siapa yang patah, siapa yang matanya membasah... . . . #justpoetry #justpoem #kelaspuisi #kelasnulis #proyeknulis #permainanrasa #patahpatah

seen from United States
seen from Argentina
seen from China
seen from Germany
seen from France
seen from Belgium
seen from China

seen from Malaysia

seen from United States

seen from Belgium
seen from China

seen from Israel
seen from Netherlands
seen from United States

seen from Yemen
seen from Israel

seen from United States
seen from Germany

seen from United Kingdom

seen from Malaysia
siapa yang patah, siapa yang matanya membasah... . . . #justpoetry #justpoem #kelaspuisi #kelasnulis #proyeknulis #permainanrasa #patahpatah
Visualisasi puisi adalah bagaimana suatu puisi diinterpretasikan kedalam bentuk gambar atau lukisan. Beberapa waktu lalu saya meminta seorang kawan untuk sekedar menerjemahkan sepotong puisi saya ke dalam bentuk gambar. Inilah hasil karya @arcamus.ink . Yang sedikit membuat saya heran adalah hampir seluruh objek dalam gambar ini, benar tepat sama dengan yang saya bayangkan ketika membuat puisi ini. Padahal waktu meminta si pelukis, saya hanya memberikan puisi mentah (tanpa pesan gambarnya harus begini begitu dll). Saya kagum saja dengan kemampuan imajinasi si pelukis, yang gila-gilaan membaca arah dan segala rasa di puisi saya. . Sepasang kertas melipat dirinya sendiri. Jadi ia sepasang kupu-kupu, terbang dan hinggap di pundak dan pipimu. Mereka menyukaimu, aku juga.. . Follow ig pelukis : @arcamus.ink #visualisasipuisi #interpretasipuisi #lukispuisi #poemverse #poetrydrawing #proyeknulis (di Taman Langit)
Visualisasi puisi adalah bagaimana suatu puisi diinterpretasikan kedalam bentuk gambar atau lukisan. Beberapa waktu lalu saya meminta seorang kawan untuk sekedar menerjemahkan sebuah puisi saya ke dalam bentuk gambar. Inilah hasil karyanya si @arcamus.ink .. . Yang sedikit membuat saya heran adalah hampir seluruh objek dalam gambar ini, benar tepat sama dengan yang saya bayangkan ketika membuat puisi ini. Padahal waktu meminta si pelukis, saya hanya memberikan puisi mentah (tanpa pesan gambarnya harus begini begitu dll). Saya kagum saja dengan kemampuan imajinasi si pelukis, yang gila-gilaan membaca arah dan olah rasa puisi saya. . Sepasang kertas melipat dirinya sendiri. Jadi ia sepasang kupu-kupu, terbang dan hinggap di pundak dan pipimu. Mereka menyukaimu, aku juga.. . Follow ig pelukis : @arcamus.ink #visualisasipuisi #interpretasipuisi #lukispuisi #poemverse #poetrydrawing #proyeknulis (di Taman Langit)
Sengaja
Jakarta, sepertiga dari bulan Juni yang berhujan. Dalam perjalan ke Pondok Cina, aku yang diam mengamati penikmat kereta. Dipenuhi orang-orang yang sibuk menjalani hidupnya, aku memulai bacaanku. Beberapa mata terlihat lelah. Beberapa sedang bersandar letih. Adapula muda-mudi dengan mata berbinar saling berbagi cerita. Dipojok sana, meskipun berkali-kali diteriakkan pembesar suara dari ruang kemudi, seorang wanita paras cantik tetap saja duduk melantai.
Aku ternyata tidak terlalu peduli dengan penumpang lain. Bisaku hanya melihat, membaca, dan menikmati cerita yang mereka buat pada mata. Oh, aku juga bisa membuang sampah disaku tas sendiri.
Dari setiap perjalananku adalah menemukanmu. Karena perlunya kabar tak seberapa. Apa daya jika yang kutahu hanya baik-baiknya dirimu. Melegakan mungkin, tetapi tanpa melihat, aku selalu merindu.
Dan kebiasaanku adalah mencarimu. Dengan sengaja berada di gerbong umum pada setiap perjalanan. Siapa tahu saja, kebetulan sedang bermurah hati. Atau takdir sedang asik bercanda, mempertemukan tatapanku dengan nyata dirimu.
Meskipun kadang aku bosan mencobanya berkali-kali, lalu memilih berjalan menuju gerbong para wanita. Aku yang tekak, tetap kembali kulakukan. Dan jika memang benar, aku hanya ingin menangkap gambarmu yang jelas. Yang sedang duduk, atau berdiri sembari mendengar musik. Selalu kubayangkan, betapa tegas rahangmu, tatapan dingin menawan, dan tegapnya pundakmu.
Dan semoga disuatu perjalanan nanti, aku benar menemukanmu. Yang disana ada senyum penghenti waktu dan pembeku logikaku. Pada Juni yang tidak tanggung-tanggung berhujan, wanita air terlalu merindu tuan Agustus yang tidak peduli apa-apa tentang menunggu atau berharap.
© Jakarta, 19 Juni 2016
Bukan di Dapur-Sumur-Kasur
Beberapa saat yang lalu saya habis baca salah satu akun instagram yang dishare sama teman di Line. Akun berfollower banyak itu beraliran syar'i-syar'i gitu lah, jadi ga heran dong banyak yang suka. You know lah ya, sekarang lagi booming banget soal cinta cintaan, hati-hatian, nikah-nikahan, quote-quote-an, dan konco-konconya. Haha~
