Istri Kedua Part VIII
Lama sudah tak bercerita tentang istri kedua atau apapun nama dan panggilan mereka. Apakah Istri kedua, istri simpanan, atau perempuan simpanan.
Dalam beberapa konteks kehidupan yang saya temui tentang perempuan - perempuan ini, kebanyakan nasib mereka bagai telur diujung tanduk. Apakah bodoh atau tak sadar diri dalam keseharian mereka saya sendiri juga tidak mengerti. Terlena dengan janji - janji manis yang selalu keluar dari mulut para pria hidung belang membuat para perempuan pencari cinta ataukah penjaja cinta sering terpuruk menjadi seorang istri kedua.
Sudah beberapa cerita perempuan istri kedua telah saya tulis di blog sebelumnya. kebanyakan mereka bernasib malang ya... Hanya sebagian yang bahagia dalam hal materi. Tapi kalau hanya materi yang mereka cari saya rasa kebahagiaan mereka telah terpenuhi sebagiannya.
Dan bagaimana dengan nasib para istri kedua lainnya yang secara materi jauh dari kata cukup?
Kebanyakan dari mereka tidak berani untuk mengambil keputusan secara sepihak , karena di bebani dengan tanggung jawab moral telah menjadi seorang ibu , sehingga mereka tidak sanggup untuk keluar dari zona aman yang selama ini telah terpatri di benak mereka bahwa mereka telah berpredikat sebagai istri orang dan seorang ibu yang baik bagi anak2 mereka.
Ironis sekali bukan?
Padahal sejauh pandangan saya menilai rumahtangga mereka sangat jauh sekali dari rumahtangga normal yang biasanya di jalani oleh setiap pasangan suami istri lainnya. Berbeda dengan pasangan2 pelaku poligami yang memang berlandaskan syariah.... Atau setidaknya memang poligami ini telah syah di mata hukum negara dan diakui oleh seluruh keluarga pelaku poligami. Baik itu dr keluarga istri pertama, istri kedua atau selanjutnya dan juga oleh keluarga pihak suami tentunya.
Karena praktek poligami mereka sudah tidak dilakukan secara sembunyi - sembunyi. Hal ini sangat tidak merugikan semua pihak. Dan tentu saja praktek poligami seperti ini sangat berat sekali untuk di lakukan secara ikhlas...
Hanya beberapa gelintir manusia yang beriman kuat dan tingkat kesabaran yang ekstra tinggi dapat menerima dan melakukan hal - hal seperti ini.
Apapun ceritanya menurut saya menjadi istri kedua seseorang hanya karena harta nya belum tentu akan menjamin kehidupan tersebut akan bahagia.
Karena bila seorang perempuan telah dinikahi , biasanya secara psikologis naluri seorang istri itu akan timbul secara tidak disadari. Dan apabila Ia tertipu oleh pria hidung belang yang pengecut yang hanya bisa mengucap janji - janji surga tanpa bisa mewujudkan janji - janji tersebut. Habislah wanita tersebut.
Hanya berharap kapan keadaan akan membaik .... Menunggu dan menunggu yang tidak pasti. Sedangkan sang suami hanya menikmati kehidupan dilayani oleh sang istri muda nan jelita bagai seorang raja tanpa istana.
Aneh ya?
To Be Continued.....
Senin, 28 November 2016











