Makna Kembali
Suatu proses perulangan, membuat kondisi seperti sedia kala, setidaknya itulah definisi Kembali menurut KBBI.
Mungkin kata ini terdengar sederhana, tapi sejujurnya aku sedang banyak memikirkan makna di baliknya. Berawal dari kedatanganku pada sebuah Konser Grup Nasyid legendaris, Izzatul Islam (Izzis) pada Januari lalu. Konser itu bertemakan ‘Kembali’. Menurutku, Izzis dan tim sangat apik membuat alur dan konsep, sehingga benar-benar sampai maknanya dan terasa euforianya (minimal terhadapku :))
Aku yakin, mereka bukan hanya mengadakan konser itu untuk mengingatkan kita semua akan karya-karya mereka terdahulu yang terus menjadi penyemangat dalam perjalanan ini, tapi ada sesuatu yang ingin diingatkan. Setidaknya, inilah yang kutangkap dan menurutku related dengan kondisi(ku) saat ini.
Kembali Merenungi Setiap Kondisi Layaknya bus antar kota yang siang-malam harus terus melaju untuk sampai ke tempat tujuan tepat waktu, sepanjang perjalanan apapun itu, pasti memerlukan pemberhentian. Begitupun kita, perenungan juga merupakan bagian yang penting dalam perjalanan hidup ini. Dan sudah sepatutnya, kita kembali merenungi apa yang sedang terjadi di sekitar kita, masalah apa yang masih terjadi, pada diri maupun lainnya, terkhusus umat muslim saat ini..
Ya, salah satu masalah umat saat ini ialah; Palestina yang belum bebas merdeka dari tangan-tangan Zionis. Kembali merenungi, di saat diri masih bisa merasakan kesenangan dan nikmat ini-itu, saudara-saudari kita di sana masih diselimuti rasa takut setiap malam, baik karena ulah tentara zionis ataupun peluru-bom yang mungkin sudah bersiap musuh lesatkan.
Padahal mukmin satu dengan lainnya bagaikan satu bangunan, di mana harus saling menguatkan. Ya Rabbi.. lindungi umat muslim di manapun mereka berada. Mari kembali perjuangkan, membantu secara konkret, dan terus mendoakan saudara-saudari kita di sana. Izzis juga menceritakan pengalaman mereka melakukan konser kemanusiaan pertama di Al Azhar, Kairo. Mereka juga sangat tersanjung ketika dapat tampil di depan pejuang Gaza. Kembali Memaknai Perjuangan Bagi siapapun yang sedang menempa diri dan menempuh perjalanan perjuangan panjang, akan ada saat di mana kita merasa bosan dan bahkan mengaku lelah. Di saat itulah, kita mestinya bisa lebih memaknai perjuangan. Ingatlah, lelah yang dirasa ialah sementara. Kita hanya mengharapkan kebaikan yang abadi, untuk nantinya.
Ingat dan maknai perjuangan kemarin. Para pendahulu atau mereka yang sudah lebih dahulu merasakan perjuangan inipun, memang mengakui bahwa jalan ini panjang dan melelahkan. Maka, terus bersikap lemah ialah sikap yang keliru. Bukan kekhawatiran dan kelemahan yang harus kita besarkan, tapi tekad dan cita-cita perjuangan kita yang harus terus menerus dihidupkan dan dikuatkan.
Kembali Memaknai Peran
Sekarang ini, kita dihadapkan pada kondisi mesti mengisi peran, namun tidak sepenuhnya menaruh hati pada peran tersebut, dan akhirnya menimbulkan masalah.
Misal, dalam konteks keluarga. Ayah yang hanya berperan sebagai pencari nafkah bagi keluarganya, belum bisa dirasakan keberadaannya oleh anak-anaknya. Ambillah contoh, ketika Senin-Jum’at sudah sibuk dengan urusan kantor, lalu weekend yang seharusnya diisi dengan banyak interaksi dengan istri-anak, ia hanya ingin mengistirahatkan badan dan pikirannya. Ketika si anak bertanya sesuatu, ayah terus-terusan asyik dengan gadget-nya. Itu semua karena ayah hanya menjalankan perannya sebagai pencari nafkah. Seharusnya, orangtua bisa lebih banyak memberikan sentuhan dan perhatian langsung sebagai bukti cintanya kepada keluarga. Begitupun dengan kekurangan pasangan. Bukan malah ‘menyerang’ kekurangannya, tapi kitalah yang harus sadar untuk melengkapinya, sehingga tercipta keluarga bahagia yang utuh.
Kembali sadar apa yang harus dilakukan dengan menjalankan peran-peran kita ialah kuncinya. Peran yang tidak sebatas amanah, tapi peran yang kita juga melakukannya dengan cinta. Kitapun, harus siap ditempatkan di mana saja, dengan siapa saja.
Hidup ialah tentang memainkan peran. Siapa yang meminjamkan pinjaman yang baik, maka akan Allah kembalikan dengan pinjaman yang lebih baik.
Jadi.. begitulah makna Kembali yang kudapat dari konser kemarin. Jazaakumullah khairan katsiran Izzis & tim, umi yang beliin tiketnya, adik yang menemani konser kemarin, dan lainnya.
Mari merenungi, memaknai, dan bersiap berperan kembali :)
-hq














