hasil buah fikir penulis saat masih remaja usia 17an tahun ,terinspirasi dari pengalaman pribadi 5 tahun lalu
Faziah, nama seorang gadis dewasa yang memiliki arti mulia dalam dunia islam. Itulah nama gadis cantik yang kini masih menekuni dunia pendidikannya di perguruan tinggi ternama di negeri ini. Orang tuanya yang merupakan seorang ulama besar di Pulau Jawa mengajarkan penuh dirinya akan ketauhidan agama islam. Hari itu Faziah yang merupakan salah seorang mahasiswa yang tergabung dalam Komunitas Aktivis Mahasiswa melaksanakan Pelatihan Kompetisi Seminar Pendidikan di Bandung . Pengalaman Memiliki teman baru dari berbagai Perguruan Tinggi membuatnya betah untuk jauh dengan teman - teman seperguruan tingginya. Faziah gadis cerdas, ia begitu dengan mudah bersosial dengan teman - teman barunya. Rijal dan Lambang, dua mahasiswa yang berada satu tim bersama Faziah. Ketegangan Faziah berkurang saat ia tahu bahwa ia satu tim bersama Rijal yang merupakan mahasiswa seperguruan tingginya. Lambang adalah teman baru mereka yang berasal dari Perguruan Tinggi di Jakarta. Hari itu adalah hari kedua mereka bersama. “ Hari ini jadwal kita untuk mempersiapkan materi yang akan kita presentasikan , ada yang punya ide ?”. Rijal memulai diskusi. “ Bagaimana jika tentang pendidikan berkualitas di luar negeri,” sahut Lambang. “Lambang ku rasa itu kurang tepat , kita akan melakukan seminar pada sekolah yang masih jenjang SMP, aku pikir pendidikan agama dan akhlak lebih cocok untuk kita tanamkan sebagai bekal budi pekerti mereka untuk melanjutkan sekolah di jenjang berikutnya, ada yang mendukung?”,cetus Faziah untuk meyakinkan idenya. Rijal dan Lambang hanya mengangguk sebagai kode kekaguman mereka akan kecerdasan yang mulia pada Faziah. Seharian mereka bekerja, sore itu Faziah pergi ke masjid karantina yang tak jauh dari kamarnya. “ Lambang, ini sudah adzan maghrib aku ingin ke masjid, kau sudah sholat?”, sapa Faziah kepada Lambang yang saat itu sedang berdiri membuka pintu kamarnya. “ Kau duluan saja”. Jawab Lambang singkat. Faziah mengira Lambang masih menunggu Rijal, tanpa pikir panjang ia pun langsung berjalan menuju masjid. Hari itu adalah hari ketiga mereka bekerja sama untuk pelaksanaan seminar. “ Ini adalah Al Qur’an dan buku - buku islami, kita akan mendapatkan sumber banyak dari sini”. Mereka membaca halaman demi halaman. “ Baiklah saya bagi kerja, Lambang kau coba pelajari dari al Qur’an biar Faziah dari buku-buku islami dan saya akan searching melalui internet”. Kata Rijal. “ Tidak, biar saya yang searching melalui internet kau pelajari ini saja”, kata Lambang kepada Rijal sambil menyerahkan Al Qur’an pada Rijal dengan nada tegas. Mereka termenung sejenak mendengar penolakan dari Lambang. Di mata Faziah Lambang adalah sosok yang pendiam, pintar, alim, banyak senyum dan tidak banyak ulah. Dia merasa kaget melihat sikap Lambang yang tidak seperti biasanya. Tanpa sepengetahuan Faziah, Lambang memendam simpatik kepadanya. Lambang sering memperhatikan Faziah ketika mereka bersama. Hal ini diketahui oleh Rijal yang sebenarnya telah memendam rasa kepada Faziah sejak mereka berada di pondok pesantren milik orang tua Faziah.” Ziah, kau merasa aneh dengan sikap Lambang ke kamu?”, Tanya Rijal kepada Faziah saat Lambang sibuk dengan searchingnya.” Kenapa? Ada yang salah? Ku rasa biasa saja”. “ Dia suka dengan mu, Kau tak merasakannya?’