Interpretasi Puisi “ Hujan Bulan Juni “
Tak ada yang lebih tabah
Dari hujan bulan juni
Dirahasiakanya rintik rindunya
Kepada pohon yang berbunga itu
“ Barangkali hadirnya hujan selalu membawa suasana sendu, terutama bagi mereka yang merindu dalam doa-doa, hingga tiap rintik hujan yang turun, adalah representasi dari tiap rindu yang belum sempat terucap, merupakan bongkahan kecil memori masa lalu yang ingin di ungkapkan pada seseorang sebagai tanda rindu yang paling dalam, hingga tak perlu ada kata diantara kita, hingga hanya doa-doa lirih saja yang jadi rindu kita dalam tabah penantian, aku rindu tapi bisu dan kau menunggu meski ragu, walau tak tahu kapan rindu dan penantian saling meniadakan jadi sebab kebersamaan “
Tak ada yang lebih bijak
Dari hujan bulan juni
Dihapuskannya jejak-jejak kakinya
Yang ragu-ragu di jalan itu
“ Sungguh, dalam tiap pertemuan, kita tak berani bertutur sapa, hanya mampu tersenyum mencoba menerjemahkan apa yang sedang di rasakan, hingga di pertemuan ke berapa, kita sepakat untuk tak bersepakat atas apa yang kita rasakan, kita bagai kontradiksi, merasa tapi ingin mati rasa, meyakini tapi tahu kita ragu-ragu, ah aku memilih bungkam, tetap dalam keterdiaman, tahu bahwa bicara takkan merubah apa-apa, ---- tapi tetap menyimpan rindu. Sudahlah, lebih baik tak tahu tentang apapun yang masing-masing terasa. Biar aku bisu sedang kau membatu “
Tak ada yang lebih arif
Dari hujan bulan juni
Dibiarkannya yang tak terucapkan
Diserap akar pohon bunga itu
“ Tak perlu semua di bicarakan bukan ? cukup tiap laku kita jadi rasa tersirat, tiap tingkah kita terjemahkan, hingga tanpa sadar kita lebih banyak bertindak daripada berbicara, dan dari tiap tingkah yang terlihat kita saling mengagumi, memuji dalam dalam di tiap obrolan kita pada-Nya, tanpa harus saling tahu, mari lebih arif, bahwa laku lebih dirasa hati daripada apa yang keluar dari bibir, bukankah hati hanya bisa di sentuh dengan hati juga ? maka jangan salahkan aku yang tak banyak bicara namun lebih banyak menghormati mu dengan baik. Biarkan tiap gerak gerik kita jadi pengaruh paling besar dalam kebaikan kita di depan sana, tanpa pujian hanya teladan sebagai tanda cinta “.