Catetan Minggu: Sebaris Noktah Noktah itu titik, tetapi noktah bisa membentuk barisan. Bukan barisan noktah yang akan saya bahas tetapi titik perhatian dalam berkomunikasi. Sebagian dari kita pasti pernah melihat suatu gambar yang semua berwarna putih tetapi ada satu titik hitam di tengahnya, "a black dot in a white paper". Kemudian ada pertanyaan: apakah yang kamu lihat pada gambar ini? Jawabannya pastilah "satu titik hitam" itu. Padahal ada warna putih yang jauh lebih dominan daripada titik hitam itu. Hal ini mengartikan bahwa kita lebih fokus pada satu hal yang berbeda (warna hitam dianalogikan "hal yang buruk") 😈 daripada banyak hal dominan yang, bisa jadi, jauh lebih baik atau dianalogikan "hal yang baik" 😇😇😇 Sadarkah kita pada era komunikasi ringkas melalui Whatsapp, Telegram, Line dlsb kita menemukan banyak hal yang serupa. Dalam percakapan daring langsung atau dalam group sering kali kita menerima ucapan "selamat pagi", kiriman doa akan kebaikan dan kebahagiaan, tulisan harapan akan kesehatan, kekhawatiran akan keselamatan, dan banyak lagi yang serupa. Tetapi sejauh mana kita meresponsnya? 🤔 Ada yang mengirimkan doa, kita diam. Ada yang mendoakan kebahagiaan, kita abaikan. Tetapi saat mana ada yang mengirimkan satu baris kata-kata yang tidak kita suka, bagaimana respons kita? Balasannya hampir pasti adalah membalas akan hal tersebut dengan berbaris-baris panjangnya. Begitukah? 😔 Ini adalah serupa dengan reaksi saat kita ditanya mengenai apa yang kamu lihat pada gambar putih bernoktah hitam tadi. 😐 Bagaimana dengan saya sendiri? Dalam hal merespons sapaan-sapaan baik seperti tadi, reaksi saya keseringannya adalah berdiam diri karena "diam adalah emas"... 😁😁😁 Pandu Raya Bogor, Des 1, 2019 #jakasembung #ayopiknik https://medium.com/@httsan/sebaris-noktah-2cb13375d71b (at Tugu Rimau dempo) https://www.instagram.com/p/B5hYB_jgyiD/?igshid=6xbruhfb7dsy











