“Selamat pagi sahabatku tercinta!”
Azmi menepuk keras pundakku, kemudian menghempaskan badannya ke kursi di sebelahku.
“Kenapa kamu? Lagi seneng ya?” tanyaku.
“Enggak. Iseng aja.”
“Kangen ya?” ledekku.
“Ih, sori. Enggak deh,” jawabnya.
“Ngaku!” Ancamku sambil memegang kepalanya dengan kedua tanganku.
“Aaa! Nada pengen dikangenin, ya! Nad, Nad, lepasin dong! Enggak bisa liat nih!”
“Ha ha ha! Kamu nggak makan?”
“Enggak ah, takut gemuk.”
“Ntar kamu kena penyakit anorexia nervosa lo. Lagian ngapain juga sih menyiksa diri sendiri. Aku aja yang ceking gini pengin gemuk,” ujarku.
“Tapi aku kan nggak mau membiarkan tubuhku berkembang terus makin lebar.”
“Trus?”
“Nggak pede, lagi.”
“Iya, iya, aku tau sekarang. Maksudnya nggak pede kalo ketemu Evan?”
“Kok tau, sih? Nad, kemarin Evan senyum. Tiga kali. Kayaknya dia naksir aku deh. He he..”
“Ge-er. Kalian papasan, kan? Itu bukan berarti dia naksir kamu.”
“Iya, iya…”
Aku meneruskan baca koran pagi.
“Eh Nad, kemarin Evan senyum. He he..”
“Apaan sih. Kamu naksir beneran sama Evan?”
“Hm, enggak tau Nad. Mungkin. Pokoknya aku suka deg-deg-an kalo ketemu dia.”
“Kamu suka nyari dia , enggak?”
“Iya sih. Kalo ketemu seneng, kalo enggak bingung banget. Itu namanya naksir, bukan?’
“Astaga, Azmi… kamu sedang jatuh cinta!” Aku mengacak-acak rambutnya.
“Yang bener, Nad?”
“Iya!”
Pipi Azmi terlihat bersemu merah, malu-malu.
“Mmm… Nad, comblangin sama Evan dong. Please…! Kamu kan satu grup band sama dia. Ya… ya…! Kamu cantik deh!” pinta Azmi dengan rayuannya.
“Iya deh. Apa sih yang nggak buat sahabatku ini…” jawabku.
“Makasih ya sayang.” Azmi langsung memelukku erat dengan wajah berbinar.
***
“Dia kan pentolan baru di grup band-ku ngegantiin si Bimo. Didekati pelan-pelan ternyata tuh cowok enak juga kok diajak bicara, udah gitu suka nraktir,” Aku melaporkan hasil pendekatanku pada Azmi. “Tenang aja dah, dalam waktu dekat kamu pasti bisa dekat sama dia, bahkan nggak mustahil dah dia ngajak kamu kencan.”
“Aduh mana mau sih, cowok kayak gitu dekat-dekat sama cewek kayak aku gini,” suara Azmi di seberang membuatku jengkel banget. Penyakit krisis pede Azmi yang kumat-kumatan itu memang paling kubenci.
“Ya ampun, kamu itu cewek yang fine aja kok, Azmi. Suer. Kamu pinter, cakep kayak Oshin… ups enggak ding, kayak bintang pilem Korea. Ortu kamu juga orang terpandang, soalnya badannya gede-gede, jadi di mana-mana mesti kepandang orang…”
“Hi-hi… kamu bisa aja…” Aku senang juga akhirnya mendengar tawa Azmi.
“Udah deh, walaupun nggak jadian, kamu bisa dekat sama dia juga nggak pa-pa, iya kan? Cowok di dunia ini kan nggak cuma dia…,” ujarku sebelum menutup telepon.
Aku pun sore itu pergi latihan band dengan semangat. Pertama, karena aku sudah mendengar tawa Azmi lagi. Kedua, aku bakal makan es krim traktiran lagi.