.” Ah, aneh -aneh saja Kau ini, mana mungkin,, dia mengenalku baru tiga hari, ngacau Kamu itu”’, kata Faziah mengelak Rijal. Perbincangan itu berhenti mereka kembali meneruskan pekerjaan. “ Ini sudah jam istirahat, saya lapar kalian tidak ingin makan?”, kata Lambang tiba -tiba kepada mereka. “ Oke kita ke kantin dulu setelah itu langsung ke masjid”,jawab Rijal yang seakan mengerti kejenuhan Lambang. “ Makan apa kalian?”, Tanya ibu pelayan kantin dengan geram. “ Steak “, jawab Rijal singkat seakan membalas kegeraman ibu itu. “ Kamu?”. “ Sama”, jawab Faziah singkat yang tak ingin berlama - lama dilayani ibu katin. “ Saya soto kuah banyak tanpa toge”,sahut Lambang mendahului ibu itu. “ Aneh kau itu, seleramu tak sekelas tampilanmu, mahasiswa berpendidikan kok Cuma makan soto”, ejek ibu pelayan itu dengan nada sindiran. Seperti biasa Lambang hanya membalas dengan senyuman manisnya. Diam - diam Faziah merasa kagum dengan kesabaran dan kesederhanaan Lambang. Ia mulai sering memperhatikan Lambang dan mencoba berinteraksi lebih dekat dengannya. “ Ini makanan pesanan kalian”.Datang ibu pelayan geram itu membawakan pesanan dan langsung pergi. Saat itu ada yang aneh ketika Faziah melihat cara berdoa Lambang sebelum memulai makannya. Kedua tangan menggenggam dan bertopang di bawah dagu, berbeda dengan cara Faziah dan keluarganya berdoa. Faziah ingin menanyakan hal itu tapi ia ragu dan menghentikan niatnya. Mereka pun ke masjid. Beberapa hari kebersamaan mereka telah berlalu. Faziah merasa ada yang berbeda tentang hatinya kepada Lambang. Kedekatan mereka semakin hari semakin membuat Faziah merasa nyaman berada di dekat Lambang. Pagi itu kumandang adzan shubuh membangunkan Faziah dari tidurnya. Bergegas ia mengambil air wudhu dan mengenakan mukenahnya. Faziah mengetuk pintu Rijal yang tak jauh dari kamarnya untuk mengajaknya ke masjid bersama. Mereka sengaja tak menghampiri Lambang karena letak kamarnya yang jauh dengan mereka. “ Dari tadi aku tak melihar Lambang di masjid?”, kata Rijal kepada Faziah seusai berjama’ah. “ Aku jarang sekali melihatnya ke masjid, atau bahkan mungkin aku tak pernah melihatnya sekalipun”. “ Mungkin lebih baik kita menghampiri ke kamarnya”, ajak Faziah. “(tok,tok, tok) Assalammu’alaikum”. Tak ada balasan salam dari kamar itu. “( Ngeeek)”. Tiba - tiba Lambang membuka pintu kamarnya dan membiarkan mereka masuk ke dalamnya. Faziah melihat - lihat isi kamar Lambang , ada yang aneh bagi Faziah, sebuah untaian mutiara yang diikat tali seperti tasbih yang lebih kecil. Faziah mencoba memegang benda itu yang hanya diletakkan dia atas tempat tidur Lambang seakan baru digunakan pemiliknya. “ Itu benda suciku yang ku pakai saat aku mengingat Tuhan”, ucap Lambang spontan kepada Faziah. Faziah kaget dan segera meletakanya pada tempat semula. “ Maaf, saya hanya memegangnya”, sahut Faziah dengan