Yang Gak Ada Ujungnya
Setiap bapak pasti mempunyai pesan dan misi yang ingin disampaikan kepada anak-anaknya. Entah itu berupa ucapan yang selalu diulang-ulang, atau mungkin melalui tingkah laku tindakannya.
“Belajar tuh emang capek, tapi enggak belajar justru lebih capek”
Berulang-ulang kali Ayah menyampaikan pesan ini.
Nasihatnya sederhana, tapi dalam dan kuat.
Tidak heran saat umurnya di pertengahan kepala lima, Ayah memilih untuk melanjutkan kuliah strata 3. Alasannya sederhana, “Ayah mah seneng kalo kuliah tuh, nambah semangat walaupun di kelas jadi yang paling tua haha”
Di saat bapak-bapak berusia 55 tahun duduk santai menunggu masa pensiunnya, Ayah malah memilih untuk melanjutkan kuliah. Katanya gak ada kata telat, gak ada kata ketuaan.
Tentu saja ini menjadi motivasi bagi kami sebagai anak-anaknya. “Di kampung kita itu sarjana sudah banyak, tapi Doktor bisa dihitung jari, makanya jangan berhenti belajar, barangkali dengan ini kita bisa bermanfaat”
Akhirnya saya memahami nasihat “belajar tak kenal usia” dari seorang bapak sekaligus motivator sehari-hari.
Bahwa belajar itu ujungnya ya ketika kita mati nanti. Minal mahdi ila lahdi.
Sehat-sehat, pak Doktor!













