Film sesi terakhir JAFF di jogja, yaitu Urbanis Apartementus sebagai special screeening. Saat itu mulai diputar sekitar jam 19:15, sebelumnya para penonton sudah membanjiri depan pintu Teater 5 di EMPIRE XXI sejak 30 menit, kebanyakan para mahasiswa Jogjakarta yang sangat antusias melihat film ini, yang sebelumnya sudah discreening di Festival Balinare, di Denpasar Bali. Beruntunglah saya mendapatkan tiket saat-saat terakhir oleh salah satu sutradaranya.
Well, Dikatakan ( salah satu sutradaranya "Dimas Prasetyo" ), film ini dibuat oleh 40 pembuat film pemula yang berasal dari berbagai kota seperti Jakarta, Bandung, Yogyakarta, dan Malang. Setiap Plot Major / segmentnya dikerjakan 4 sutradara muda Dimas Prasetyo bergaya Geek ala Scott Pilgrimnya di @Apartemen1203, Vanny Rantini dengan Sepasang Pintu, Perawan Dangdut dengan pendekatan post feminish Indah Harahap , dan terkahir Night Shiftnya Catra Wardhana dan disupport oleh 2 co-director Vonny Kanisius dan Rika Permatasari.
Ok, Catatan untuk diketahui proses pemilihan ide cerita dari dropbox yang datang dari berbagai kota yang akhirnya berkembang menjadi kisah apartement pengembangan ceritanya dibuat oleh script writer.
Sekedar review saja, bukan spoiler, karena masih banyak yang belum menonton, film diawali dengan animasi tentang manusia membuat sebuah komunitas yang berkembang menjadi perkampungan dan terbentuknya sebuah gedung apartemen. Kemudian masuk pengenalan tokoh - tokohnya lewat Rindra sebagai Narator dalam film ini lewat aktifitas jejaring sosial, dipercantik dengan animasi model Scott Pilgrim, @Apartemen1203 adalah nama akun dari "seleb" jejaring sosial switter. Diceritakan kalau Rindra berusaha untuk move-on dari mantannya dengan menguasai permaianan kartu, serta tak lupa menyelingi memberikan tips ala anak muda kepada warga Apartemen akunnya. Dalam segment @Apartemen1203 memiliki twist yang bikin surprise yang bakal nggak kepikiran sampai saat keluar jawaban diendingnya ketimbang segment lainnya tanpa tidak melupakan segment Night Shifter, jadi pasang kecurigaan kamu / kalian di segment ini :) * sorry spoiler kang Dimas *
Kemudian di-mix di segment Sepasang Pintunya Vanny, berkisah tentang hubungan tetangga kamar yang saling berhadapan, seorang wanita muda ( diperankan oleh Poppy Sofia ) yang tomboy yang mengejar passionnya menjadi seorang DJ karena tidak didukung akhirnya minggat dan tinggal di apartemen kemudian di tabrakan oleh kisah seorang ibu yang merasa kalau dia dikurung oleh anaknya sendiri di kamar apartemen, sebuah kisah dimana sebuah kenyamanan kekeluargaan dapat tumbuh di Apartemen yang secara umum terlihat identik dengan anti-sosial, saya melihatnya terdapat harapan atau mencoba memberikan penilaian lain terhadap tatanan komunikasi sosial dari pandangan lain / dari sutradara, SEEING IS BELIEVING, dont judge something if you not there.
Mix segement berikutnya adalah garapan Indah Harahap, bertindak sebagai sutradara sekaligus penulis skenario segment Perawan Dangdut. Bahkan, Indah turut menciptakan lagu dan goyangan untuk karakter Kartika. Bercerita tentang seorang Artis dangdut dari pelosok kemudian datang ke Ibu kota berpacaran dengan seorang anak petinggi partai yang oleh petinggi partai tersebut sedang berkampanye, menyinggung masalah Tes Keperawanan. Dalam segment ini disuguhkan banyak adegan lucu, yang di mix dengan segment lainnya, juga segment yang paling menonjol dari keseluruhan film, dan mewakili semua pesan yang ada di semua segment.
Catra Wardhana, sutradara Night Shift sebuah segment yang mendistorsi dan menjadi fetish dalam pengemasan semua segment, cukup kompleks serta, maaf saking distorsinya agak tak jelas fungsi segment ini. mulai dari interaksi koplak 2 satpam mirip duet sponge-bob dan patrick, kemudian ditambah adegan zombie yang disuruh berlari - lari oleh sutradaranya yang juga dikejar dealine film festival. Dan adegan sepasang manusia ( bukan kekasih ) yang si wanitanya kecanduan obat - obatan membuat susah teman prianya sampai menjual harta bendanya. Segment yang sangat menarik sebenernya, saking banyak twistnya.
Secara overall, Film ini lumayan untuk penikmat anak remaja sampai dewasa ( bawah 30thn ) karena suguhan pesan filmnya yang memang dikhususkan untuk segmentasi usia tersebut. Secara plotting mungkin untuk movie maker pemula kelas industri bisa dinilai tidak mengecewakan, karna beberapa, menurut saya sering miss pada perpindahan segment, kurang pas.
* Thanx buat tiketnya Samid, Coffee Creamnya Ithong, Jogja, JAFF, dan gerimisnya.