rasa takut. Hari itu adalah hari kelima Faziah, Lambang dan Rijal mempersiapkan materi seminar esok hari.Ya, 5 hari di mana cinta mulai tumbuh diantara mereka. “ Guys, malam ini adalah malam terakhir kita berdiskusi, seminar akan kita lakukan besok dan setelah itu kita akan pulang ke kota kita masing masing jadi maksimalkan kerja malam ini”. Kata Rijal dengan penuh ketegasan sebagai ketua dalam timnya. Pagi pun tiba, mereka segera berangkat menuju sebuah SMP yang kurang ternama di kota Bandung. Empat jam berlalu, seminar mereka berlangsung dengan tanggapan siswa yang begitu antusias. “ Lambang, mengenalmu adalah sebuah pengalamanku yang sangat bermakna bagiku. Entah apa yang membuatku merasakan kenyamanan ketika bersamamu, ku harap kita tidak akan berhenti berkomunikasi setelah semua ini berakhir”, kata Faziah dalam hatinya. Pagi itu jam tangan Ziah menunjukan angka 8. Pesawat segera lepas landas meninggalkan Kota Bandung. Ya ,mereka lepas landas dengan pesawat yang berbeda tapi satu hal yang sama, suasana hati mereka. Faziah dan Lambang semakin menyadari keberadaan perasaan itu ketika perpisahan harus menjauhkan mereka. “ Assalammu’alaikum, Abi Umi Ziah pulang”, teriak Faziah gembira sesaat bearada di depan pintu rumahnya.” Waalaikum salam”, jawab adik Faziah sambil membuka pintu. “ Kak Faziah, kakak pulang hore kakak pulang. Abi Umi kak Faziah pulang”, teriak Lathifah Gerang ketika melihat Kakaknya pulang. Alhamdulillah anakku pulang dengan selamat, sini nak peluk Umi”, kata Umi menyambut kedatangan Faziah. “ Abi di mana, Umi”. “ Abimu ada di kamar nak, coba kau hampiri Abimu, pasti bahagia dengan kepulanganmu”,kata Umi dengan perasaan yang penuh haru. Faziah berjalan menuju kamar Abi. Kali ini bukan karena dia sangat merindukan ulama besar itu. “Abi ada yang mau Faziah tanyakan. “. Abi hanya mengangguk dan tersenyum sambil tetap fokus pada kitab yang dia pelajari .” Abi, benda kecil beruntaian pernik - pernik mutiara seperti tasbih berukuran kecil untuk apa, Faziah tak pernah melihat Abi menggunakannya”, Tanya Faziah kepada Abi dengan raut muka yang serius.” Di mana Kau melihatnya?” Tanya Abi penuh kesabaran. “ Saya pernah melihat teman saya menggunakannya ketika dia ingin beribadah”, jawab Faziah semakin ingin tahu. “Hati - hati nak dengan pemiliknya”. “ Kenapa harus menjauhinya, ada yang salah dengannya ?”. “ Bukan menjauhi tapi berhati - hatilah nak, jaga ketuhidanmu baik - baik.” Faziah hanya terdiam mendengar perkataan Abi, tanpa banyak tanya lagi Faziah pergi menuju kamarnya. Keesokan harinya seperti biasa Faziah beraktivitas di kampusnya. Rani, nama seorang sahabat Faziah yang berada satu fakultas bersamanya. Layaknya dua manusia yang telah berpisah lama, Rani pun memeluk erat tubuh Faziah sebagai rasa rindunya. “ Assalamu’alaikum sahabatku cantik”, ucap Rani pertama kali memeluk Faziah. “ Alhamdulillah Allah senantiasa menjagaku. Ran aku ingin cerita banyak ni sama kamu”. “ Apa, cinta ya atau ……..?”