Suatu Titik.
Sorang teman mengunggah foto suami ny dengan tulisan bahwa ia sangat mengagumi dan meneladani nilai2 baik yang suami ny ajarkan.
.
Sebuah pertanyaan muncul di kepala, “Bagaimana journey seseorang dapat menganut suatu nilai ?”
.
Lalu ingatan langsung muncul dari penyimpanan di kepala, “Hidayah hanya datang dari Allah, sekeras dan sebesar apapun orang lain mengusahakan hidayah untuk orang lain”.
- - -
Tiap orang punya pengalaman hidup yang berbeda-beda. Bahkan jika pengalaman hidup nya sama, apa yang dirasakan dan dipikrkan orang yang satu dengan yang lain nya akan berbeda.
Banyak orang jatuh cinta. Tapi kadar nya berbeda2. Apa yang dirasakan dan dipikirkan ketika jatuh cinta juga berbeda.
Sebagian besar orang merasakan bangku sekolah. Namun apa yang disarakan dan dipikirkan saat bersekolah berbeda-beda.
Nilai hidup orang juga berbeda-beda. Pengalaman memberi andil dalam hal ini, tapi bukan hanya pengalaman aja.
Cara seseorang menganut nilai juga berbeda-beda. Ini menjadi formula yang masih misteri. Kita hanya bisa mengupayakan. Maka nya ada cara2 untuk menganut suatu nilai agar melekat di dalam diri seseorang. Kaya misal nya tolong-menolong sebagai salah satu representasi dari nilai kekeluargaan.
Namun korelasi antara teknis dan substansi tidak selama nya berkaitan. Sebagian anak2 melakukan sholat karena takut dengan orang tua nya marah. Secara teknis merepresentasikan keIslaman, namun secara substansi tidak. Seiring waktu baru diajarkan tentang substansi shalat dan mengapa harus shalat. Tapi jika sampai dewasa ia shalat karena takut orang tua marah bisa jadi substansi nilai nya tidak tertanam.
Teknis ini seperti resep. Ia dibuat agar pelaku teknis akan mendapatkan nilai yang dituju. Namun terkadang kita lupa bahwa untuk menuju suatu nilai, bisa jadi masih banyak cara lain.
Seperti angka 10, bisa didapatkan dengan teknis mengalikan satu dengan sepuluh (1 x 10), atau bisa dengan 40 - 3, atau bahkan (COS 3342 + 863) 0 + 10.
Jika suatu nilai diibaratkan adalah puncak gunung, dan teknis (mengajarkan nilai) adalah peta trek pendakian, maka kita harus mencapai titik pendakian yang dimaksud dulu, sebelum menggunakan peta itu.untuk menuju puncak.
Terkadang kita tidak tahu di mana kita berada. Lalu menggunakan peta orang lain untuk sampai puncak, lalu kita tersasar.
Agak nya kita hanya harus melihat puncak, bagaimanapun kondisi medan yang ada pada trek pendakian kita sendiri
Begitu juga dengan suatu nilai. Keteladanan kita pada suatu nilai adalah puncak. Cara untuk mencapainya dengan hanya mengikuti puncak, seberat apapun cara kita menuju puncak, nilai yang ingin kita tuju.
- - -
Boleh jadi tulisan ini meracau ke mana-mana. Karena dibuat pas mau tidur tapi ga ngantuk ngantuk. Eh malah jadi pengen makan mie instan sekarang. wkwkwkwkwkwk
Salam super(mie)










