Isyarat
Sudah sekiranya 52 hari Kerajaan Arab Saudi menerapkan aturan -di rumah saja- secara bertahap. Sejak diberlakukannya aturan ini, siklus hidup saya semakin itu-itu saja. Kamar-dapur-toilet, toilet-kamar-dapur. Membosankan.
Tidak ada yang menyangka bumi akan berubah dalam kurun waktu secepat ini, masih ingat sekali obrolan bersama teman asal Libya saat merencanakan untuk beritikaf di Masjidil haram pada Ramadhan tahun ini.
“Nanti kita tunda dulu ya tanggal perpulangan kita Itmam, kita nikmati akhir Ramadhan ini di Masjidil haram” ajaknya.
Qadarullah, kali ini semesta sedang tidak mendukung. Virus covid-19 secepat itu menyebar ke titik-titik negeri. Dan saya masih disini saja, dalam kubikel 4×6 dan tidak kemana-kemana.
Padahal antara saya dan Masjidil haram terhalang 438km saja. Cukup memakan waktu 5 jam perjalanan menggunakan bus. Antara saya dan Masjid nabawi lebih dekat lagi, hanya sejarak 7,7km dengan 20 menit saja menaiki bus kampus.
Tapi di masa pandemi ini, segala hal jadi terasa lebih jauh dari biasanya bukan? Jarak dan waktu seakan-akan tak lagi bermain peran.
Benar kata para pujangga, ada beribu rindu yang lahir dari sebuah jarak. Ada berjuta cinta yang mekar dari sebuah jeda.
Tapi dibalik rindu-rindunya kita pada apa dan siapa, nyatanya ada yang lebih merindu.
Ialah rindunya Allah pada setiap hambaNya.
Maka dibuatlah jarak, sebagai isyarat agar ibadah kita tumbuh berkali-kali lipat dari biasanya, agar sholat kita lebih khusyuk dari yang lalu-lalu.
Diciptakanlah jeda, sebagai isyarat agar kita tak lagi-lagi lupa nikmat dan tujuan, agar kita mengerti bahwa apa yang terjadi semata untuk kembali lebih mengingat ke-Maha-annya.
Maka saat bumi sudah pulih nantinya, semoga kita lebih bersyukur atas nikmat bernafas dan bersafar tanpa harus khawatir apa-apa.
Madinah, 29 Ramadhan 1441H