. ucap Rani penasaran. Keberadaan Kursi di taman seakan telah memahami kerinduan dua sahabat ini. Dua gelas jus wortel pun telah siap menyegarkan mereka. Tak hentinya Faziah bercerita banyak tentang Lambang ke Rani walaupun sepintas ia menyebut nama Rijal. Tiga hari perpisahan mereka semenjak kepulangan dari Bnadung telah berlalu. Lambang sering berkomunikasi dengan Faziah melalui ponsel. Faziah merasakan hidupnya semakin bermakna sejak ia mulai mengenal Lambang. Sejak itulah Faziah mulai memikirkan masa depan dan pernikahan. Dalam kesadaran Faziah ia merasakan ada yang janggal dengan Lambang. Beberapa hari ini Lambang menghentikan komunikasinya dengan Faziah tanpa kabar yang jelas. Berulang kali Faziah menghubungi Lambang namun tak pernah ada balasan. Satu bulan lebih Faziah menjalani hari - harinya berkabut rasa penasaran akan keberadaan Lambang. Selama ini Lambang menghilang meghentikan komunikasi dengan Faziah tanpa alasan yang jelas. Teriknya sang surya seakan akan menggerahkan kekabutan hati Faizah. Siang itu Faziah pergi ke kampus menemui sahabatanya. “ Ran aku butuh bantuanmu ni”, ucap Faziah kepada sahabatnya.dengan penuh ketidaktenangan “ Hey kawan apa yang membuat wajahmu cemas seperti itu?”, tanya Rani penuh penasaran. “ Bantu aku mencari Lambang. Kita bisa memulainya lewat media social atau mungkin kita bisa cari informasi tentangnya dari temen seperguruan tingginya”, desak Faziah . “Kau mau belain sampai Jakarta?”, jawab Rani kaget. “ Kalau pun harus begitu aku akan melakukannya, aku harus bertemu dengannya Ran, kau mengerti perasaanku kan? “, ucap Faziah memohon kepada Rani. Sore itu mereka langsung menuju area wifi kampus. Ya area yang selalu menjadi tempat pilihan terbanyak mahasiswa nongkrong. Searching dunia maya pun menyibukan konsentrasi mereka demi mendapatkan informasi tentang Lambang.” Rani membaca pelan dengan penuh penegasan akan sebuah nama yang muncul pada monitornya. “ Lambang Putra Sarjono”. Segera Faziah menghadapkan matanya di depan layar Rani untuk memastikan nama itu. “ Subhanallah ini foto Lambang Ran, aku yakin ini Blog milik Lambang”, ucap Faziah penuh kelegaan. “ Info Ran info baca infonya”, ucap Faziah semangat. “ :Lambang Putra Sarjono”, berulang kali Faziah mengucapkan nama itu. “ Jadi sebenarnya dia tinggal di daerah Jakarta Pusat, teruskan ke bawah Ran. Teknik Fisika UI 2008, Institut Fur Theologisch - Pastorale Fortbildung Northen Italy 2010.”, Faziah menghentikan ucapannya dan sedikit bingung.” Kok Pastor Ziah “, tanya Rani curiga. Info demi info akan biodata Lambang mereka baca dengan serius layaknya memburu sebuah info berharga, hingga pada akhirnya sebuah info penting mereka dapatkan. Dua mahasiswa berprestasi ini terkejut bukan main. “ Kristen Katholik”, baca Faziah lemas. “ Apa? Ran, Aku gak salah baca kan”. Faziah, jadi selama ini kamu mencintai,,,,,,,”, Rani menghentikan ucapannya. “ Selama ini aku mencintai seorang kafir. Ya Tuhan begitu bodohnya diriku , sampai - sampai aku terlanjur mencintai pendustaMu tanpa kesadaranku. Sejenak suasana hening menyelimuti mereka di tengah mendungnya langit. “ Kau mau apa Ziah, kau ingin tetap mempertahan rasamu, atau menghianati fitrahmu. Sudahlah, sebaiknya kau lupakan dia, aku takut kau akan,,,,,”, Rani