Ketika Lukisan Menjadi Tulisan
Ini adalah pengalaman pertama saya mengunjungi sebuah pemeran lukisan. Saya tidak pernah membayangkan sama sekali bahwa saya akan datang ke tempat yang memang tidak menarik perhatian saya. Sejujurnya saya tidak mengerti mengapa lukisan-lukisan yang sering dipamerkan itu dibanderol dengan harga selangit, tidak masuk di logika saya. Tapi semua itu berubah seiring senandung ibu pertiwi di pemeran lukisan tersebut. Ketika pertama kali masuk ke pemeran lukisan di Galeri Nasional Indonesia, susana hati saya seolah terbawa oleh alunan indah suara ibu pertiwi. Ibu pertiwi berkisah di setiap rangkaian-rangkaian lukisan yang terpampang di setiap sudut dinding ruangan. Baru kali ini saya menyaksikan keindahan yang nyata yang diterjemahkan melalui sebuah lukisan. (lihat di: http://jadimandiri.org/2017/08/02/pameran-koleksi-lukisan-istana-2017/ )
Lukisan pertama yang saya lihat adalah lukisan Pantai Flores karya Gamal Abdullah. Di dalam lukisan tersebut tampak digambarkan sebuah karya Tuhan yaitu keindahan alam yang belum terjamah oleh industri pariwisata. Semua masih alami dan suci, menatapnya lebih lama akan membuat anda seperti menerjang ruang dan waktu menikmati deburan ombak serta sayup-sayup angin yang melambaikan daun-daun pepohonan. Semilir angin di ruangan itu menambah imajinasi menjadi serasa nyata.
Kemudian di balik kerumunan orang-orang yang sedang menikmati keindahan lukisan, saya menangkap sebuah lukisan yang sedang coba di-capture oleh salah seorang pengunjung, terlihat dari jauh lukisan tersebut seperti gelombang atau semacam terasering, ternyata itu adalah lukisan Pemandangan di Sulawesi karya Henk Ngantung yang menggambarkan keindahan perbukitan bernuansa hijau yang membelah dunia, menyejukkan setiap mata yang melihatnya.
lihat >>> ( https://nugroz10.tumblr.com/image/164822698311 )
Setelah melihat lukisan misterius tersebut, saya semakin menikmati lukisan-lukisan lainnya, seperti ada zat adiktif yang begitu menggelora meracuni setiap aliran pembuluh darah tubuh ini. Hingga pada akhirnya saya sampai pada suatu lukisan yang membuat saya seperti berjalan pada sebuah jalan setapak, menatapnya lebih syahdu membuat kita seperti masuk ke dalam lukisan.
Hampir setiap langkah di ruangan-ruangan Pemeran Lukisan itu, saya selalu berhenti di titik saat mata terpukau dengan keanggunan lukisan yang terpampang. Mungkin hampir setiap lukisan di sana bernyanyi bersenandung syahdu dalam heningnya ruangan yang temaram, dampak dari peraturan di pemeran lukisan ( http://jadimandiri.org/2017/08/05/tidak-boleh-dilakukan-di-pameran-lukisan-istana/ ). Di dalam renungan itu saya berhenti tepat di depan lukisan yang membuat saya tertegun, seperti melihat keelokan seorang wanita dan saya jatuh hati. Wanita Berkebaya Hijau karya M. Thamjidin ini berhasil membuat saya kembali ke jaman SMA. Kasmaran, melihat wanita di dalam lukisan itu seperti jatuh cinta pada pandangan pertama. Begitu halus dan sempurnanya pelukis menggambarkan dan menonjolkan sisi terbaik dari wajah seorang wanita, dipadukan dengan lukisan liontin hijau di dada yang meruntuhkan segala keangkuhan kita. Ini wanita cantik luar biasa.
Dan setelah lukisan tersebut, seperti antiklimaks saya berhenti tepat di depan lukisan Njai Roro Kidul karya Basoeki Abdullah. Kebalikan dari lukisan sebelumnya, justru dalam lukisan ini saya melihat kehebatan Basoeki dalam merepresentatifkan keangkeran legenda Nyai Roro Kidul. Sisi-sisi abstrak tergambar mewakili kemisteriusan sosok Nyai Roro Kidul ini. Terlihat cantik memang, tapi penuh misteri.
Lihat >> ( https://nugroz10.tumblr.com/image/164822727926 )
Lelah sudah menuju akhir ruangan saya menyadari bahwa lukisan mampu menyampaikan setiap pesan ataupun arti yang tersirat, tentunya merujuk pada tujuan pelukis, apa yang ingin disampaikan dan apa pesan yang terkandung dalam lukisannya. Terlepas dari hal itu, pada artikel ini saya hanya ingin menterjemahkan arti keindahan dari sebuah lukisan melalui sebuah tulisan. Namun pada akhir langkah saya sebelum keluar ruangan pameran, langkah saya justru terdiam seketika saat melihat lukisan Jika Tuhan Murka, lagi-lagi karya Basoeki Abdullah. Lukisan ini menggambarkan manusia yang sedang panik dimana bumi dikelilingi kobaran api dan gumpalan asap, yang lainnya seperti terpanggang. Lukisan beraura mengerikan ini seperti mengkondisikan jika kiamat terjadi, bumi runtuh, bebatuan hancur, asap dan api seakan memburu manusia-manusia berdosa. Saat itu tak terasa air mata saya menetes mengingat sang pencipta. Tuhan menciptakan manusia sebagai khalifah yang seharusnya senantiasa menjaga keseimbangan alam, menghindari konflik dan peperangan, sepertinya Basoeki mengajak manusia agar berinstropeksi diri agar adzab Tuhan tidak datang di muka bumi ini.
Di akhir petualangan pameran lukisan, saat matahari kembali terlihat, dan saatnya kembali ke dunia nyata. Saya tersadar bahwa semua keindahan itu semua datang dari Tuhan, Tuhan lah yang menciptakan keindahan, maka seyogyanya kita sebagai manusia wajib menjaga dan melestarikan seluruh keindahan karya Tuhan yang ada di muka bumi ini.