***
Hu-uh! Aku benar-benar kehabisan akal. Sudah dua minggu dekat Evan, tapi nggak ada tanda-tanda siapa cewek yang ditaksirnya. Bahkan aku sampai malas makan di rumah gara-gara kebanyakan makan es krim.
Balqis? Cewek borju itu memang sejak lama naksir Evan. Tapi… enggak ah, dia bukan tipe Evan. Atau… Dina, cewek feminin yang jadi foto model itu. Tapi Evan cuek aja pas aku ngomongin dia. Bisa juga Farah… tapi tapi tapi… atau barangkali berita Evan naksir cewek itu cuma gosip. Kalau memang begitu Azmi punya kesempatan dong…
“Aku pengen tau deh gimana sih sikap kamu kalo lagi naksir berat sama cewek?” Aku memilih kalimat itu untuk menyelidik reaksi Evan.
“Ya… nekat!” Evan menarik rambut lurusnya ke belakang, kelihatan banget kalau lagi salting. Aku menunggu proses salah tingkahnya mereda.
“Nekat gimana?”
“Engg… gimana ya… mmm… apapun kulakukan asal bisa dekat sama cewek itu,” kali ini ia menjawab sambil memainkan stiknya.
“Misalnya?” Ya ampun! Aku nggak percaya bisa menanyakan pertanyaan yang berkesan ‘pengen tahu urusan orang’ itu.
“Ya… misalnya gabung di kegiatan yang diikuti dia, ngajak dia kencan, atau… nraktir es krim…” Yap! Ngajak kencan. Aku bisa mengusulkan agar dia mengajak Azmi saja, tapi pelan-pelan aja ngusulinnya… trus nraktir es krim… hah?
“Nraktir es krim?” Aku setengah berteriak.
“He-eh. aku nggak pernah nraktir cewek es krim kecuali adikku dan… cewek yang kutaksir.” My God! Kali ini Evan nggak salting sama sekali. Aku merasakan mulutku terbuka karena bengong.
“Pas aku tahu Bimo sakit, buruan aku gabung di grup kamu, pengen deketin kamu. sekarang yang belum aku lakukan, ngajak kamu kencan, mau kan?”
Aku cuma bengong.
“Kalo aku naksir cewek… kalo aku fallin’ love… itu pada kamu…”
Aku nggak bisa berbuat apa-apa kecuali bengong. Dan entah bagaimana persisnya, emosi yang aku rasakan saat itu adalah gabungan sekian banyak perasaan yang menciptakan keseimbangan dalam diriku sendiri. Kaget, bingung dan satu lagi, bahagia.
***
Sejak saat itu, aku mencoba menghindari Evan. Demi menjaga perasaan Azmi. Tapi aku tidak bisa membohongi perasaanku sendiri. Aku rindu Evan.
Sore itu, setelah latihan, aku tidak bisa lagi menghindarinya. Dia mencegatku di pintu. Akhirnya kami bicara di mobilnya.
“Azmi suka sama kamu, Van.” kataku.
“Terus…?” tanyanya.
“Azmi sahabatku.”
“Jadi, itu alasan kamu menghindari aku?” Aku mengangguk. “Aku cinta sama kamu. Bukan Azmi.” tegasnya.
“Aku ga bisa Van.”
“Karena Azmi?” Aku kembali mengangguk. “Jujurlah Nad. Jujur, sama diri kamu sendiri.”
Aku terisak dalam pelukannya. Ingin jujur, ingin melepaskan semua. Entah berapa lama aku dan Evan berpelukan di dalam mobilnya.
“Aku sayang kamu, Nada. Mungkin ini klise, tapi aku nggak main-main.”
Evan merengkuhku lebih dekat, menyapukan bibirnya di dahiku, mengecup kedua mataku yang terpejam rapat, berhenti di bibirku, melumatnya dalam-dalam. Sentuhan jemarinya di pipiku terasa lembut. Seribu satu ledakan perasaan bermain-main bebas.
Seharusnya, aku mendorongnya menjauh. Seharusnya, aku tidak jatuh cinta padanya.
Namun, kini semua sudah terlambat. Maafkan aku, Azmi.