menghentikan ucapannya. “ Sekarang aku paham semuanya, semua kejanggalan itu. Jadi ini semua alasannya kenapa dia menolak mempelajari Al Qur’an bahkan dia marah hanya untuk memegangnya”,ucap Faziah dalam tetesan air matanya. “ Tasbih itu , ya aku sekarang tahu maksud nasehat Abi, itu bukan tasbih biasa”, Faziah semakin mengerti teka - teki selama ini. “ Semua belum terlambat, aku tahu bagaimana jadi dirimu , kau harus sadar Faziah, kau seorang muslimah dan orang tuamu seorang ulama besar, apa jadinya kalau keluargamu dan orang lain tahu kau mencintai seorang,,,,,”, Rani tak meneruskan ucapannya. “ Aku tahu siapa dia. Ran cinta ini suci Allah yang mengamanahkan cinta ini, dan aku yakin akan ada hikmah besar di balik semua ini. Aku akan tetap mencintainya. Aku akan berdakwah islam untuknya”, jawab Faziah yakin. Rani tertegun mendengar kemantapan hati Faziah. “ Aku hanya sahabatmu Ziah, aku hanya bisa mendukungku selagi itu baik untukmu. Lalu kau mau apa?”, ucap Rani. “ Mulai besok aku harus mendalami ilmu islam lebih jauh, aku akan mensyiarkan kebenaran - kebenaran islam ke dia. Ran bantu aku cari artikel - artikel kisah kehidupan islam, atau buku buku tentang aqidah islam atau jika tidak tes timoni perjalanan hidup seorang muallaf, setelah itu aku tau apa yang harus ku lakukan”, ucap Faziah mengembalikan semangatnya. Dua bulan semenjak kenyataan tentang Lambang terbuka telah berlalu. Faziah memutuskan untuk mencari tempat kos bersama Rani. Hanya berjarak seperempat jam perjalanan menuju kampus dari rumah Faziah , hal ini yang sempat membuat orang tua Faziah tak mengerti alasan keputusan Faziah memilih mengekos Suatu hari Faziah mengajak Rani berbelanja di sebuah toko muslim di kota Yogyakarta. “ Al Qur’an sudah, baju muslim sudah,panduan sholat, sarung, apa lagi ya Ran. Masya Allah aku hampir lupa, kisah muallaf”, Faziah sibuk mengingat barang yang akan dibelinya. “ Untuk apa Ziah, Abi mu memesannya?”, tanya Rani binggung. “ bukan untuk Abi tapi untuk Lambang”, jawab Faziah. “Apa yang akan lakukan?”, tanya Rani. “ Aku akan gunakan jasa pengiriman untuk mengantarkannya ke alamat Lambang, semoga Allah meridhoinya, amiiin”, ucap Faziah penuh harap. Doaku untukmu…. Dia Berkata,” Aku Mencintainya Tuhan” Dia Berkata, “ Izinkan Aku Berjumpa Dengannya Sekali Lagi” Dia Berkata,” Karna Aku Sungguh Merindukannya Tuhan” Dia Berkata,” Tuhan Engkau Cukup Lama Menjauhkan Jarakku Dengannya Hingga Aku Cukup Bersabar” Dia Berkata,” Tuhan Aku Bertanya Dalam Termenungku Kapan Engkau Tibakan Hari Yang Ku Nanti Itu” Dia Berkata,”Meski Jarak Dan Waktu Memaksaku Untuk Bersabar Aku Akan Tetap Berdoa" Dia Berkata,” Tuhan Izinkan Aku Menyampaikan Ayat - Ayatmu Padanya” Dia Berkata,” Tuhan Jika Rasa Ini Adalah Ketetapanmu Dan Kau Ridhoi Wujudkanlah Doaku Tentangnya” Dia Kembali Berkata,” Tuhan Pertemukanlah Aku Dengannya Pada Waktu Yang Tepat, Izinkanlah Aku Melihat Wajahnya Sebening Dalam Mimpiku Laksana Bayi Yang Lahir Kembali” Dan Untuk Terakhir Kalinya Dia Berkata,” Tuhan Mudahkanlah Dia Melafalkan Kalimat Bermakna Suci Itu Atas IzinMu Dua hari kemudian bingkisan itu sampai pada