Jadi gini, si admin bilang, "Setinggi apapun titel seorang wanita, pada akhirnya juga akan berakhir di dapur. Karena sesungguhnya itu memang hakikat seorang muslimah". Baca itu, saya langsung merinding. saya resah. saya seakan-akan tersambar petir. saya tidak sepakat.
Saya heran aja, masih aja ada yang ngomong soal hakikat-hakikat-an yang ga dianalisis bener-bener. Mungkin aja sih kita beda paham makna hakikat dari hakikat itu sendiri, arti harfiah ataupun istilah dari hakikat. Haha. Tapi nih ya, mana ada hakikat seorang perempuan adalah di dapur (atau, melakukan pekerjaan rumah tangga secara mutlak). Kenapa coba perempuan selalu diidentikkan dengan wilayah domestik? Memangnya dulu bunda Khadijah sama bunda Fatimah mainannya domestik? No.
Sebagai wanita (tsaah~) saya juga sadar (minimal tahu) peran apa yang kelak akan saya jalanin. Sekalipun saat ini saya masih ngeyel-ngeyel ngerjain tugas, nongki-nongki, menikmati masa muda, sambil berdoa semoga dosa saya dimasa silam dimaafin Tuhan, saya sudah punya visi tentang wanita-hebat-yang-menghebatkan yang mau saya jalanin dimasa depan. Dan men-dapur, seperti diparagraf sebelumnya, tidak menjadi bagian dari visi saya.
Hakikat wanita (atau kalau lo lebih suka nyebut, muslimah, yo wes gapapa), itu tuh bukan di dapur atau ngelakuin hal domestik yang mainstream diketahui banyak orang: dapur-sumur-kasur. Hakikat wanita lebih ke pengharapan. Tepatnya, mengharap ridho suami. Kalau suami ridho lo berangkat kerja dipagi hari, masa iya lo masih goreng-goreng di dapur. Kalau suami ridho kita belajar sampai dapat titel Ph.D, atau kalau dia ridho kita jualan, jadi juragan jualan jilbab, ya jalanin.
Ga senang aja dengarnya, kalau kerjaan rumah tangga sebagai kerjaan utama. Saya sih mikirnya, pekerjaan itu bukan jobdesk IRT sesungguhnya. Tapi lebih ke komitmen hidup berpartner. Buat saya, itu adalah aktivitas primer untuk kelangsungan hidup manusia didalam satu rumah. Sama saja dengan lo hidup sendiri, lo harus nyuci baju biar besok bisa pake baju yang bersih. Lo harus beli atau masak nasi, karena lo harus makan biar berenergi. Lo harus nimba air di sumur kalau air PAM berhenti, karena lo harus mandi biar ga bau. Itu daily-chores yang emang semua orang harus lakuin, wanita ataupun pria. Ya bedanya, nanti bakal ada dua-tiga-empat-dst. kepala yang tinggal dibawah satu atap.
Banyak keluarga yang saya tau, mereka tetap saling membantu, dalam hal aktivitas primer untuk kelangsungan hidupnya, seperti yang saya bilang tadi. Ya kalau lo nyuciin baju suami, ya itu karena intimate-feelings, nyinggungnya nanti ke teori kasih sayang, lo bakal berupaya ngeluarin effort dan resources karena sayang, karena emang manusia bakal ngelakuin apapun untuk orang yang dicintainya. Tjieh!
Dan itu semua bukan karena kewajiban utama seorang istri, toh di Al-Qur'an juga ga ada tuh yang menyebutkan hakikat seorang wanita adalah mengerjakan hal domestik, sejelas dan seterang hakikat manusia diciptakan untuk mengenal Tuhannya. Beraaad.
Dan sekarang, persepsi umum soal dapur-sumur-kasur harus dibuang sebuang-buangnya. Bukan karena sekarang bukan jaman Siti Nurbaya lagi, bukan juga karena Masyarakat Ekonomi Asean, bukan juga karena bakal jaman G20 Indonesia. Tapi lebih ke ini: Nikah, yang tujuannya harus untuk menyempurnakan agama, buat main-main, dan mengkayakan diri dengan harta sang mertua, lantas membuat para wanita menghentikan perannya sebagai pemuda dan berkutat di dapur-sumur-kasur. Tapi soal peningkatan kualitas diri manusia ada disitu, berpartner, membangun organisasi yang saling menguatkan dan saling menghebatkan. Dan hal itu saya berani bilang, tidak bakal hadir kalau hakikat seorang wanita hanya bekerja di-dapur. Dan berhubung saya merasa nasionalis banget, wanita yang hebat-dan-menghebatkan orang-orang disekelilingnya akan menghasilkan manusia berkualitas. Kita butuh SDM yang berkualitas, dan ga mungkin orang-orang berkualitas lahir dari guru yang cuma kerja di dapur-sumur-kasur.
Perkenalan
Aku mengenalnya lewat doa Dengan ciri-ciri yang IA lewatkan dalam pikirku Sifat, kemampuan, serta pikirannya Sedikit demi sedikit tertampak dalam tingkahnya Aku mengenalnya lewat doa Selembar harapan yang diminta tanpa nama Lalu kutanyakan lagi Apakah memang benar aku mengenalnya? Aku mengenalnya atau memaksa mengenalnya? Jika harapan sekarang adalah menuntaskan yang wajib masa depan hanya ada di kehendakNYA Mengenal atau tidak mengenalnya adalah takdirNYA Biar IA yang menjawabnya kelak Alhamdulillah masih diberi kesemoatan nulis, sesuai dgn tagline terdahulu Generasi Senja coming soon, in syaa Allah mulai sekarang mulai dicicil. Semoga bener-bener bisa menerbitkan buku nanti. Aamiin