Tango! : Because It's Always Need Two to Do It.
Alhamdulillahiladzi bini'matihi tatimmush shaalihat.
Menutup akhir Juni dengan syukur. Meskipun tentu saja, hidup ga pernah gagal kasih beragam kejutan dan pelajaran. Walau sambil gedubrak-gedibrak dan kelabakan, alhamdulillah Maha Baik Allah yang sekali lagi memampukanku untuk melewati Juni.
Memulai Juni tahun ini dengan ke-hectic-an, deadline, dan rupa-rupa drama lainnya, akhirnya tibalah aku disini, di penghujung Juni yang justru jadi penanda permulaan bab baru dalam kisah dan perjalanan hidupku ke depannya. Another chapter discovered, yet the bookmark is still in the mid of book.
Aku menyadari, setelah merenungi 6 bulan terakhir ini, mungkin kalo boleh dibilang, secara 'prestige' progresku bukan yang wah dan signifikan nampak dari luar. Dan tentu saja, namanya progres pasti ada ups and downs, gejolaknya, dan apalah itu kamu menamainya. But deep down here, I realized something happened to my inner-self. Sesuatu yang aku sempat kira akan butuh berlapis perjuangan untukku mencapainya, kini perlahan mulai menemukan cahayanya.
Dan itu adalah... pelajaran soal give and take. You're reading it right. I used to think that 'give and take' is soo transactional. Bahwa itu adalah simbiosis yang harus ditimbang secara kuantitas dan kualitas, yang dibangun dalam konteks yang agak mirip serupa hutang-piutang (I guess it's kinda complicated, innit?).
Aku belum menemukan bagaimana mendefinisikannya dengan kalimat yang lebih baik dari ini, tapi dulu aku pernah percaya bahwa kalau seseorang memberi, itu artinya ada sesuatu yang ingin dia minta, entah secara langung atau tak langsung. Such an un-genuine thought, right? Dan pemikiran itu disisi lain bikin aku merasa kalau aku harus selalu 'membalas' tiap pemberian orang lain. Setidaknya dengan hal setara. Atau, kalau aku memberi sesuatu ke orang lain, aku bisa mendengar hati kecilku ini pamrih akan sesuatu hal.
Please do not judge, karena aku tahu, itu adalah pemikiran yang bodoh. Perhitungan yang tidak pada tempatnya. Aku mengakui, pemikiran itu bikin aku malu sekarang.
And this special month of June, once again make me discover something new about myself. Bahwa aku sudah berjalan cukup jauh dari pemikiran itu.
Now, I love how the 'give and take' rules work. Terlebih bagaimana aku menghargai diriku saat menerima pemberian dari orang lain.
Aku (dulunya) selalu berpikir, bahwa kata cinta dan sayang biasa diasosiasikan dengan memberi. You gotta prove to someone whether he/she cares a lot about you or not by giving gift or effort. Bahwa kalau kamu cinta dan sayang, maka kamu harus membuktikannya lewat pemberian. Beri waktu, beri tenaga, beri usaha, beri hadiah, beri pengertian, kalau bisa sih sekalian beri seisi dunia, deh!
Tapi makin tua makin paham (helehh), bahwa memang memberi adalah barangkali cara kebanyakan orang menghargai orang lain yang disayangi di hidupnya. Toh, ga salah juga kalau kita cenderung ingin kasih semua yang terbaik yang kita punya ke orang yang kita cinta/sayang.
But lemme tell you the interesting part. Kalau mereka bilang loving is giving, maka recieving is loving. Gini gini, aku belajar bahwa kalau mencintai itu di-identik-kan dengan memberi, maka menerima adalah bentuk mencintai.
Menerima, punya makna yang deep buatku. Dalam artian apapun, seluas-luasnya. Entah konteksnya menerima ketetapan, menerima pemberian, menerima kesalahan, menerima orang lain, dan lainnya.
Aku pernah di fase sulit sekali untuk menerima ketetapan. Butuh waktu 2 tahun lebih untuk menerima. Dan yang terjadi setelah berhasil menerima? Hatiku lebih lega dan lapang.
Aku pernah mengalami kesulitan untuk menerima pemberian. Karena aku ternyata punya luka 'kecil' tentang penerimaan diri, jadi aku merasa tidak cukup pantas untuk menerima pemberian-pemberian orang lain. Jadi, tiap dapat hadiah atau kado, atau apapunlah itu, aku malah nangis di pojok kamar pas mau tidur. Bukannya aku tidak suka atau gimana, bagiku saat itu memang jauuh lebih mudah untuk memberi daripada menerima. Aku merasa terbebani dengan pemberian orang lain karena merasa takut merepotkan (another 'trauma kecil' discovered).
Dan, aku juga pernah sulit menerima kesalahan. I mean, aku benci merasa kalah dan salah. Padahal memang aku tahu kalau aku berbuat salah waktu itu. Tapi egoku terluka setiap kali aku mengakui kekalahan dan kesalahan. Aku jadi ingat si Arum remaja yang cukup rebell.
Pada akhirnya pelan-pelan alu mengerti, bahwa menerima (apapun konteksnya) adalah bagian dari mencintai dan menyayangi itu sendiri. Bahwa memberi dan menerima adalah kesatuan yang saling melengkapi.
Menerima, artinya kamu berusaha untuk menyayangi apapun yang diberi. Takdirmu, dirimu sendiri, kurang-lebihmu, kekalahan-kekalahan maupun kemenangan yang kamu alami.
Menerima, artinya kamu menghargai dirimu dan orang yang memberimu. Bahwa pemberian mereka pantas dan layak kau cintai, bahwa dirimu cukup dan berharga untuk disayangi.
Bahwa memberi dan menerima, adalah ketulusan yang harusnya bukan sebatas hubungan timbal-balik transaksional semata.
Dear Arum, terima kasih sudah banyak memberi ruang untuk dirimu sendiri selama ini ya. Semoga ruang-ruang kebaikan, penerimaan, dan pemaafan itu senantiasa bertambah luas dan lapang. Semoga kita terus punya ruang untuk belajar dan belajar lagi, punya kesediaan untuk mengosongkan gelas dan mengisinya lagi, lalu terus memurnikannya hingga ia memancar bagai mata air. Doa terbaik untuk mu yaa.
It's always takes two to tango! So let's take every step as a dance and 'tango' it together. Ya, Rum?
(Semarang, 30 Juni 2025. 20:43. Menutup bulan paling spesial seangkasa raya, bertepatan dengan tahun baru Muharram juga. Selamat menulis bab baru ya, Rum! It's already second page, tho.)
(Bonus : lagu untuk semua orang yang merayakan Juni dari one of lyricist romantis Indonesia♡♡♡)