alamat Lambang. Lambang terkejut membuka bingkisan itu. Dia mengira ini hanya bingkisan salah alamat. Sejenak Lambang terkejut ketika membaca selarik kertas yang penuh dengan sajak tulisan. Ya sebuah sajak dalam secarik kertas yang menggambarkan semua isi dan harapan Faziah untuk Lambang. Begitu dalamnya makna setiap baris dalam kata itu membuat Lambang mulai memahami dan mencoba mencari jawaban siapakah pengirim semua isi bingkisan ini. Sejenak Lambang meletakan kembali kertas itu dan mengalihkan perhatiaannya pada benda lain dalam bingkisan misterius itu. “Alqur’an?, apa apaan ini apa maksud semua ini , siapa yang berani mempermainkanku ?”. Lambang mulai terganggu dan hanya menelantarkan Alqur’an dari tangannya. Sempat ia membaca sebuah tulisan pada sebuah sampul kitab suci yang dulu ia pernah menolak untuk membuka isinya. “ Sempatkan hatimu untuk memahami hidayah di dalamnya”. Sedikitpun Lambang tak menghiraukan pesan secarik kertas pada sampul Alqur’an bahkan ia tak tahan untuk segera menelantarkan Alqur’an begitu saja. Satu minggu berlalu Lambang telah berada dalam suasana hati yang penuh dengan ketidaktenangan semenjak pengiriman bingkisan yang membuatnya penuh tanda tanya. Rupanya sebuah sinyal sinyal hidayah mulai Allah kirimkan untuk Lambang. “ Sebenarnya apa isi dari kitab itu?”, tanya Lambang mulai penasaran. Ayat demi ayat Lambang mulai membukanya meskipun ia tak terlalu mampu memahami setiap makna akan firmanNya hingga pada akhirnya ia berhenti pada sebuah ayat yang mengatakan keraguan akan keyakinan imannya. Lambang mulai tertarik untuk terus membuka lembaran demi lembaran isi dari Alqur’an hingga pada akhirnya ia membaca sebuah ayat yang berartikan “Katakanlah: "Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan." Ya sebuah ayat yang sempat membuat Lambang terdiam untuk terhentak. Rupanya sinyal sinyal hidayah itu mulai kuat, Lambang mulai menyukai untuk terus membaca makna setiap ayat suci dan semua buku buku islam yang sempat Faziah kirim misterius kepadanya. Entah apa yang telah Allah bisikan pada hati dan telingga Lambang hingga tiba tiba kekhusyukan dia memahami isi buku buku itu teralihkan pada fikirannya yang teringat pada seorang gadis yang bernama Faziah. Ya, sebuah tulisan tiga kata dan sebuah no telephon atas nama Faziah yang sempat membuatnya terkaget. “ Jadi semua ini atas nama Faziah, bagaimana mungkin dia masih mengingatku sedangkan aku selama ini terus berusaha melupakannya, ya Tuhan apa maksud semua ini”. Malam itu adalah malam yang cukup membuat Lambang berada dalam kebingungan dan ketidaktenangan keyakinannya yang terus menghantuinya. Kegoncangan hatinya membuatnya tak kuasa untuk menahan keraguan keraguan dalam hatinya. Tangannya segera ia gerakan untuk menulis sebuah pesan begitu singkat pada handphonenya. “ Selamat malam, Faziah aku membutuhkanmu, kutunggu kedatanganmu disini, Lambang”. Ya saat itu hanya Faziah yang mampu ia ingat dalam pertarungan batin dan fikiran akan keyakinannya. Keesokan harinya Faziah yang begitu kaget dan dipenuhi dengan rasa penuh harap membaca pesan yang tadi malam telah termuat dalam inboxnya. Segera ia pergi menemui sahabatnya Rani untuk mengajaknya pergi ke Jakarta dimana Lambang tinggal. “Ran Ran kamu harus bentu aku untuk bisa sampai ke Jakarta sekarang juga”, ajak Faziah penuh semangat. “ Ada apa Ziah, kamu pelan pelan ngomongnya, kita mau ngapain ke Jakarta , ini terlalu tiba tiba Ziah”, ucap Rani penuh kebingungan akan sikap Faziah. “ Tadi malam Lambang mengirim pesan padaku, dia menungguku di Jakarta Ran”, jelas Faziah pada Rani. Tanpa fikir lama Rani paham apa yang harus dia lakukan. Rijal harus tahu akan rencana Faziah yang sudah membulatkan tekad pergi keJakarta. Keesokan harinya Faziah dan Rani tiba di kota Jakarta. Faziah dan Rani segera berjalan menuju alamat rumah Lambang yang ia dapat dari Blog milik Lambang. Jakarta Pusat Jalan Hartosa gang melati No.22, ya sebuah alamat yang tertuliskan pada pagar sebuah rumah milik Lambang. “ Ini rumah Lambang Ran, Alhamdulillah akhirnya Allah mulai menunjukan titik terang tentang Lambang selama ini”, ucap Faziah pada Rani. Hanya terlihat seorang perempuan paroh baya tengah membersihkan rerumputan disekitar rumah itu. “ Assalammualaykum, permisi ibu , maaf ibu mengganggu apakah benar pemilik rumah ini bernama Lambang Putra Sarjono?”, tanya Faziah kepada perempuan itu. “ Iya benar , maaf sebelumnya dengan siapa dan ada keperluan apa mencari tuan Lambang?”, jawab ibu itu penuh tanya. “ Saya Faziah ibu dan ini teman saya Rani, maksud kedatangan kami kesini untuk bertemu dengan Lambang, maklum ibu kami teman lama yang lama tak bertemu “. “ Maaf mbak tapi untuk saat ini tuan Lambang sedang tidak dapat ditemui di rumah ini, jika kalian ingin bertemu beliau saya tuliskan alamat dimana beliau tinggal sekarang”, jawab ibu itu sambil memberikan secarik kertas bertuliskan sebuah alamat. Mendungnya suasana sore itu dan kalang kabutnya kota metropolitan sempat membuat Rani tak yakin mampu menemukan Lambang. Namun semua berbeda dengan Faziah, tak henti hentinya semangatnya untuk bertemu Lambang tak menyurutkan langkah kakinya naik turun kendaraan umum mencari dimana keberadaan alamat yang tertuliskan pada secarik kertas yang ia dapatkan dari perempuan paroh bayah tadi siang. “Rani Rani coba kau baca bangunan itu”, teriak kecil Faziah yang sempat mengangetkan Rani. “ Rumah Sakit Yohanes Tirta?. Jadi selama ini Lambang bekerja di Rumah sakit nasrani ini, apa mungkin dia seorang dokter Ziah, wah keren Ziah dia seorang dokter”, ucap Rani penuh dengan kepolosan. Faziah terdiam dalam fikirannya. “Bagaimana mungkin Lambang seorang dokter, setahu ku dia tidak punya background pendidikan dokter, ini janggal Rani, hatiku mulai tidak tenang”. Ditengah rasa penasaran mereka terdengarlah sebuah nada pesan dari handphone milik Faziah. Ya sebuah pesan yang bertuliskan “ Faziah aku tunggu kedatanganmu di Ruangan Yohanes Putra lantai 2 no. 13, Lambang Putra Sarjono”. Ya sebuah pesan yang Faziah yakini Lambanglah pengirimnya. Tanpa pikir panjang Faziah menarik tangan Rani untuk belari menuju ruangan itu. “ Rani aku menemukannya, Yohanes Putra no. 13, iya ini ruangannya Ran, akhirnya sebentar lagi kutemui orang yang selama ini aku cintai”. Ketidaksabaran Faziah untuk bertemu Lambang membuat Ziah segera masuk ke dalam ruangan. Betapa terkejutnya Ziah ketika dia justru melihat seorang laki laki berdiri tepat disamping sebuah tempat pembaringan pasien , bukan Lambang melainkan Rijal, ya Rijal lebih dulu berada dalam ruangan itu tanpa sepengetahuan Faziah. Lambang telah menskenariokan semuanya tanpa sepengetahuan Faziah. “ Rijal, dimana Lambang, apa yang sebenarnya sedang terjadi, dan bagaimana mungkin Kau berada di sini?”, tanya Faziah penuh rasa kebingungan. “ Faziah, aku disini, ini aku Faziah”. Sebuah suara pelan penuh ketidak berdayaan dari seorang laki laki yang terbaring lemas tak berdaya diatas tempat pembaringan di depan Ziah. Ya, kemoterapi yang di jalani Lambang satu depan yang lalu membuat Ziah tak mengenali lagi wajah Lambang. Ya semua berubah, yang Faziah tahu adalah Lambang yang gagah, segar dan penuh dengan penampilan yang rapi. Kini betapa terkejutnya Faziah ketika ia harus melihat Lambang terbaring tak berdaya. Ya inilah yang mejadi satu dari sekian alasan Lambang memutuskan untuk mencoba menjauh dari Faziah selama ini, bukan hanya ia harus mengbentengi rasa cintanya pada Faziah karena keyakinan yang tak menyatukan mereka melainkan ia tak ingin walau hanya sekedar persahabatan yang merepotkan Faziah karena penyakit kankernya setahun ini. “Faziah maafkan aku jika selama ini menghilang darimu tanpa kabar, aku sadar jiwa ini mencintaimu sejak pertama kali aku bertatap muka denganmu, dan aku tahu kau merasakan apa yang aku rasakan. Faziah aku tak akan pernah tahu sampai kapan kematian akan mengejarku, bolehkah aku memohon padamu satu permintaan terakhirku?”, ucap Lambang dengan ritme terbata bata penuh kelemasan. “ Katakan Lambang aku akan lakukan apa yang kamu mau”, ucap Faziah penuh air mata. “ Faziah, di penghujung usiaku tuntun aku melafalkan dua kalimat syahadat atas izin Tuhan”, ucap Lambang penuh keharuan mengheningkan suasana ruangan saat itu. Isak tangis penuh haru , duka dan bahagia seakan ikut mengiringi perjalanan lambang memasuki gerbang hidayah menuju surga. Ya kini Lambang seorang muallaf yang terhidayah dari sebuah cinta yang suci. Tiba tiba terdengar sebuah perkataan dari bibir Lambang yang menciptakan keterkejutan suasana haru sore itu. “ Rijal, aku mampu membaca dari matamu bahwa kau juga sangat mencintai Faziah, aku sadar selama ini kau mengalah untuk menepis perasaanmu demi aku. Saat ini saatnya aku berkorban dan memberikan semuanya untukmu. Faziah , Rijal, aku baru saja mencium bau surga dan malaikat penjemputku tengah menungguku di sini. Satu permintaan terakhirku untuk kalian , jadilah sepasang merpati yang saling mencintai dalam kesucian. Rijal jaga Faziah sampai surga, dan Faziah cintailah Rijal sebagaimana dia mencintaimu”, ucap Lambang penuh haru. “ Lambang Kau harus bertahan, Kau harus pertahankan cinta itu. Jangan tinggalkan aku Lambang, aku masih ingin melihatmu”, ucap Faziah tak mampu menahan kesedihan. “ Faziah kini saatnya izinkan aku pergi dengan bahagia, SELAMAT TINGGAL FAZIAH , KAN KU BAWA CINTA SUCIMU KE SURGA”.